“Dimanakah kini?”
“Aku rindu sumuanya”
“Kemanakah akan kucari?”
“Aku ingin mengembara?”
Ketika aku datang terlambat. Mereka semua memarahiku habis-habisan. Tapi dalam benakku, sama sekali tidak terlintas keinginan untuk melakuka pembelaan, dengan alasan-alasan dusta, tapi meyakinkan. Sebuah hasil otak-atik siasat yang tumpah lewat bahasa bibir yang masuk akal. Aku diam saja. Karena aku memang salah. Aku sadar itu. Tidak ada yang perlu di ucapkan. Tidak ada gunanya. “Karena kemenangan bukanlah sepenuhnya berarti hebat”. Begitulah kata nuraniku.
Kita memang selalu duduk di got pinggir jalan itu setiap sore. Suatu kebiasaan yang jika tidak di nikmati bersama, akan menjadi bahan kerutan dahi sesa’at. Duduk santai sembari bercerita dan bercanda ria. Sesekali diskusi ringan tentang apaun yang menjadi persoalan diantara kami tercipta. Semuanya terangkai rapi di hadapan langit menjelang senja. Sampai akhirnya habis sang waktu menemani kebersamaan kami. Kemudian, tatkala dari langit-langit Mushalla, suara Adzan menggema, tanpa harus di komando, kami segera bergegas ke kali untuk berwudlu’. Menghiasi Mushalla dengan lantunan kemerduan tembang-tembang dzikir menyentuh kalbu. Rebutan barisan pertama dan tempat, tepat di belakang imam Shalat. Ngaji Al-Qur’an dalam bentuk tadarus. Menemani adik-adik belajar ngaji dan shalat yang baik. Ngaji kitab pada pak kiyai. Belajar bersama hingga akhirnya terlelap. Menyambut sang fajar yang masih perawan. Lalu, sa’at mentari menyingsing, kami berpisah, pulang ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah, aku tidak tahu yang teman-teman lakukan. Tapi kalau aku sendiri, bantu-bantu Ibu merapikan rumah; nyapu, ngepel, cuci piring, ambil air buat persediaan minum satu hari. Sehabis itu, aku pergi ke sawah. Giliran bantu bapak; menyabit rumput atau pekerjaan-pekerjaan lain yang biasa menjadi aktivitas di sawah. Itulah pekerjaanku sehari-hari.
Ketika mentari mulai menampakkan kegarangannya, Ibu datang dengan plastik besar berwarna hitam yang penuh berisi di tangan kanan, serta satu termos ukuran sedang di tangan kirinya. Waktu itulah hatiku selalu terenyuh menyaksikan buliran peluh yang mengucur dari wajahnya yang mulai layu. Saat suara adzan menggema, kami semua pulang ke rumah untuk istirahat. Selalu saja suara adzan yang menjadi petanda. Entah mengapa? Tak pernah kutemukan alasannya. Termasuk juga adzan Ashar yang menjadi petanda kepulanganku ke rumah imajinasi bersama teman-teman.
Aneh! Sudah satu jam aku berada di got ini. Tempat aku dan teman-teman bercerita banyak hal. Tapi tak satupun yang datang menyapaku, apalagi sampai menemani. Hanya orang-orang tak ku kenal yang lewat begitu saja, seperti burung-burung yang beterbangan di atas kepala. Kalau di fikir-fikir, aku kalah pada para petani yang sedang membajak sawah. Karena para burung pasti akan senantiasa datang membuntuti kemana ia melangkah. Sementara aku? Ah! Hingga mentari akhirnya pergi, membawa kehangatan dan kelembutan sinarnya. Aku masih larut dalam kesendirian tanpa akhir. Aku putuskan untuk beralih pada kebiasaan berikutnya. Berharap mereka ataupun salah satu dari mereka, sedang menungguku di salah satu beranda kebiasaan indah itu. Namun, nihil. Sampai menjelang terlelap pun aku masih tetap sepi.
“Apa yang telah terjadi sebenarnya?”
“Mengapa bisa begini?”
“Siapa yang salah?”
“Akukah?”
“Atau…..?”
Sore itu dulu pernah kami diskusikan sepanjang senja yang pendek, lantaran menyimpan berjuta misteri. Tentang alasan, mengapa harus sore hari. Sebuah kesepakatan yang tanpa terucap dari seikat bibir persahabatan yang masih belia mengartikan kehidupannya.
“Kenapa kita ngumpul di waktu sore?”
“Sore itu indah dan menyenangkan”
“Kenapa bukan pagi hari saja?”
“Pagi itu waktu dimulainya aktivitas”
“Kalau sore?”
“Ia adalah tempat berlabuhnya apapun yang mengapung diatas hamparan dunia”
Setelah pergolakan perdebatan dingin akal sehat itu menemukan muaranya; Sepakat dengan salah satu argumen. Saat itulah suasana menjadi sepi. Pandangan lurus kedepan sebelah barat, agak keatas. Memikirkan. Menghayati. Juga menikmati keelokan sore menjelang senja. Dalam benakku, terlintas keinginan untuk pandai menggambar. Lalu melukis. Tentang mentari yang sedang menyuguhkan kehangatan cinta sebelum terbenam. Tentang awan yang beraneka bentuk dan warna. Pohon dan burung-burung yang mulai menyempitkan kelopak matanya. Para petani yang baru pulang dari perantauannya masing-masing. Anak-anak kampung yang berjalan dengan ramah menuju Mushalla. Juga tentang…. Semuanya.
Pernah di suatu siang yang mulai pupus, temanku (Adi dan Ari) bertengkar. Rebutan tempat duduk di bawah pohon mangga yang hanya menyisakan satu sudut kerindangan. Mereka salaing menghujam dengan kata-kata pedas.
“Dasar anak tidak tahu sopan santun”
“Kamu yang tidak tahu sopan santun, mau menang sendiri. Kamu egois”
“Kamu yang egois! Tidak bisa melihat orang lain senang”
“Kamu pikir Cuma kamu yang pengen senang apa?”
“Iya.. tapi aku yang sampai duluan.. jadi aku yang berhak atas tempat ini”
“Cuih… sejak kapan ada peraturan macam itu?”
“Ini bukan peraturan. Tapi ini tatakrama, bahwa mengganggu kesenangan orang lain itu tidak baik menurut adat, bahkan agama pun bicara begitu. Apa kamu tidak tahu?”
“Siapa yang mengganggu? Siapa yang tidak tahu tatakrama? Aku hanya menginginkan tempat itu. Siapapun berhak atas tempat itu. Kamu tidak berhak melarangku”
“Tapi aku yang menempatinya duluan”
“Tapi aku juga ingin duduk di tempat itu”.
Perseteruan itu terus bergolak hingga hari mulai menua. Aku datang bersama kumandang adzan Ashar.
“Ada apa ini? Kenapa yang kalian bertengkar?”
“Dia yang mulai duluan” kata Adi
“Bohong! Dia yang mulai duluan” balas Ari memburu
“Okey…! sekarang aku mau tau, apa yang membuat kalian bertengkar?”
“Jadi gini. Tadi siang aku sudah berada di sini. Duduk di bawah pohon mangga yang rindang ini. Tapi Ari datang lalu merebutnya” jelas Adi
“Tapi aku juga ingin duduk di tempat itu. Apa aku salah?” imbuh Ari buru-buru
“Dasar anak-anak….” Kataku meyakinkan
“Lah… kami memang anak-anak” gumam mereka nyaris bersamaan
“Kamu sendiri?” ucap Ari sedikit tersenyum
“Iya ya.. aku juga anak-anak” balasku malu-malu
Kami semua larut dalam suasana penuh gelak tawa. Pertengkaran yang sedari tadi membara tiba-tiba padam di perut sore. Suasana hangat seketika tercipta.
“Nah! Sekarag, mentari sudah tidak lagi perlu dihindari. Sinarnya telah menjadi hangat. Dari pada bertengkar, lebih baik, nikmati saja keindahan sore tanpa awan ini. Mengenai tempat duduk di bawah pohon mangga itu. Bagaiman kalau ……….”
Belum selesai aku bicara, tiba-tiba mereka sudah kulihat duduk di sana dengan hanya menyisakan sudut kecil. Mereka berdua menertawakanku yang sedang sewot menatap tempat untukku yang sempit itu.
“Kalian curang”
“Kamu khan paling terakhir sampainya”
“Jadi, paling kecil juga dapat tempat duduknya”.
“Sudahlah! Terima saja”.
“Sabaaaarr”
“Orang sabar itu katanya banyak kambingnya lho”
“Iya kalau pelihara” ucapku sambil memoncongkan mulut
“Eh, nggak percaya. Nanti kualat lho”
“Iya iya… aku percaya”
“Duduk dong!”
“Nah! Begitu khan bagus”
“Itu baru anak penurut”
“Jangan sewot gitu, nanti hilang manisnya”
“Senyum doong”
“Pinteeerr”
Mereka mengejekku bergantian. Tak pernah bosan mereka membuat aku geram. Mereka tahu aku tidak akan berani melawan. Karena aku paling kecil di antara mereka. Jadi, semarah apapun, tetap saja aku tidak akan pernah berani membalas perlakuan mereka. Yang bisa aku lakukan hanya memaki-maki mereka dalam hati saja, sambil mengandaikan mempunyai tubuh kekar dan bela diri yang hebat, dan menghajar mereka sampai babak belur. Biar kapok. Biar tahu bagaimana rasanya di pukul orang yang sedang marah.
Tapi tidak. Mereka paham dengan keperibadianku yang mudah marah. Ketika aku sudah hampir mencapai puncak kemarahan, mereka berhenti mengejekku atau melakukan perbuatan lainnya yang dapat membuat aku naik pitam setinggi tingginya. Biasanya, dengan memuji-mujiku setinggi langit, mereka memadamkan api amarah yang mulai membara di dadaku.
Sungguh! Semua itu terlalu mengharukan untuk di kenang. Tidak ada yang namanya dendam, apalagi sampai membara. Tidak juga balas dendam. Tapi, kenangan tetap saja kenangan. Tidak mungkin terulang seindah waktu itu. Karena waktu tidak bisa di putar kembali ke saat itu. Aku bersumpah, tidak akan pernah mencoba untuk mengubur kenangan manis itu. Karena bagiku, sejarah adalah cermin kecerahan masa depan. Cambuk perjuanganku. Dengan sejarah aku bisa mempertimbangkan sesuatu yang hendak aku perbuat.
“Aku rindu semuanya”
“Dimanakah suasana serta sahabat-sahabat kampungku kini?”
Tanpa terasa, buliran air bening jatuh membasahi tempat dimana aku biasa merangkai berjuta sejarah. Mengapa harus berubah secepat ini? Walaupun sumua yang ada di dunia tidak bisa mengelak dari lubang perubahan. Tapi bukan ini dan secepat ini. Masih terlalu dini untuk aku sadari penyesalan ini meski tak perlu. Lagi pula, aku kenal betul siapa mereka. Seorang telaten menjaga keutuhan sebungkus kesepakatan, meski tak sempat terucap ataupun tertera. Mereka baba kecil dalam hidupku. Mereka malaikat subuh yang selalu membawa angin pagi. Mereka teman sekaligus saudara. Tidak mungkin mereka membiarkan sejarah terlupa dan terbuai begitu saja.
Tidak! Matahari masih terlalu dini untuk terbenam. Tapi bukankah semua di bumi ini akan terbenam? Tapi mengapa harus sejarah yang sangat berarti nan elok? Apakah ada yang salah dengan ruang dan waktu yang telah terbukti bisa melahirkan imajinasi yang tak sempat tersentuh sekalipun?.
Liburan pondok kali ini terasa sangat menyedihkan. Aku merasa terasing di kampungku sendiri. Semua kenangan yang sangat berarti dalam hidupku itu kini lenyaplah sudah. Aku sangat menyesalkan semua itu terjadi. Karena teman-teman, sudah tidak lagi menjadikan senja sebagai rumah imajinasi bersama. Mencari sepercik ketenangan batin. Di kuncup dedaunan yang membiru. Di atas ranting-ranting yang rapuh. Di dalam bayang-bayang letih. Di ujung paruh burung-burung yang mengatup lembut.
Tapi, apalah guna penyesalan. Karena yang pergi tidak akan kembali lagi. Walaupun kembali, tidak akan seperti semula. Perubahan demi perubahan sudah pasti akan menjamahnya. Meskipun tidak sepantasnya. Meski kucoba untuk memulainya kembali, tetap saja aku tidak bisa. Sebab tanpa kebersamaan, rasa jemu selalu saja menghampiriku. Menjadi akhir dari sekian usahaku untuk mengulang sejarah 10 tahun yang lalu.
Waktu terus berlalu. Menyisakan bercak-bercak tapak kaki sejarah. Ada yang sudah memudar. Ada juga yang masih segar. Aku merasa, perubahan yang terjadi, sebenarnya adalah salah satu bentuk dari arus dekadensi. Telah terjadi di kampungku. Di sini. Pada sesuatu yang dapat memberikan ketenangan batin. Juga makna yang tak bisa di dapatkan dari kecanggihan masa kini. Sebuah pergeseran yang sebetulnya adalah kemerosotan moral. Tanggung jawab. Kreatifitas. Ruang imajinasi. Semuanya. Sudah mulai semakin mengkerucut. Menempati ruang-ruang sempit yang pengap dan bau. Orang-orang sudah mulai mengkotak-kotakkan luasnya hamparan ruang di dunia ini.
O, ternyata, Semakin menuanya masa, telah menjadikan teman-teman atau manusia pada umumnya sekalipun, mungkin. Lebih mementingkan dirinya. Kepentingan masing-masing. Mereka lupa atas apa yang pernah terbangun indah lewat kebersamaan. Sungguh! Potensi Individualisme.
Tapi kenapa? Mengapa? Dengan meninggalkan semua kenangan, apakah akan menjadi bibit kebahagaiaan? Apakah yang maju berarti lebih berkesan? Lebih nyaman? Lebih indah? …………….? Mungkinkah setiap hari yang terbentang itu berarti lebih baik dari hari kemarin?
Rasa kehilangan terhadap kenangan itu, cukup untuk membuat aku frustasi. Aku tak habis fikir dengan keadaan yang menimpa kampungku, termasuk negeri ini, mungkin. Adakah yang bisa menghilangkan rasa kehilangan yang teramat dalam ini? Atau, orang yang juga merasakannya? Ah! Mana mungkin? Perubahan sudah menjelma petir, menyambar apapun di bumi ini. Termasuk sesuatu yang baik. Di ganti dengan hal yang belum tentu lebih baik. Bagaiman dengan anak cucuku nanti? Bagaimana dengan nasib masa depan negeri ini jika hal yang seperti ini terus terjadi?
Lubselia Corner, 05 Pebruari 2008
Posted by , Published at 08.14 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar