“Degggggg”
Anganku melayang. Sebungkus kenangan masa lalu tiba-tiba sanggat di tengah pengembaraan imajinasi. Kenangan yang setiap kali hadir selalu memiliki kesimpulan berbeda; kadang konyol menggelikan. Kadang pula begitu mengharukan, penuh perjuangan serta pengorbanan. Atau bahkan tidak ada kesimpulan sama sekali. Sesekali aku merasa tidak perlu ada komentar tentang pengalaman masa kanak-kanakku itu. Karena komentar tetap saja komentar, yang lewat begitu saja seperti sapuan angin.
Masih melayang. Tapi kali ini tentang peristiwa yang baru saja menjadi kenangan usia 18 Th. Tentu saja berbeda dengan peristiwa-peristiwa 10 tahun lalu, yang juga kenangan. Lebih seru. Lebih banyak dan pedih meneteskan air mata. Senyum yang terukir juga lebih bermakna. Betapa tidak, semua itu lahir melalui pertimbangan-pertimbangan yang mungkin matang. Atau paling tidak, masa itu sudah bisa di rasakan tatkala peristiwa itu tercipta, lalu menjadi kenangan.
“Kamu memang lebih. Aku nggak pernah punya teman sepintar kamu. Cuma sekarang aku punya teman like you. Aku bangga sekali. Aku nggak akan pernah kecewa punya teman seperti kamu”
Ada keganjilan terhitung di hati; baru kali ini ada orang yang rela melemparkan kata yang begitu mahal haganya, juga kurang pantas untuk orang rendahan seperti aku. Karena aku sadar. Aku hanyalah orang yang hanya mempunyai sedikit otak cerdas. Itupun tidak seberapa. Selain itu, layaknya aku menjadi sampah.
Aku adalah anak satu-satunya dari pasangan suami isteri bahagia di gubuk reyot. Makanan kurang bergizi yang menjadi konsumsiku sehari-hari, menjadikan tubuhku kerempeng. Keseharian yang aku lalui di sawah membantu bapak bekerja turut menjadikan kulitku hitam. Wajahku penuh debu. Pakaianku lusuh. Sempat aku berfikir bahwa hidupku ini percuma. Tapi aku tidak punya nyali yang cukup untuk mengahirinya begitu saja. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh suka cita dan apa adanya, sambil berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan diri bahwa ia harus tetap hidup. Bukankah hidup ini berputar?
Kawan!
Kenapa persahabatan ini terjalin?
Kenapa pula perpisahan menyapa kita?
Kenapa gelang ini berbunyi?
Apa khayalan ini?
Hanya kutahu
Ataupun kau
Perkara ini tiada
Siapa yang tahu
Kawan………
Kenapa celak mata senyum?
Kenapa matamu pedam?
Apa perubahan melandamu?
Friend………
Jadikanlah persahabatan kita
Menjadi persahabatan yang hakiki.
Seharian kudekap kertas biru salju itu. Setelah selesai kubaca, saat itu juga aku mengulangiya lagi. Kutela’ah satu persatu liukan huruf-hurufnya. Kalimat demi kalimat dan seterusnya. Perasaan bahagia dan kebingungan bercampur menjadi satu adonan matang dalam dadaku. Betapa tidak, baru kali ini ada surat dari cewek untukku. Seperti mimpi. Sulit aku sadari sebagai sebauh kenyatan.
Apakah gerangan yang membuat ia begitu perhatian padaku? Apa sebetulnya yang ia temukan dari seorang pemuda rendahan seperti aku? Hingga begitu berharga untuknya? Ataukah ia hanya mempermainkanku? Buktinya, sudah tiga kali aku kirim surat. tapi tidak satupun yang ia balas. Inikah perempuan? Entahlah! Sulit aku simpulkan, semua itu terlalu rumit untuk aku terka.
Guluk-guluk, Maret 2008
Posted by , Published at 08.12 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar