“Terima dan jalanilah semua ini dengan lapang dada”. Ada sebutir permata meleleh bersama belaian tangan kasih sayangnya. Kasih yang tulus dan agung, melebihi kisah kasih Qays dan Laila. Sayang yang begitu jujur dan melimpah, melampaui cerita-cerita sayang sang pecinta sejati terhadap kekasih tambatan hatinya. Kasih sayang yang tak terhingga sangatnya. Tak ada yang sanggup menandingi, kecuali Dzat yang maha kasih.
Ingin aku berteriak, memuntahkan semua yang aku rasakan; terlalu sulit untuk kuterima begitu saja apa yang menimpa diriku. Begitu sulit untuk aku tapaki jalan yang terasa terbelah ini. Seperti empedu yang harus aku telan. Sekali lagi, ingin aku bereriak, tapi aku tak sampai hati. Sebab rak itu, fentilasi, bantal, kasur, buku, dan langit-langit kamar kecilku. Semuanya bermuram durja. Seakan baru saja tertimpa nestapa. Menatapku sedih, turut berduka atas apa yang telah kehidupan goreskan untukku. Tak satu pun dari mereka tersenyum, apalagi tertawa sampai terbahak-bahak.
“Cepat sembuh ya!”. Seakan tanpa beban mereka lepaskan kalimat itu. entah sudah berapa banyak mereka taburkan tembang yang kadang membuatku risih. Namun terkadang sejuta kesedihan sanggat entah kemana. Semerbak mawar, sepeluk cahaya, kembali bersemi dalam senyap yang terjelma. Membunuh virus-virus kesah hati. Mereka seperti malaikat, sayup-sayup melantunkan bait-bait indah, menumbangkan ekamatra kegalauanku.
“Teman-teman, sanak keluarga, tetangga, dan sahabat-sahabat karibku datang menjengukku silih berganti, hanya untuk menebarkan kata-kata sabar untukku? Hanya itu?” gumamku. Jiwa ini seakan menginginkan sesuatu yang lain dari mereka. Bukan bahasa yang hanya bisa menenangkan batinku semata. Tapi entahlah! Aku sendiri tak tahu itu apa. Namun yang pasti, kesunyian jiwa sering kali membuat aku jenuh. Bantal dan selimut yang selalu bisu juga tidak bisa menghadirkan sabar di dada.
“Tapi itu dulu. Sekarang kau lihat sendiri, mereka sudah sibuk dengan berbagai hamparan urusan mereka masing-masing. Untuk apa mereka menjengukmu? apalagi menghiburmu. Buang-buang waktu saja. Kamu itu hanya laki-laki tidak berdaya, tidak ada gunanya; tidak bisa mencangkul, menyabit rumput di sawah, membantu tetangga membangun rumah, apalagi sampai mengejar maling!. Jadi, bagi mereka kau sudah tidak ada dalam agenda kerja harian mereka. Bagi mereka kau sudah mati”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Orang di anggap berguna, jika bisa mempergunakan dirinya untuk orang lain. Dan, hanya orang-orang bergunalah yang berhak tinggal di dunia ini”
“Apa maksudmu?” dengan sekuat tenaga aku mencoba mengejar suara yang entah milik siapa dan dari mana datangnya itu.
“Apa maksudmuuuuuuuu?” dengan sisa suara yang ada, aku mencoba menangkap suara yang mulai pupus itu.
“Ada apa, Di?!” dengan segelas air putih-bening di tangan, kulihat sesosok tubuh yang sudah mulai termakan waktu. Tak sedikitpun tampak kehawatiran dari wajahnya yang mulai jelas bergaris-garis. Seakan mengisyaratkan sesuatu yang begitu dalam jika dihayati. Mungkin ia sudah terbiasa dengan apa yang kerap kali mengunjungiku; Berteria-teriak, menangis, ataupun murung. Setelah meletakkan air itu di meja sisi tempat aku terkulai, ia pun pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin ia sudah paham terhadap apa yang hendak aku ceritakan. Ia tahu tentang diriku, melebihi siapapun. Bahkan mungkin aku sendiri.
“Tidak! Itu bohong! Bohong! Bohoooong!” teriakku, mencoba mematahkan keangkuhan kalimat-kalimat terkutuk itu yang tiba-tiba menggema. Memecah kekhusyu’an yang mulai tertoreh dalam jazirah jiwa. “itu tidak usah kau hiraukan, apalagi kau percaya” bisik hati kecilku.
“Jangan terlalu larut memikirkan sesuatu. Kau harus bisa menatap kenyataan ini dengan suka cita”. Suara lembut itu menghantam kesunyian hayalanku. Membelah kekerasan batu-batu kegamangan. Melelehkan kebekuan darah dalam tempurung kepala. Mengatupkan pelupuk-pelupuk tatapan kosong.
Namun tak sebaris bahasapun sanggup aku lukis. Sebab, serangkaian paragraf itu kupikir tidak untuk aku tanggapi. Tapi untuk disimak baik-baik. Direnungkan, kemudian dipertimbangkan matang-matang.
“Sudahlah!. Ini, sarapan dulu. Kalau mau mandi, di luar sudah Ibu siapkan air hangat. Ibu pergi dulu, ngantarkan sarapan Ayahmu ke sawah”.
Mataku kuyup. Dengan kaki kiri penuh lilitan perban, juga sebatang kayu mirip tongkat, turut membantuku berjalan, melakukan seperti apa yang Ibu katakan. Walau begitu sakit kurasa, aku tak perduli, asalkan Ibu bisa tersenyum melihat aku berusaha menjalani cobaan ini dengan tegar dan sabar.
Aku menyesal, saat aku sehat dulu; bisa berlari kesana kemari. Justru hanya membuat mereka resah, bahkan sesekali sedih, atau bahkan menangis, melihat kelakuanku yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang manusia dalam suatu tatanan terkecil dalam masyarakat. Membentak, membantah, dan tidak tahu sopan santun. Hanya itulah yang aku rasakan selama ini, yang sering kuperbuat pada mereka. Namun, hal itu tak membuat kecanggihan kasih sayangnya pupus. Justru semakin gila mengasihiku.
“Astaughfirullahal’Adhim! Betapa sayangnya ia. Di saat sibuk seperti ini pun masih sempat memperhatikanku yang sudah tidak berdaya ini”. Batinku.
“Assalamu’alaikum…” suara merdu itu kembali menggema. Menelusup ke setiap ruas-ruas lamunan. Bak angin pagi yang selalu mengabarkan kesejukan.
“Wa’alaikum Salam…” jawabku bersemangat.
“Bu… Aku ingin mengatakan sesuatu”
“Katakanlah!”
“Bu! Aku…ak…aku…” entah mengapa, tiba-tiba lidah terasa kelu. Sejuta ba’it yang sempat terangkai rapi dalam keheningan imajinasi seakan hancur lebur tersambar petir keraguan. Aku bingung, apa yang mesti aku ucapkan, dan bagaimana aku memulainya. “Katakanlah! Bukankah ia mencintaimu?” kembali hatiku ikut campur
“Kata orang-orang, hal tersulit dalam melakukan sesuatu adalah memulainya. Kamu harus memulainya. Harus!” gugah hatiku.
Tanpa pikir panjang, aku menekukkan kedua lutut, tepat di depan kedua kakinya. Rasa sakit pada kakiku tak sedikitpun kuhiraukan adanya. Lalu, lelehan dingin pun mengalir dari kedua pulupuk mataku. Membasuh kedua tangannya yang keras. Sekeras tanah-tanah gersang di sawah akibat lamanya tak tersentuh air. Sebuah pertanda bahwa betapa keras perjuangannya untuk menghidupiku. Namun, begitu lembut kurasakan.
“Ada apa Di….?!”
Tak sanggup aku menjawabnya. Aku masih lena dalam belaian tangan mesranya. Tenang, tentram, damai dan syahdu kurasakan, bersimpuh dalam kehangatan pelukan kasih sayang yang teramat mulia itu.
“Ada apa sebenarnya?! Bicaralah! kalau kau diam seperti ini, bagaimana aku bisa mengerti apa yang hendak kau sampaikan pada Ibu? Sebab, Ibu tidak bisa membaca air matamu, Dira”
“Maafkan aku Bu!” batu besar seakan baru saja enyah dari jiwaku. Terpelanting jauh entah dimana sanggatnya.
“Bu…! Maafkan aku, aku telah melakukan banyak salah padamu. Kata-katamu tak pernah aku hiraukan. Nasehatmu selalu kuabaikan. Sudah berulang kali aku melukai perasaan Ibu. Maafkan anakmu yang durhaka ini, Bu…”
“Bu! Aku tau aku salah. Anak durhaka. Hukum aku Bu… Apapun itu akan aku terima. Tapi aku mohon, sudilah kiranya Ibu membukakan pintu maaf untukku. Anakmu”
Tak henti-henti mataku mengalirkan buliran air bening penyesalanku. Tersedu hingga tak sanggup lagi aku mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Dadaku terasa sesak.
“Sudahlah anakku..., kamu tak pernah bersalah pada Ibu. Hanya saja Ibu terlalu memaksakan keinginan Ibu. Ibu tak pernah mencoba untuk memahami keadaan dan kemauanmu. Maafkan Ibumu yang bodoh ini anakku. Salahku, hidup pada masamu. Masa yang amat sulit Ibu mengerti.” Berjuta mutiara tumpah menyerupai banjir maha dahsyat.
“Tidak Bu! Apa yang Ibu lakukan untukku, aku yakin adalah yang terbaik. Demi kebaikanku. Tapi aku tak pernah mau mengerti dan mencoba menyadarinya”.
“Bu… izinkan aku memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Anak yang bisa menjadi pelita hati kedua orang tua. Kaki yang luka penuh darah ini, adalah akhir kedurhakaanku. Aku berjanji. Tapi Bu, aku tidak tahu, bagimana dan dari mana aku harus mulai melangkah”.
“Bu! Ajari aku berjalan. Melangkah setapak demi setapak menyusuri ruas-ruas jalan yang begitu sempit itu. Meniti jalan keinsafanku. Jalan yang begitu gelap untuk aku lalui dengan kaki buta-telanjang”
“Bu… aku sangat berharap, Ibu sudi menjadi obor penerang jalan terjalku”.
Tapi, belum sempat aku membuat senyumnya sempurna. Oborku satu-satunya itu tiba-tiba padam terhempas badai. Suatu akhir yang sesungguhnya adalah inti dari kehidupan ini. Namun tetap aku masih tidak bisa menerima begitu saja dengan lapang dada. Ada rasa kehilangan yang melebihi apapun. Kehilangan mutiara surga, masih terlalu sederhana untuk dijadikan perbandingannya. Karena ia adalah satu-satunya perantara kehidupan bahagiaku nanti.
Ya Allah……
Terlau jauh mata ini menerawang
Hingga setetes embun di tepi samudera pandangan
Tak sempat aku rasa kesejukannya
Terlalu tajam tangan ini mengasah belati
Hingga hati yang suci itu pun ikut tertusuk
Begitu jauh kaki ini mengembara
Hingga aku sendiri tak tahu, apa yang sedang aku cari
Ya Allah……
Ajari aku bernyanyi
Ajari aku menari
Juga berpuisi
Agar kedua orang tuaku selalu tersenyum melihatku
Ya Allah……
Ajari aku berdoa
Ajari aku meneteskan air mata
Menyadari kena’ifan diri
Diri yang penuh dosa
Dosa terhadapa kedua orang tua yang sangat menyayangi hamba
Robbighfirlii Waliwaa Lidayya Warhamhumaa Kamaa Robbayaanii Soghiro.
Lubselia Corner, 26 Nopember 2007
Posted by , Published at 08.19 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar