TRAGEDI CEMPAKA

TRAGEDI CEMPAKA


Sekuntum bunga Cempaka tiba-tiba jatuh. Padahal angin sama sekali tak terasa menggelitik bulu roma. Pohonnya pun tak terlihat bergerak. Ada apa sebenarnya? Ah! Memang sudah waktunya ia gugur.

Beberapa saat kemudian, Cempaka itu remuk terinjak kaki diatas sandal keras seorang laki-laki paruh baya yang berjalan setengah berlari. Punggungnya berair. Wajahnya kacau dan matanya memerah seperti penuh kehawatiran. Pandangannya jauh kedepan, melampaui langkah kakinya sendiri yang serasa melambai begitu labat ia rasakan. Sepertinya ia sangat terburu-buru. Ingin cepat sampai pada tujuan. Tapi untuk membuktikan kehawatiran yang tertancap didadanya, hingga tak sempat ia sadari keadaan sekitarnya. Ia tak sadar bahwa harum cempaka telah terkapar-ringsek di bawah sandalnya.

Satu bunga Cempaka musnah sudah, tanpa sempat mencumbu kerinduan hidung-hidung mancung atau pesek yang telah sekian lama menantinya. Asa yang mulai membuncah itu kini pupus sudah karena hentakan kaki tak tahu tanggung jawab.

Satu menit berlalu. Cempaka malang itu kuraih, lalu mendekatkannya kehidung meski ia telah remuk. Sangat terasa wanginya yang telah tercemar bau tanah. Aku sedih. Harum Cempaka yang begitu khas, yang kunanti-nantikan kesempatan untuk bisa menghirupnya, ternyata tak dapat terwujudkan secara sempurna. Semua ini gara-gara kaki sialan itu.

Aku jadi teringat akan peristiwa tragis yang dialami sepupuku, beberapa tahun silam. Ia terbaring tiga bulan lamanya di atas kasur kebosanan gara-gara ditabrak lari seorang pengendara mobil pick up. Kedua betisnya patah.

Sopir bodoh! Ia tidak sadar bahwa ketika ia ngebut, berarti ia sedang mempertontonkan atau memberitahukan ketololannya pada orang banyak. Bukankah semua orang setuju bahwa ngebut itu berisiko fatal?—takbrakan. Hanya karena keegoan belaka, banyak orang mengabaikannya.

Astaga!

Aku terhenyak, meringis-nyeri. Karena ketika aku sadar, jari kedua tangan yang mengapit sehelai Cempaka itu sedang mengalirkan cairan merah. Lebih terkejut lagi, yang melukaiku ternyata adalah seekor kambing. Ia mengambil paksa bunga yang tertanam di tanganku. Mungkin karena terlalu kuat tanganku menjepit Cempaka itu. Hingga tangankupun turut ia gigit dengan gigi-gigi runcingnya.

Kambing sialan! Setelah berhasil mendapatkan makanan, latas pergi begitu saja. Tanpa memperdulikan apa yang telah ia makan. Tanpa menghiraukan korban dari kerakusan naluri hewaniahnya. Tidak bertanggung jawab. Ingin aku menghajarnya, tapi kuurungkan. Karena kupikir itu tidak akan membuat darah yang telah berceceran di tanah kembali mengalir dalam tubuhku.

Tiba-tiba aku teringat cerita teman—Syaiful Bahri—tentang tragedi tragis yang dialami seorang gadis, dulu—entah kapan.

Alkisah. Seorang gadis taat beribadah, menghargai tetangga, tidak sembarangan berbuat atau berbicara, pada suatu malam, entah mengapa tiba-tiba sekujur tubuh kurusnya terasa gatal tak tertahankan. Ia menggaruk sekuat-kuatnya sampai tangannya terasa ngilu. Ia bingung. Apa yang mesti ia lakukan. Untuk minta bantuan tetangga sebelah ia merasa tidak enak, takut mengganggu. Di tengah kekalutannya, ia ingat satu hal. Tanpa berpikir lagi, diambilnya air wudlu’ kemudian memasrahkan dirinya pada Tuhan yang maha kuasa. Namun hingga fajar memerah, ia masih saja tersiksa karena penyakitnya itu.

Ketika mentari mulai menjamah halaman rumah tuanya, ia terkejut mendapati wajahnya di cermin sudah penuh dengan luka. Hanya dahi, kedua mata dan bibirnya yang masih seperti semula—bersih bercahaya. Menyadari hal itu, ia memutuskan untuk mengurung dirinya sendiri di dala rumahnya. Spontan ia berubah. Ia tidak lagi pergi shalat berjamaah di masjid. Juga pengajian rutin setiap malam jum’at, atau kegiatan-kegiatan lain yang sebelumnya ia ikuti. Hari-hari ia lalui hanya dengan berdo’a kepada Tuhan agar dikaruniai ketabahan dalam menghadapi semua itu, yang ia yakini sebagai suatu ujian baginya. Hanya sesekali ia keluar dengan menggunakan penutup wajah, memetik sayur, memberi makan ayam-ayamnya, atau sekedar menghirup udara segar pepohonan di pagi hari.

Hari-hari berlalu menjadi minggu, lalu bulan, kemudian tahun. Gadis yang akrab dengan sapaan Paka itu mulai menjadi lipstik pemerah bibir hampir seluruh penduduk desa. Di mata mereka ia tampak misterius. Karena perubahannya yang tiba-tiba itulah banyak diantara mereka yang menaruh kecurigaan padanya. Bahkan, tidak sedikit yang sampai melemparkan tuduhan miring padanya. Apalagi saat warga tahu bahwa Paka kini sudah menyembunyikan wajahnya di balik kain. Banyak yang merasa tersinggung dengan aksesori yang tak seorangpun warga desa memakainya. Ada juga yang menganggap ia sok menirukan perempuan-perempuan Timur Tengah yang kebanyakan memakai cadar. Dan masih banyak lagi respon-respon yang kurang setuju dengan keputusannya itu.

Mengetahui hal itu Paka sedih. Ingin ia katakan pada seluruh warga, bahwa semua kecurigaan atau tuduhan-tuduhan itu tidaklah benar. Tapi ia bimbang. Karena jika warga tahu akan keadaan yang sebenarnya, berarti ia harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan warga perbuat padanya.

Paka bingung mesti berbuat apa. Di satu sisi ia ingin kembali seperti semula. Tapi di sisi yang yang lain, ada keraguan mendalam di hatinya.

“Ya Allah! Hamba sadar ini cobaan. Berilah hamba kemudahan menjalani semua ini” desah Paka, sembari beranjak mantap dari kursi kayu berdebu yang sudah sangat letih ia duduki. Seperti seorang prajurit yang hendak bangkit dari keraguannya.

“Ya Allah… lindungi hamba”

Dengan segala kekalutan yang membelit hatinya, Paka membiarkan rumahnya mati. Lalu melangkah ke Mushalla, melewati pasar, warung dan rumah-rumah warga dengan tanpa menggunakan penutup wajah. Beberapa orang yang menyaksikan pemandangan itu, ada yang spontan berteriak, ada yang lari terbirit-birit, ada pula yang meneriakinya hantu; termasuk ketiak ia sampai di Mushalla. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah Paka. Namun dengan keadaan Paka sekarang, mereka merasa mual melihatnya. Mereka juga tidak mau tertular penyakitnya.

Paka tak perduli. Ia terus melangkah gontai, menyisir jalanan yang seakan ingin memukulinya. Apapun yang terjadi setelah itu ia tak perduli—setelah warga tahu dengan keadaannya kini. Namun yang jelas, Paka sudah siap menerima apapun yang akan mereka perbuat padanya. Semua itu demi mematahkan rentetan fitnah yang mengarah padanya.

Keesokan harinya. Saat burung-burung mulai berkicauan di dahan dan ranting-ranting yang rapuh. Segenap warga datang berbondong-bondong ke rumah Paka dengan amarah dan kebencian memuncak. Mereka menginginkan gadis malang bernama Cempaka itu segera keluar dari desa mereka. Mereka menganggap penderitaan Paka itu sebagai aib desa yang harus disingkirkan. Tapi Paka tidak bergeming. Warga semakin garang. Kemudian, satu persatu dari mereka berlari ke arahnya. Mereka menggebuki tubuh yang seakan hanyalah tulang dan kulit itu dengan tanpa akal sehat sedikitpun. Lebih serupa sekawanan Singa yang sedang menikam mangsanya dengan sadis. Saat tenaga mereka telah terkuras habis, mereka baru sadar bahwa Paka telah tak bergerak lagi. Ada segelintir sesal dan perasaan bersalah terselip di antara gundukan-gundukan benci dalam hati mereka. Menyadari hal itu, kemudian warga sepakat untuk menguburkan jenazah Almarhumah dengan layak.

Seminggu kemudian, warga dikejutkan oleh aroma bunga setaman yang begitu khas—belum pernah mereka dengar sebelumnya—dan seberkas cahaya putih kekuningan, terpancar dari rumah yang pernah mereka datangi dengan amarah dan kebencian. Belum selesai mereka dengan tanya hati masing-masing, lagi-lagi mereka harus takjub untuk yang kedua kalinya, menyaksikan sebatang pohon buruk rupa, dengan bunga-bunga bermekaran pada ranting-rantingnya, tumbuh segar di atas kuburan Cempaka. Dan aromanya, persis seperti yang pernah mereka endus di rumah Cempaka pula.

***

Letih pikiranku bercerita, tiba-tiba kudapati diriku telah tenggelam dalam samudera air mataku sendiri. Beribu kuntum Cempaka pun tiba-tiba berguguran satu persatu. Serupa hujan di halaman pondokku.

“Jika manusia menangis dengan air mata, maka Pohon Cempaka ini menangis dengan menggugurkan bunga-bunganya” batinku seketika.






share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 19.15 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: