SERAUT CINTA

SERAUT CINTA

Entah dari mana mesti aku mulai cerita, rasa, juga hayalan ini. Namun yang pasti, keindahan puisi-puisi, kemerduan kicauan para burung, kelembutan bisikan dedaunan, kesejukan embun pagi, ketulusan rembulan menghangatkan semesta, juga hiruk-pikuk kesibukan manusia menapaki setiap jengkal kehidupan. Semua itu terlalu sederhana untuk meluruskan liukan abjad pengembaraan panjang hatiku. Pengembaraan yang begitu haru memburu, serta menyedihkan.
Jika mereka menganggap rembulan iu selalu tersenyum, bagiku ia menangis tiada henti. Kalau mereka bilang mentari itu beryanyi, menurutku dia sedang menjerit. “perempuan itu cantik sekali” seru mereka. Bohong! Wanita paling jelek di dunia, masih cantik ketimbang dia. Ya! Itulah hatiku. Hati yang tak pernah aku perhatikan keinginannya, pemberotakannya, juga rintih perihnya. Terserah! Apa pendapatmu tentang aku. Egois, keras kepala, mau menang sendiri, atau yang lainnya. Itu sama saja. Terserah. Aku tak perduli. Hati ini milikku. Bukankah setiap orang memiliki hati? Bukankah masing-masing dari mereka tidak semuanya sama dalam memperlakukan dan melayani hatinya? Sebagian orang memasrahkan seluruh kepercayaannya terhadap hati mereka. Kata hati adalah firman Tuhan. Suci, benar dan sejati. Tapi, tidak denganku, mengiyakan setiap perkataan hati. Sekali lagi tidak. Aku justru mempertanyakan dan menyanksikannya. Sebagai dauh murni, atau perangkap nafsu. Setan.
“Gadis itu adalah cintaku”. Ketika di tanya, kenapa?, “Karena ia pantas untuk aku cintai”. Aku risih mendengar semua itu, muak aku, bila mendengar tembang-tembang itu. Omong kosong, karna nyatanya!, mata indah, hidung mancung, tubuh seksi, pipi montok, bibir bak jeruk salone. Tapi, bahasanya sampah, manja, sama sekali tak bermakna dan sembarangan. Apa itu pantas? Bukankah perhatian, feminim, pengertian, rendah hati, menghargai sesama, menyadari kekuarangan dan sejenisnya, jauh lebih pantas menjadi alasannya? Sebuah alasan mengapa seseorang mencintai lawan jenisnya.
Sejak saat itu, aku jadi alergi dengan yang namanya cinta. Apalagi cinta sejati. Hubungan romantis, yang katanya adalah realisasi cinta. Ciuman yang katanya sebagai bukti cinta, atau bahkan bersetubuh. Tapi kenyataannya, ujung-ujungnya adalah perang. Cemburu, sakit hati dan sejenisnya. Itulah yang memiringkan atau bahkan membengkokkan persepsiku tentang cinta. Maksiat, Taqrobuzzina, bibit kesuraman cita-cita dan lainnya, merupakan satu-satunya yang tertanam dalam benak hatiku. Oleh sebab itu, tepat di tengah kehangatan malam bulan purnama, aku menorehkan setetes tinta di buku harian jiwaku ‘aku tidak ingin di kenal apalagi berkenalan dengan yang namanya cinta, sedikitpun, sempai kapanpun”.
“Ra.. apakah kau mencintai Ibumu? Juga Tuhan?”
“Tidak! Itu bukan cinta”
“Lalu?”
“Darrr!”
Batu besar, seakan baru saja menghantam dan meremukkan segala yang ku miliki. Aku tertegun, diam membisu, sejuta bahasa seakan kaku membeku di tenggorokan. Seperti ada gejolak yang begitu dahsyat dalam jiwa. Bak gelombang pasang di semudera liar. Kerikil-kerikil kecil saling berbenturan satu sama lain, seakan di paksa keluar dari ragaku. Kalimat yang keluar dari bibir seorang yang aku hormati itu, seakan menyuruhku untuk menjilat habis ludah sendiri di lumpur penuh tanah. Tapi rasa hormatku tidaklah luntur sedikitkpun. Aku tidak bisa memungkiri, apa yang aku persepsikan tentang cinta, ternyata salah besar.
“Cinta itu tak selamanya penuh noda. Cinta itu begitu berharga. Tangga menuju istana Tuhan”. Begitulah kira-kira bahasa yang tumpah dari senyum manisnya, mbakku, yang terlahir dari rahim bunda Hawa. Ibu dari semua umat manusia. Aku, dia, dia yang ada di pucuk daun hatiku, akan menjadi pelita, mereka yang aku banggakan, seorang mbak baru yang juga selalu ngebanggain aku, sahabat-sahabat yang sdelalu ngerjain aku, ngatain aku yang tidak-tidak, bahkan orang ketiga yang ingin menghancurkan hidupku, adalah satu rumpun yang tidak bisa di pisah-pisahkan. Nasehatnya patut aku hargai.
***
Hari demi hari berganti, persepsiku tentang cinta yang hanya mengganggu kehidupan mulai terkikis. Aku mulai menyadari, bahwa cinta itu adalah anugerah. Dengan cinta, tolong-menolong ada, kedamaian, persatuan, kasih sayang, saling menghormati. Semua itu karena cinta. Walaupun terkadang aku temukan adanya kebencian, tapi bukankah tidak akan ada benci kalau pada hakekatnya adalah cinta.?. semua itu hanyalah merupakan perkosaan dari yang sesungguhnya saja.
Mungkin yang selama ini aku persepsikan itu adalah cinta Remaja, kemudian menjadi suatu persepsi yang utuh. Ternyata itu salah besar, tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Cinta remaja itu memang harus di kendalikan, beda dengan cinta pada Tuhan, orang tua, alam. Jika tidak, maka tak jarang akan terjadi perempuan hamil di luar nikah.
Mengenai cintaku kepada seorang dara, tak akan ku bunuh, karena ia termasuk juga anugerah luar biasa untukku. Yach.. seorang dara yang mampu memberikan ketenangan, lewat seraut wajah yang ia pancarkan dalam pengembaraan sukma yang kelam. Bahasa, tatapan dan langkahnya adalah hatinya. Ia selalu menjadi teman imajinasiku kala berkelana. Berbagi dan mengisi ruang yuang begitu lama kosong dan hampa, juga sunyi. Ibarat bidadari dan para malaikat yang selalu menjadi pengisi bisunya malam. Suara mereka yang menggelegar dan lembut, seolah memenuhi jagat raya yang sepi dan tenang. Mereka senantiasa bertasbih kepada Tuhan yang maha pengasih lagi penyayang. Namun biarlah ia ada dalam relung hati saja. Bagiku itu sudah cukup. Inikah cinta? Sejati? Terserah! Aku tidak perduli. Jika memang ia tercipta untukku. Tidak akan jatuh dimanapun kecuali ditanganku. Tidak akan kemana-kemana kecauli ke pangkuanku.

Guluk-guluk, 2008


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.43 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: