BUALAN FATAMORGANA

BUALAN FATAMORGANA

Penat kepalaku, memikirkan apa yang mesti aku tulis. Setiap kumulai, saat itu pula putus. Sesekali kuhirup udara dalam-dalam, hingga terasa sesak dada ini, lalu menengadah sambil memejamkan mata, kemudian perlahan kubuka lagi bersama hembusan nafas—yang menurutku dapat menghilangkan kepenatan ini.

“Betapa besar karuniamu, Tuhan”. Kusaksikan berbagai macam bentuk dan warna awan. Begitu indah. Angin mendesir lembut dan mesra, membuat bulu demi bulu kudukku terbangun dari tidurnya. Nyanyian para dedaunan, kicauan burung sambil beterbangan kesana kemari, seolah memenuhi jagat raya, menasbihkan keagungan sang pencipta. Pun jua lalu lalang manusia yang semakin menyesaki dunia. Semua itu tak lepas dari sentuhan panca inderaku. Namun imajinasiku masih tetap saja terlelap dalam peristirahatannya.

O, terlalu lena aku menyaksikan keluarbiasaan dunia ini. Membuat aku lupa untuk menjadikannya inspirasi. Padahal, setiap penggalan alam ini adalah anugerah yang sangat besar. Hanya saja tidak semua orang mampu melukiskannya, termasuk aku.

“Siapa kamu?”. Sesosok tubuh tanpa sehelai kainpun, tiba-tiba muncul di hadapanku. Memeluk hayalan yang sudah terlalu jauh menerawang. Kehangatan tubuhnya membangkitkan gairah birahi yang membeku. Alunan tembang-tembang indahnya, memecah kesunyian yang terjelma dalam kegalauan jiwa.

“Aku adalah tinta penamu, yang akan menjadi berjuta bahasa tentang kehidupan ini”. Semakin erat ia memeluk kegalauan hatiku yang sudah memuncak.

“Tuangkanlah semua yang kau rasakan” Semakin erat. Dalam pelukannya, aku melihat warna yang tak begitu jelas dan sulit kufahami. Sesekali seperti warna dedaunan, mentari menyingsing, abu-abu, hitam, putih, hingga warna yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Aku adalah tinta penamu”. Kembali ia mengulang kata-kata itu. Namun saat kucoba, aku malah bingung, apa dan yang mana harus kutulis? Karna yang kulihat tidaklah jelas berwarna. Apakah warna hitamnya? Putihnya? Atau yang abu-abu? Atau…?.

Perlahan ia melepaskan dekapannya, sambil mengecup seluruh yang ada di wajahku, bisikannya lembut dan lirih, nyaris tak terdengar telinga telanjang.

“Bukalah matamu! Tataplah kenyataan yang terbentang di hadapanmu”.

“Dalam tubuhnya aku melihat banyak kejanggalan, apalagi di wajahnya? Bukankah wajah merupakan manefestasi hati? Bukankah kemunafikan akan tampak melalui kebusukan perilakunya?” batinku.

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Aku adalah tinta penamu”

“Tidak! Tinta itu hanyalah untuk kebenaran dan kejujuran semata, tidak untuk yang lainnya, apalagi pembohong seperti kamu”

“percayalah! aku adalah tinta setiap pena yang gersang nan kering”. Senyum kecut jelas ku lihat melintang dari garis-garis pipinya. Seakan ia mengataiku “kau manusia terlalu lugu untuk berteduh di dunia ini, mudah termakan wacana”.

“Dari mana asalmu? Kenapa tiba-tiba muncul dan memelukku?”

“Aku terlahir atas perselingkuhan kejujuran dan kemunafikan. Tapi, sayang! Kejujuran itu sudah lama lumpuh tak berdaya”.

Bukan ide yang aku dapatkan, tapi justru sebuah tanda tanya besar. Betulkah kejujuran telah kalah dalam peperangan jiwa dengan kemunafikan serta keangkara murkaan lainnya? Apakah kejujuran kini hanyalah menjadi penghias wajah orang-orang yang tidak bertanggung jawab belaka? Apakah kejujuran kini hanya sebatas pemanis bibir-bibir orang yang memiliki kepentingan?.

“Percayalah! Dimanapun kau singgah, kemunafikan pasti kau jumpai”. Kembali ia mendekatkan tubuhnya, memeluk kekalutan hatiku, wajahku tepat berada di tenggorokannya. Entah yang keberapa kalinya ia melakukan itu. Tujuannya satu, untuk meyakinkanku tentang satu hal yang bagiku ganjil. Lewat pelukan mesranya ia mencoba untuk mencekokiku pil pahit bernama “munafik”.

“Lihatlah jiwaku! dan coba bandingkan dengan apa yang kau tangkap dari aura wajahku”

Sempat aku melihat matanya menangis, tapi ternyata hatinya sudah mati membeku. Bibirnya juga tersenyum, padahal yang aku lihat dalam jiwanya hanya kebencian dan dendam yang dalam. jiwanya juga terbungkus kain ‘Etika’ yang begitu indah, tapi kenyataannya, ia telanjang, tak ada sesobek benangpun yang membalut harkat dan martabatnya.

“Yang sepenuhnya jujur hanyalah dedaunan, batu, rembulan, dan sebagainya. Tapi tidak dengan manusia. Coba kau saksikan pohon yang kekurangan air, lambat laun daun-daunnya menguning, lalu ia rontokkan. Ia juga akan memudarkan keelokan bunganya, tatkala kekurangan pupuk dan jenis makanan lainnya. Kau tahu kenapa? Karena ia jujur. Tapi bagimana dengan manusia? Ketika ia tersenyum, apakah berarti ia sedang bahagia? Apakah berarti Pelak[1], ketika seseorang memberikan sesuatu? Semua itu perlu di tela’ah ulang. Karena manusia itu tidak sepenuhnya jujur”.

Semua yang ia katakan terasa sulit untuk aku terima. Kututup mata dan telinga sekuat tenaga. Lama sekali. Hingga tak kudengar lagi suara atau apapun yang menghampiriku. Dengan segala tanya yang jawabannya tak sanggup memuaskan hatiku, aku coba turunkan kedua tangan dan lututku yang sudah terasa nyeri.

Ya… ia telah pergi, tapi semua kata-katanya masih segar dalam ingatanku. Serupa belati telah menghujam kekohan persepsiku selam ini. Memaksaku untuk mencoba menelusuri ada dalam kegelepan mencekam, menerobos sistem tanda yang ada.

Ingin aku tak mempercayainya, tapi bukankah ia telah membuktikannya? Dan aku tahu itu. Tapi... entahlah, sulit rasanya aku menerima kenyataan ini. Kenyataan yang begitu pahit, menyakitkan dan memalukan.

KCN, Nopember 2007



[1] Bahasa Madura. Berarti “Dermawan”




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 07.50 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: