Seraut wajahnya seketika memerah. Cahaya yang memancar dari matanya saat ini lebih nanpak sebagai sebuah refleksi dari gumpalan kebencian serta dendam membara. Tapi, ada rasa was-was. Antara benci yang tulus dan benci yang sudah enggan menjadi kebencian. Entahlah! Namun yang jelas, saat ini ia sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Melainkan lebih sebagai iblis terkutuk yang tidak pernah memiliki kelembutan hati. Tidak pernah mau mencoba memahami kenyataan sebagai sebuah konsekwensi logis dari perbuatan.
“Kurang ajar!”
Malam mulai melarut. Laki-laki itu masih asyik menikmati kegalauannya; tentang sejarah indah yang berakhir tragis. Sejauh ini, tidak ada yang tahu apa dan bagaimana. Ia lebih sering mengobarkan bara dendam dari pada mencoba untuk memadamkannya, dengan meneriakkan segala apapun yang tidak mengenakkan hati, seperti yang biasa dilakukan para penghuni kebencian lainnya, ataupun amarah yang tidak kesampaian.
Kamu memang lebih, aku nggak pernah punya teman sepintar kamu. Cuma sekarang aku punya teman like you. Aku bangga sekali. Aku nggak akan pernah kecewa punya teman seperti kamu.
Begitulah perkataan yang melintang di atas separuh kertas lusuh berwarna pink itu. Di gennggamnya erat-erat. Setiap kali ia selesai membacanya, senyum kecut selalu saja terukir dari atas bibir merah memudar itu. Entah apa yang ia rasakan setiap kali selesai membacanya. Berbeda dengan tiga tahun silam. Kertas itu selalu menjadi pelipur di setiap lara hatinya. Semua kedamaian yang ia dapatkan dari setiap liukan huruf itu, kini layaknya mimpi di siang hari. Perhatian yang sekian lama menyelimuti kehidupannya, kini pupus sudah di hantam sekelumit tanda tanya besar tanpa kepastian yang kerap kali memberikan jawaban. Sekarang kertas itu lebih sering berada dalam genggaman erat tangannya. Bukan di dadanya.
Namun, satu hal yang masih terasa ganjil. Kalau memang ia membencinya, mengapa surat itu masih di bawanya kesana-kemari dan di baca berulang kali? Kalau ia betul-betul menaruh dendam padanya Mengapa tidak di bakar saja? Atau di simpan di tempat paling tersembunuyi, agar tidak timbul keinginan untuk membacanya lagi? Bukankah dengan membacanya berulang-ulang itu hanya akan menggurat jiwanya lebih dalam lagi?
Sesekali ia teteskan air bening di balik kegarangan hatinya. Namun cepat-cepat ia menyembunyikannya. Seakan-akan ada yang di paksakan dalam tindakannya. Dalam kebenciannya. Juga dalam dendamnya. Entah apa yang ia rasakan sebenarnya. Tapi, terlalu buru-buru kiranya untuk memberikan sebuah kesimpulan bahwa ia banar-benar telah membencinya. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa hatinya telah mati untuk dia yang pernah ia puja. Karena air mata yang tiba-tiba jatuh itu sulit untuk di definisikan secara gamblang. Karena air itu tampaknya tidak jatuh dari mata belaka.
Lagi pula, tidak pernah ada dalam kamus apapun. Orang yang begitu di benci masih sempat untuk di tangisi. Sebagai bukti bahwa air mata tidak akan pernah tercipta untuk kebencian. Karena kebencian tetap saja kebencian. Dendam tetap saja dendam. Tidak akan pernah bercampur baur dengan hal-hal yang berbau rasa kehilangan. Hal itu memiliki wadah masing-masing. Apakah mungkin karena tiga lembar surat yang tidak terbalas itu? Tidakkah terlalu berlebihan untuk mengklaim masalah sekecil itu sebagai bibit kebencian ataupun dendam sehebat yang ia kobarkan saat ini?
Apa yang ia dapatkan saat ini, sudah mulai menyemaikan kesimpulan universal. Menjadi sebuah pemahaman utuh tentang dia yang ia maksudkan. Mungkin juga terhadap dia siapapun di seantero dunia ini. Siapapun akan di pandang dengan senyum sebelah jika serupa dengan dia yang telah menyisakan guratan di hatinya. Namun meski demikian, tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya. Terlepas dari apa yang ia pancarkan lewat aura wajahnya.
Fajar mulai menyingsing. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Mata sipitnya tidak lagi bisa membendung buliran air yang membanjirinya. Seperti sedang meratapi sebuah kematian yang sesungguhnya tidak perlu. Adzan subuh menggema. Ia mulai membaringkan tubuhnya. Mungkin ia sadar akan kesepakatan bahwa hari ini ia akan berangkat nyantri di salah satu pondok pesantren. Tidak terlalu jauh dari kampung halamannya.
“Rid, sudah siang. Ayo berangkat!”
“Iya Bu… sebentar lagi, aku sedang membereskan baju-baju yang akan aku bawa. Tunggu saja di mobil, nanti aku nyusul”
“Cepat ya… nanti keburu malam. Oya, nanti kamu naik motor saja dengan sepupumu. Mobillnya takut tidak muat”
“Baik Bu”
Satu persatu langit-langit Mushalla mulai menebarkan tembang-tembang syahdu menyentuh kalbu. Ia pun pergi meninggalkan sejuta kenangan penuh air mata. Semua teman-temannya sedih. Karena salah satu sahabatnya akan pergi meninggalkan semuanya. Ya, ia benar-benar akan pergi.
Mengenai apa yang ada dalam dadanya, mungkin akan menjadi pelajaran cukup berharga baginya. Empedu yang kini telah menyebar ke seluruh pori-pori jiwanya. Mungkin akan menjadi bahan pertimbangan untuk menelan apapun yang sepintas terlihat seperti madu. Supaya tidak terjebak untuk yang ke dua kalinya.
Sebagai teman terdekat yang setiap hari selalu bersama, aku berniat hendak masuk ke dalam kamarnya. “Siapa tahu ada yang tertinggal” fikirku. Karena selama bersama, aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
Banar! sesobek kertas ranai aku temukan di antara buku yang berserakan. Perlahan kubuka kertas yang sudah nampak bukan kertas itu. Tampaknya hasil muntahan dari seluruh apa yang pernah ada dalam hatinya. Sekaligus menjadi jawaban dari setiap tanya yang selama ini menggumpal dalam dadaku.
Dengan butiran mutiara yang hampir menjadi batu ini
Dengan isi hati yang nyaris beku di samudera Es bernama tangisan hati
Aku ingin kau mengerti
Meski pintu hatimu sudah tertutup rapat, terkunci kuat
(mungkin karena sudah ada sesuatu yang bisa memberimu kebahagiaan)
Walau bahasa ini sampah
Aku hanya ingin kau tahu
Disaat yang terlambat ini
Di malam yang hampir pagi ini
Saat semuanya telah tiada, termasuk keberadaanmu disisiku.
Baru aku sadari, bahwa kau begitu berharga untukku. Untuk hidupku
O…! Seharusnya aku lebih banyak tau tentangmu.
Mengapa saat bersamamu kusia-siakan waktu?
Mengapa aku tak menanyakan langsung segala yang mesti kuketahui tentang dirimu?
Tapi biarlah!
Penyesalan ini tidak akan membuat kau kembali memperhatikanku.
Walau yang terjadi bukan harapan, namun setia itu pasti, perasaan itu bersemi.
Bersamamu atau tidak, bagiku tak mengapa, asalkan kau bahagia.
Tapi jika hanya membuat aura wajahmu redup, aku bersumpah demi Tuhan
Sungguh tiada rela sedikitpun.
L-fa …
Setelah ini, janganlah kau bersedih karena iba atau karena apapun.
Teruslah berdayung menyusuri kehidupan bahagiamu.
Jangan sekali-kali kau menolehku.
Karena itu akan memberatkan langkahku beranjak pergi.
Mencoba menyadari diri dalam kenyataan yang sebenarnya.
“Bahwa hadirmu bukanlah untukku”
* Dedication for 05 Nopember
Lubselia Corner, 06 Maret 2008
Posted by , Published at 08.16 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar