“Krieek.. Krieek.. Krieek..krieek”
“Siapa dia?” batinku.
Sayup-sayup suara itu, menjadi alunan tembang memilukan di telinga. Sosok laki-laki berwajah senja itu, menjadi pemandangan prihatin dalam dekapan tatap mata. Ada banyak tanya tercipta, mengapa dia menyusuri jalan liar ini dengan sepeda ontel? Mengapa para pemuda masa kini yang lebih berotot dan kuat darinya, justru yang mengendarai kendaraan-kendaraan mewah? Apa yang terjadi sebenarnya?
“Kek, kakek mau kemana? Anak cucu kakek dimana? Kenapa kakek yang mengayuh sepeda tua ini?”
Ingin aku memanggilnya, duduk bersamaku, lalu menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan menggugah itu. Namun, terlalu enyuh hati ini, ketika ia lewat di depan mataku. Peluh yang mengalir deras dari darah juangnya, hanya membuat mulutku menganga dengan mata sembab. Sepeda yang sudah tidak layak pakai di zaman ini itu, bungkukan punggungnnya, rintihan garis-garis wajahnya. Semua itu terlalu na’if untuk aku sadari sebagai sebuah kenyataan. O, di zaman yang serba modern ini, ternyata masih banyak orang yang tidak bisa menikmati dengkurang kecanggihan hutan tehnologi yang kini sudah banyak menggeser potensi manusia. Jika kemaren orang mengendarai kendaraan harus dengan tenaga mereka, tapi baik untuk kesehatan. Sekarang semua itu di anggap kuno, ketinggalan zaman dan sebagainya. Apalagi modifnya seperti zaman orde baru atau bahkan lama. Seakan tak ada tempat di dunia yang luas ini bagi mereka. “Kalau sudah ada yang lebih mudah dan nyaman, mengapa harus susah-susah menggunakan yang sulit?” Tapi apakah semua itu berarti lebih baik?.
***
“Nek, nenek dari mana? Mau kemana? Apa yang sedang nenek bawa itu?”
Hampir saja kalimat murahan itu muntah. Namun tatih perihnya, keringat yang mengucur deras memenuhi wajah keriputya, membuat lidah terasa kelu, tubuhku seakan terkulai lesu dan batinku luruh. Sebetulnya, ingin aku mengambil keranjang besar dengan berbagai macam kebutuhan dari kepalanya. Sebab, tubuh kerempeng itu tak pantas membawa beban seberat itu, fikirku. Rambutnya yang kusam, kulitnya yang lusuh, sudah bukan saatnya meringis kesakitan. Tapi, semangat juangnya untuk terus menapaki sepanjang jalan beraspal itu, membuat aku tak berdaya. Nafas yang tersengal-sengal, begitu dahsyat menghantam gendang telinga. Hentakan kaki yang seakan di paksakan itu, menggetarkan seluruh isi dunia dalam tubuhku. Ukiran wajah dan lehernya yang sudah mengeras, bak sesobek asap menerpa bola mata. Namun apalah daya, aku hanya bisa duduk termangu, tak mampu berkutik sama sekali, apalagi berdiri. Jiwa seakan remuk seketika.
“Ya Tuhan! Mengapa justru dia yang optimis menjalani kehidupan yang serba sulit ini? Mengapa para generasai malah pesimis dengan kehidupan mereka yang serba wah!?!”
Dada terasa semakin sesak, saat kedua mataku berlabuh pada sebilah sosok tubuh ramping. Tepat di belakang nenek itu. Kepalanya dibalut dengan kain biru salju, matanya dirisi dengan hitam celak, wajahnya dilapisi dengan bedak, entah berapa, kaki sandalnya tampak enggan menjamah bumi. Sementara nenek di depannya, sama sekali tak ada yang melindunginya dari sengatan matahari, yang menjelma kedalam aspal yang hitam itu. Apalagi, saat kulihat sebuah tas kecil dari kertas di lengannya, di ayunkannya dengan penuh kegirangan. Darahku mengalir dengan derasnya, kemudian kaku membeku. Aku tidak terima dengan semua ini. Sejak dilahirkan, aku tidak pernah memperlakukan orang yang sudah hampir malam sedemikian kejamnya.. Apalagi itu Ibuku. Karena memang tidak pantas. Ibu adalah bidadari fajar yang selalu menyuguhkan kesejukan embun. Ibu adalah goa pertapaan teragung sepanjang kehidupan.
O, inikah kehidupan dunia saat ini? Semuanya telah terbalik. Yang di atas kini sudah berada di bawah, yang baik sekarang sudah nampak buruk, demikian seterusnya. Termasuk aspal yang makna sebenarnya adalah “paling bawah”. Tapi kenyataan nampaknya berbicara lain. Sudah terbalik. Orang-orang yang berdiri di atas keangkuhan aspal, maka keadaan ataupun posisi akan terbalik, seperti yang terjadi pada kakek dan nenek yang aku saksikan itu.
Aku jadi teringat dengan kehidupan di hutan rimba. Liar. Siapa kuat, dia yang menang. Siapa menang, dia yang berkuasa. Tapi jika hutannya sudah tidak ada, mungkinkah aspal akan menjadi kehidupan paling liar di dunia ini?.
Keinginanku untuk pulang kerumah tiba-tiba pupus. Kerinduan pada orang-orang yang aku cintai pun musnah ditelan waktu. Aku masih ingin berada di tempat ini, menyaksikan video berbagai kehidupan, sambil bermandikan peluh yang kini sudah terasa dingin. Ingin aku berteriak, bahwa di belakang tirai kebahagiaan, kekayaan, kekuasaan, canda tawa, rumah megah dan sejenisnya. Ternayata masih banyak yang menderita, miskin, tak berdaya, sedih dan nista.
“Mau pulang? Ayo naik…!” seorang remaja bermotor tiba-tiba berhenti di hadapanku. Yach, dia sepupuku. Sebenarnya, ingin aku mengatakan “tidak!”, tapi kerena hari sudah menua. Aku takut ibuku khawatir. Aku sangat mencitai dan menghormati ibuku sepenuhnya. Melebihi apapun di dunia ini.
Sebelum bayangan tubuhku lenyap, aku melihat seorang anak kecil yang tuli, sedang menuntun perempuan paruh baya yang buta, sedang menyebrang. Sementara lorong-lorong datar itu masih tetap terbentang dengan keangkuhannya. terutama kendaran-kendaraan liar. Lebih dari sekedar binatang buas.
Lubselia Corner, 2008
Posted by , Published at 08.03 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar