CINTA KIRANA

CINTA KIRANA

Baru satu jengkal sang waktu melarutkan malam. Kirana sudah sempurna membuka mata meski tatapannya tidak begitu penuh. Ia berdiri hampir di atas kepala dengan penuh tatakrama. Sedikit demi sedikit kegundahan hati karena garangnya mentari mulai kikis bersama detak jantung. Seirama pekikan jarum lonceng yang berputar mengelilingi lingkaran kehidupan.
Dalam hidup ini, mungkin hanya kirana yang kehadirannya selalu di damba. Tatapannya selalu di nanti. Yang di rindukan atau tidak, ia akan senantiasa hadir dan lenyap seiring langakah waktu. Purnama yang kerap kali menaburkan imajinasi. Kegelapan yang sepertinya mencekam. Semuanya laksana air mengalir.
Kirana. Diakui atau tidak, ia adalah simbol cinta kasih. Perlambang kedamaian. Deskripsi kebijasanaan. Bahkan aura Tuhan. Maka, mungkin hanya orang-orang kehilanagn nurani yang bertikai dengan mengatas namakan cinta, kirana. Hanya orang-orang berhati iblis yang menindas serta menginjak-injak harkat dan martabat saudaranya sambil meneriakkan kesejahteraan umat.
Masih adakah yang menginginkan menjadi kirana?
Kehadirannya yang selalu di damba?
Petuahnya yang kerap kali di semyumi hati?
Kirana yang hanya memiliki dan mengandalkan ketulusan cinta?
Ah, cinta! Kelihatannya ia tidak lagi menjadi dirinya. Tercemar berbagai macam limbah kepentingan. Yang menjadi kendali bukan lagi hati melainkan nafsu teramat bejat. Cinta yang di ilustrasikan dengan saling berbagi, suka maupun duka. Tapi kini, harga diri pun menjadi taruhan yang harus melayang. Terselip diantara bualan-bualan manis menjanjikan. Bahkan itulah sasaran utama dalam sebuah pertalian yang mereka sebut-sebut cinta. Keindahan yang menjadi perlambangnya juga dilarikan pada romantisme buta yang hanya menguntungkan diri sendiri atau kelompok. Sedangkan substansi cinta sudah mulai di timbun dengan sampah-sampah menjijikkan. Hingga ia terkubur, namun tak pernah menjadi kuburan. Kuburan substansi cinta. Kalau itu terjadi, maka tentu akan menjadi luar biasa. Tapi tidak. Ia terkikis sebongkah demi sebongkah hingga akhirnya musnah tanpa rimba. Cinta yang sebenarnya adalah kebalikan dari fenomena yang terjadi pada cinta itu sendiri saat ini.
Cinta yang kirana pancarkan. Cinta yang tidak akan pernah menggurat dada sampai kapanpun. Cinta yang tidak akan pernah memicu membaranya kobaran perang. Cinta yang tidak membutuhkan penjelasan sedikitpun, melainkan penghayatan tulus. Sebab cinta adalah penjelasan itu sendiri, dari rasa yang menyentuhnya.
Mungkin benar kata Gabriel Marcel, bahwa cinta adalah hakekat dari kehidupan bersama. Pengalaman yang menghanguskan keniscayaan ilusi. Suatu elemen kekuatan yang mampu mengatasi individualitas. Dengan realiatas kebersamaan yang aktif, menghilangkan hasrat untuk membanggakan diri sendiri atau orang lain. Tapi tampaknya semua itu telah diperkosa. Melahirkan benih-benih benci, dendam, permusuhan, penderitaan dan lain sebagainya. Kekuatan cinta tidak lagi bisa di alami sebagai sumber kebahagiaan dan kedamaian abadi.

Guluk-Guluk, April 2008


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 07.54 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: