Dua tahun yang lalu, Ibu tersayangnya meninggal dunia. Enam bulan berselang, Isteri tercintanya pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Satu bulan berikutnya, anak satu-satunya juga menyusul. Semuanya telah tiada, pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun atau apapun. Jadilah pak Semon menghuni rumah redup itu sendirian. Tapi apakah semua itu yang menjadi penyebab perubahan yang terjadi pada pak Semon? Entahlah! Dia tidak pernah bicara tentang hal itu sejak tiga tahun yang lalu. Dan, saat semua anggota keluarganya pergi, tidak ada setetes air matapun yang tumpah. Juga tidak ada ratapan atau apapun, sebagai tanda ketidak relaan terhadap hadirnya batu nisan.
Sore itu, mendung mengukir cakrawala dengan warna kelabu. Orang-orang lari terbirit-birit mencari tempat beratap untuk berteduh, menghindar dari milyaran butir hujan yang jatuh dari balik mendung tebal mencekam. Petir menyambar, guntur menggelegar. Seolah semesta sedang murka. Daun-daun pintu dan jendela di tutup rapat-rapat. Ada kekhawatiran terhadap hadirnya bencana.
Tapi tidak dengan pak Semon. Dia justru asyik menyaksikan kuburan-kuburan yang sedang mandi di halaman rumahnya itu, tempat dia duduk termangu setiap hari. Saat hujan menggila, pak Semon bangkit dan mengangkat wajahnya kelangit. Seakan-akan dia mempertanyakan sesuatu yang telah terjadi. Kemudian dia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Lentur sekali. Mirip gerakan teater dalam suatu panggung pertunjukan. Saat hujan mulai reda, pak Semon kembali duduk termangu seperti semula, sebelum datangnya hujan. Lalu, di timbunnya tanah yang sudah menjadi lumpur itu dengan tangannya sendiri, hingga menjadi sebuah timbunan tanah yang membukit. Mirip kuburan, tapi tak ada nisannya.
“Apa yang sedang pak Semon buat sebenarnya? Kuburan? Kenapa tidak ada nisannya? Bukankah setiap kuburan itu pasti memiliki batu nisan?” bisik mereka dari balik jendela yang gemetar kedinginan. Tak ada yang berani mengatakan dia gila. Orang-orang lebih melihat semua itu sebagai simbol-simbol penuh makna. Meski ada komentar, mereka memutuskan untuk nyeloteh di pinggir ujung jalan sana. “karna dia adalah seorang pemerhati budaya”. Kata salah seorang dari mereka meyakinkan.
Ya… pak Semon sekarang sudah berubah. Tidak seperti dulu. Setiap sore. Dengan suara lantag dia menyeru seluruh warga untuk tetap mempertahankan kebudayaan-kebudayaan arif. Penuh dengan nilai-nilai luhur. Kini, hari-harinya dia lalui dengan duduk termangu semata. Kalau hujan turun, pastilah ada kuburan tak bernisan yang menemani kuburan “Suti. Sekar. Iwan.”. Itulah satu-satunya aktivitas pak Semon saat ini.
Suatu hari, ada seseorang memberanikan diri untuk datang menemui pak Semon, dan menanyakan semua itu; tentang kuburan-kuburan tak bernisan di halaman rumahnya.
“Tak ada gunanya aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu”.
“Kenapa? Mungkin aku bisa membantu meringankan beban yang menumpuk di kepala pak Semon itu”.
“Tidak! Percuma aku cerita. Kamu tidak akan mengerti. Walaupun kau mengerti, tak mungkin kau mau menggali kuburan-kuburan tak bernisan itu, lalu menghidupkannya kembali seperti sedia kala”.
“Mengapa begitu?”
“Karna kuburan-kuburan itu, bukanlah kuburan anakku, bukan kuburan istriku, juga bukan Ibuku”.
“Lalu?”
“Semua itu aku lakukan, sebagai salah satu bentuk rasa barsalahku. Karna tidak mampu menyelamatkan beribu nyawa kebudayaan yang malang”.
“Maksud pak Semon?”
“Ya! Budaya kita. Semuanya, sekarang musnah sudah. Di gantikan dengan budaya-budaya murahan dan memalukan. Masih ku ingat ketika lantunan suara merdu dari langit-langit Mushalla satu-satunya itu menggema. Suasana sepi di malam yang masih muda, tiada lain karena anak-anak yang sedang belajar. Membaca, menulis, berdiskusi dan sebagainya. Juga anak-anak sekolahan yang berjalan dengan sopan menuju sekolah mereka masing-masing, betul-betul bisa di harapkan menjadi generasi yang baik dan bisa di andalkan. Tapi sekarang? Kini semua itu layaknya mimpi yang pernah hadir dalam benakku. Juga siapapun yang merasakannya.
“Darrr!”.
Seisi dunia seakan vakum serentak, takjub dengan bahasa yang lama terpendam dalam keheningan bibir pak Semon, lalu tumpah memandikan dunia yang penuh dengan noda yang kini sudah mewarnai dunia, akibat ulah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Sementara air bening semakin beriak dari sudut matanya yang mulai menyempit. Menjadi banjir terhebat sepanjang perjalanan hidupnya.
“Aku sudah tidak tahan lagi, menyaksikan, lalu menguburkan jasad-jasad tidak bersalah itu setiap kali hujan reda, yang sebetulnya tak pantas terjadi” desah pak Semon dengan nafas tersengal, membelah kesunyian yang terjelma dari fentilasi rumahnya.
Hari sudah mulai menua. Pak Semon tiba-tiba menghentikan tangisnya. Mungkin sudah tidak ada lagi air untuk mengalir dari matanya. Giliran garis-garis wajahnya yang menampakkan kesedihan yang teramat dalam. Karena setiap sore atau malam, mendung biasanya datang menggumpal. Lalu turunlah hujan.
Tepat sekali. Musim hujan kali ini memang sangat baik hati. Hingga setiap hari di turunkannya hujan. Tapi ada yang aneh dengan musim basah ini. Tidak seperti biasanya, kali ini hujan turun lebat sekali. Bahkan dari saking derasnya, orang-orang di depan mata sekalipun tidak terlihat bayangannya. Hanya guntur dan petir yang tampak berlarian memenuhi semesta. Menyapa para makhluk dibumi. Tapi mengapa orang-orang pada ketakutan? Bukankah kehadirannya itu menjadi penghalau kesunyian dalam dingin membeku?.
“Kebudayaan macam apa lagi yang mesti aku kubur?”
Selesai bahasa itu muntah, seketika hujan mulai reda. Menyisakan rintik-rintik lembut, menutupi lubang-lubang yang menganga karena hujaman hujan. Sementara pak Semon, sudah terbujur kaku di tempat tidur tak berkasur itu. Kembali diam tak bersuara, termangu. mungkin untuk selamanya. Tangannya sudah tidak mampu lagi mencakar-cakar tanah untuk sehelai kuburan tak bernisan di halaman rumahnya. Mata dan ukiran wajahnya kini telah tenggelam, tidak lagi bisa mengekspresikan kesedihan yang beku dalam dadanya.
Orang itu kemudian beranjak pergi dari rumah yang sudah redup itu. Namun tiba-tiba langkahnya mati, ia teringat dengan kebiasaan pak Semon saat hujan mulai reda.
Tanah sudah menjadi lumpur. Setelah orang itu pergi menyisakan jejak kaki telanjang diatas jalan yang becek. Ada kuburan satu lagi. Lebih besar. Tapi juga tak bernisan. Ia membiarkan rumah itu sepi dari mahluk apapun. Menjadi sebidang tanah tempat penumpukan berjuta kuburan yang tidak bernisan. Sampai kapanpun tetap tak bernisan. Tidak akan pernah.
Lubselia Corner, 2008
* Sebuah deskripsi dari bahasa yang muntah
dalam sebuah petunjukan Teater
“Rumah Yang Terkuburkan”
Posted by , Published at 08.05 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar