KETIKA KURBAN MENJADI KORBAN

KETIKA KURBAN MENJADI KORBAN

Matahari telambat tersenyum di ufuk timur. Awan kelabu menebal, membuat jalanan tampak was-was antara gelap dan terang, antara cerah dan suram. Sementara daun pengeras suara di langit Mushalla, sayup-sayup mulai menendangkan alunan tembang kalimat yang menggetarkan jiwa. Menjadikan darah-darah legam yang beku mengalir deras, kemudian sedikit lebih cerah. Bulu kuduk-bulu kuduk yang larut dalam sunyi pun mulai meremang.
Satu, dua, kemudian banyak orang bertebaran. Jalan mereka lirih dan lembut. Dengan bersedekap, menyusuri jalanan yang beku. Mencoba menghalau dingin menusuk tulang. Tujuan mereka sama. Mengunjungi sanak keluarga mereka yang sudah tidur nyenyak dalam kamar rumah keabadiannya, juga siapapun yang merasa dirinya makhluk. Semuanya merunduk. Tidak satupun dari mereka tengadah, sambil membusungkan dada, berdiri di atas keangkuhan murahan. Mulut mereka komat kamit, layaknya bibir para dukun kampung sedang menggelar satu upacara istimewa. Entah apa yang mereka ukir dengan pedang-pedang coklat itu.“Berdo’a?” Mudah-mudahan! Semoga tidak sedang mengadukan kelakuan anak cucunya yang bejat dan tidak bertanggung jawab. Atau tentang persoalan-persoalan dunia yang sedang sulit mereka hadapi lalu minta tolong padanya. Untuk apa? Dia tidak mungkin bisa menolong mereka. Sampai kapanpun. Kehidupan mereka sudah berbeda, tidak mungkin bisa saling mengisi ataupun mengurangi.
Lantunan kalimat-kalimat itu terus menggema, menjadi pelita dalam kekhusyu’an doa-doa. Menjadi malaikat subuh yang selalu membawa angin pagi. Membawa setetes getah cahaya ketenteraman dalam kesuraman hati. Pekat dari noda-noda duniawa yang menyesatkan.
Hari mulai melangkah, satu persatu dari mereka kemudian beranjak pergi. Menyisakan sepi, serta bekas tatih langkah kaki di jalan berlumpur itu. sayup-sayup kudengar mereka sedang asyik membicarakan peristiwa kemaren sore, tentang akibat tangisan langit yang cukup lama itu. Seorang remaja hanyut. Keluarganya sangat panik mencarinya. Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Menurut kabar tarakhir, kejadiannya sekitar pukul lima, bulum ditemukan sampai tadi malam jam sepuluh. “Bagi mereka, ternyata masih berharga walaupun sudah tiada. Meskipun besar kemungkinan ia sudah menjadi bangkai”. Fikirku.
“Ada apa ini? Apa yang sedang mereka perbincangkan?” gumamku, berharap angin berhembus ke daun telingaku yang senyap, untuk memberiku sehelai kepastian tentang perseteruan mulut-mulut mereka yang bau itu.
“Sudah di temukan, katanya”
“Kapan?”
“Tadi, habis subuh”
“Bagaimana keadaanya?”
“Ya… sudah mati”
Angin tiba-tiba berhembus kencang. Aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan selanjutnya. Karena semua pembicaraan itu mengalir dari atas ayunan kaki mereka masing-masing. Mungkin membicarakan kejelekan orang lain. Atau hal-hal percuma lainnya yang hanya akan membawa mereka ke jurang dosa. Entahlah, tapi, aku menangkap sesuatu yang ganjil dari tubuh-tubuh menggigil dan kumal itu. Ada tanya yang sesungguhnya tak membutuhkan jawaban; Karena jawaban itu ada dalam pertanyaan itu sendiri. Di tengah kebekuan imajinasi, aku mencoba mengumpulkan buliran keberanian. Sekedar untuk meronyeh dalam hatiku yang sedang kalut. Di hari yang tak semestinya kelabu ini.
Sepulang dari rumah yang sebutulnya rumah mereka juga itu. ada tawa sampai terbahak-bahak, ada bahagia hingga menari-nari. Wajah-wajah yang sempat merunduk itu kembali mendongak, berdiri di atas keangkuhan parsoalan-persoalan terkutuk duniawi. Seharusnya mereka melupakan semua itu meski sejenak, dan melantunkan kalimat-kalimat mulia nan sahdu. Hari mulia ini hanya datang satu kali setahun. Lagi pula, Bukankah rumah itu adalah rumah mereka juga? Apakah mereka tidak sadar, bahwa mengunjunginya berarti mengunjungi rumah peristirahatan sendiri? Cepat atau lambat, mereka pasti akan pulang kesana. Kemegahan bangunan-bangunan yang menjulang di atas kecongkakan itu, gemerlap kemilau harta benda yang berwarna-warni. Semua itu hanyalah fatamorgana yang membias dari daun-daun jendela dunia. Rumah dan tempat tidur yang sesungguhnya adalah nanti, pada kehidupan selanjutnya. Apakah mereka melakukan semua ini hanya karena tradsi? Bukankah seharusnya mereka ingat mati? dan mempersiapkan segala sesuatunya. Lalu mengapa perilaku-perilaku tidak bermoral itu masih saja terlahir dari tangan-tangan mereka? Hari ini.
Mentari tersenyum mesra, meski di kepung pasukan awan kelabu yang memenuhi jagat. Alunan tembang santing itu semakin menggema, menjelma do’a-do’a suci semesta. Seolah tidak terjadi apa-apa dengan dunia ini. Padahal, ada pepohonan yang seharusnya tidak murung. Ada embun yang tak semestinya kering begitu saja. Ada hari yang tak semestinya kelabu.
Namun, tiba-tiba irama itu tersekat di tenggorokan siang. Hamparan semesta kembali hingar bingar dengan hal-hal melelahkan dan memalukan. Sama sekali tak tersentuh, ataupun menyentuh kalbu. Seakan tak ada yang istimewa dengan hari ini. Padahal sejatinya, ada sejarah yang pernah terukir indah di bukit itu. di dunia ini. Sebuah tempat dan hari pembuktian Taqwa kepada Tuhan. Tempat dan waktu diKurbankannya mutiara hati. Walaupun baginya adalah sesuatu yang tak bisa di gantikan denga apapun di dunia ini. Tapi semua itu tidak menjadi persoala. Karena keikhlasan itu atas nama Tuhan. Bukan kekuasaan. Bukan harta-benda. Bukan juga karena aib keluarga, atau alasan dan penyebab apapun.
Sekedar cacatan : bukan korban, tapi Kurban.

Guluk-guluk, 26 Desember 2007


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.08 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: