DAIRY

DAIRY

Kehadiranmu membuat hidupku lebih hidup, lebih berarti dan lebih segalanya. Setiap saat kau selalu ada untukku. Ya… sekedar berceita tentang alam, sekolah, sungai, hidup dan apapun yanng ku dapat dan ku alami setiap waktu. Satu hal yang kusuka darimu. Kau selalu setia mendengarkan apa yang aku ceritakan. Tak perduli itu kebahagiaan ataupun penderitaan. Kau benar-benar telah membuat hidupku berubah, tidak seperti dulu ketika aku masih betul-betul sendiri. Dimana aku tidak lebih dari sebuah gudang tempat penumpukan berjuta masalah dan kebimbangan. Aku yang sekarang adalah aku yang berani menghadapi kehidupan seperti apapun, berani melangkah sedikit lebih maju kedepan, dan berani mengatakan “aku adalah aku”. Sampai kapanpun kau takkan kulupakan dan ku tinggalkan. Bagiku engkau sangat berarti. Tak sanggup ku bayangkan jika tanpamu ku arungi bahtera kehidupan ini. Kau ibarat obor penerang jalan yang begitu gelap dan pekat mencekam. Berkat engkau, aku bisa melalui jalan-jalan yang penuh dengan sandungan itu. Sandungan yang dapat membuat aku terjatuh dan terluka, kemudian berhenti melangkah, berhenti mengayunkan kaki kehidupanku karena penuh luka dengan darah berserakan, mengalir deras ke seluruh persendianku .dan akhirya kaku membeku. Kemudian matilah hidupku. Sempat aku berfikir bahw kau adalah Tuhan. Tapi cepat-cepat aku menyagkalnya, karena aku telah bertuhan. Tuhan yang maha segalanya.

Aku adalah aku

Aku disini, bukan karena engkau

Buka karena dia, bukan karena mereka

Aku adalah alam, milik Tuhan

Dan akan kembali padanya jua.[1]

Sejujurnya, dan coba buktikan, tidak seorang pun akan percaya terhadap apa yang aku katakan tentangmu. Termasuk diriku. Tapi entah kenapa, aku merasa uyaman, tenang, dan tentram saat bersamamu, saat puas aku menceritakan satu hal padamu. Mungkin kaupun tak percaya, bahkan geli mendengarnya. Tapi aku bicara apa adanya, tidak di kurangi, apalagi di tambah. Mungkin sebagian orang menganggap aku sudah tidak waras, kesambet dan sebagainya. Mungkin juga mereka akan menyingkirkanku. Aku bersumpah! Akan menghadapi siapapun dan apapun yang mencoba memisahkanku darimu. Apakah salah jika aku mendapatkan dan menikmati sepercik cahaya kedamaian hidup darimu?.

Mungkin orang akan mengatakan “sia-sia kau melakukan semua ini, tidak ada gunanya”. Tapi aku tak perduli, aku berani bersumpah, mereka berkata demikian karna tidak tahu apa yang aku rasakan. Kalau saja mereka merasakan betapa indahnya bersamamu, mereka akan melakukan apa saja demi engkau. Percayalah!.

Kau ibarat setetes air yang bisa memadamkan gumpalan api amarah di jiwa. Memberikan kesejukan pada setiap hati yang kau singgahi. Hati sekeras apapun pasti akan luluh saat kau bersemayam dalam kekalutannya. Meski kau hanyalah tempat pelampiasan, tapi karena ketulusanmu itulah, semua kesah seakan sirna, terhembus angin lalu, terbang jauh entah kemana hinggapnya. Sepercik sinar, setetes embun, sebait kata. Ah, semua itu terlalu sederhana untuk menggambarkan kehadiranmu. Kau ada didunia, tapi mengapa tidak satupun pantas dijadikan perlabangmu? Apakah memang, engkau tidak untuk di perlambangkan?.

Dairy… saat ini aku sangat bahagia. Aku mendapatkan begitu banyak perhatian dari seorang perempuan. Meski hanya sebatas sahabat, tapi itu sudah cukup membuatku bahagia. Kau tau? Seumur hidupku, baru kali ini ada uluran tali untukku (dari cewek cantik lagi! Alamaa’ jadi ke GR-an nih). Tapi aku bingung, sebenarnya apa yang ia lihat dariku. Udah pendek, hitam, kurus, jelek, miskin, egois lagi. Pinter? Ah, enggak juga!. Atau mungkin dewi fortuna yang kebetulan lewat, hingga membuat ia melihat sesuatu yang aku sendiri tak merasakannya. Wah! Tambah bingung saja. Kok bisa ya…? Padahal dari segi umur, tampang, postur tubuh, tingkat pendidikan, apalagi ekonomi, ia jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku. Pokoknya lebih segalanya

Sebelum berakhirnya kursus, kursus yang menjadi penyebab semua ini (saling tanya kabar lewat surat, curhat, saling berbagi, tukar kado dan sebagainya). L-fa dulu sempat mempersembahkan sebuah puisi untukku. Mungkin dari hatinya.


Kawan!

Kenapa persahabatan ini terjalin

Kenapa pula perpisahan menyapa kita

Kenapa gelang ini berbunyi

Apa khayalan ini

Hanya ku tahu

Ataupun kau

Perkara ini tiada

Siapa yang tahu

Kawan………

Kenapa celak mata senyum

Kenapa matamu pedam

Apa perubahan melandamu

Friend………

Jadikanlah persahabatan kita

Menjadi persahabatan yang hakiki.


Dari sekian banyak surat yang ia tulis, kelihatannya bukan atas dasar persahabatan, ataupun saudara semata. Di setiap liukan abjad yang ia ukir, dari setiap kertas indah yang ia kirimkan, seakan memberiku isyarat, bahwa ia memberiku sebuah kesempatan dalam hidupnya, tapi entah untuk apa. Tapi, jujur, aku membalas surat-suratnya semata-mata ingin menghargai. Aku tidak ingin melukai hatinya, perasaannya, ataupun persepsinya terhadap kaum lelaki. Aku tidak ingin mencemarkan nama baik laki-laki di mata perempun, termasuk dia. Aku tidak ingin perempuan berpandangan yang bukan-bukan tentang laki-laki. Tapi, mengapa akhir-akhir ini aku sering melihatnya dalam setiap lamunan panjangku?, ketika ia telah pergi, saat surat-suratku tak lagi ia balas, aku justru merasa kehilangan sesuatu yang seakan sangat berharga.

“Cinta…?”

“Aku mencintainya?.

“Tapi mengapa baru sekarang? Saat bunga-bunga di taman hatinya mulai menampakkan kelayuannya, ketika mata hatinya telah tertutup kabut tebal bernama kekecewaan. Salahku, telah mencampakkannya, membiarkan asanya buyar. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Cahaya cintanya redup sudah, diterpa gelombang ketidak pastian dari orang terburuk didunia, tapi mungkin baginya adalah malaikat. “O…! Seharusnya aku lebih banyak tau tentangmu. Mengapa saat bersamamu kusia-siakan waktu? Mengapa aku tak menanyakan langsung segala yang mesti kuketahui tentang dirimu? Siapa menyangka kau akan pergi. Siapa kira kita akan saling meninggalkan. Tapi mengetahui dirimu atau tidak, tak akan mengurangi kekagumanku padamu. Kalau saja waktu dapat dibalik kembali kesaat itu, aku rela hidup seperti apapun, asalkan dapat melihatmu seperti saat itu. Andai waktu dapat ku genggam, aku akan memandangmu sampai habis dan menyatakan rasa cintaku padamu. Dari waktu ke waktu. Sampai akhir hayat.

Dengan butiran mutiara yang hampir menjadi batu ini.

Dengan isi hati yang nyaris beku di samudera es bernama tangisan hati.

Aku ingin kau mengerti, meski pintu hatimu sudah tertutup rapat, terkunci kuat, (mungkin karena sudah ada sesuatu yang bisa memberimu kebahagiaan)


Walau bahasa ini sampah, aku hanya ingin kau tahu,

disaat yang terlambat in,. di malam yang hampir pagi ini,

aku mencintaimu sedalam-dalam hatiku.

Dengan kalimat ini, mungkin berjuta penyesalan akan kikis.

Tapi bukan habis.

Walau yang terjadi bukan harapan, namun setia itu pasti, perasaan itu bersemi.

Bersamamu atau tidak, bagiku tak mengapa, asalkan kau bahagia.

Tapi jika hanya membuat sinar aura wajahmu redup, aku bersumpah demi Tuhan, sungguh tiada rela sedikitpun.

L-fa, setelah ini, janganlah kau bersedih karena iba atau karena apapun.

Teruslah berdayung menyusuri kehidupan bahagiamu.

Jangan sekali-kali kau menolehku, karena itu akan memberatkan kakiku beranjak pergi, mencoba menyadari diri dalam kenyataan yang sebenarnya.


Tapi Dairy… dia sudah berubah. Dia tidak lagi seperti L-fa yang ku kenal. Seorang L-fa yang begitu perhatian, selau berbagi dan bercerita banyak hal tentang dirinya, juga diriku. Sekarang dia lebih suka menyendiri dan tutup mulut. Bayangkan! Sudah tiga kali aku kirim surat, tapi tak secarik kertas pun ia terbangkan untukku. Bahkan, sampai foto satu-satunya, yang selalu menjadi teman menjelang tidurku, terpaksa ku berikan, hanya demi mengharapkan pengobat kerinduanku pada sabda-sabda sejuknya. Tapi bagaimana hasilnya? Nihil….

Dairy… sejujurnya aku benci dengan semua ini. Kalau memang aku punya salah, kenapa tidak marahi saja aku. Dulu L-fa pernah bilang ‘kamu memang lebih, aku nggak pernah punya teman sepintar kamu. Cuma sekarang aku punya teman seperti kamu, aku bangga sekali. Aku nggak akan pernah kecewa punya teman seperti kamu’. Tapi nyatanya? Entahlah… Saat ini, ia diam seribu bahasa. Masihkah ia memujiku setinggi langit? Atau sebaliknya. Masihkah ia memegang tali persahabatan, atau saudara itu? Kalau iya! kenapa tidak cerita kalau punya masalah? kenapa ia tidak mau berbagi jika mendapatkan kebahagiaan? Aku khan adiknya! Apa salah jika aku ingin tahu apa yang terjadi pada mbaknya? Bukankah itu kewajiban? Kalau sudah begini, aku tak tahu harus berbuat apa. Dan jika aku melakukan sesuatu, kurasa tidak akan nyambung. Tidak jelas mana kepala mana ekor. Mungkin lebih baik aku diam. Tapi tak mungkin, sebab bagiku, ini adalah masalah besar yang harus segera di selesaikan. Harus jelas mana Matahari mana Bulan. Bagiku, ketidak jelasan ini (apakah ia masih menganggapku adik?), harus segera di akhiri. Karena, dalam kegelapan aku tak bisa memastikan sesuatu. Semua pertanyaan ini harus lekas terjawab. Sebab, jujur, ini beban buatku. Aku merasa terbebani dengan semua ini. Di satu sisi, sebagai adik, aku ingin tahu kenapa L-fa yang dulu begitu perhatian, kini sudah acuh tak acuh. Tapi disisi lain, aku takut kehadiranku hanya akan membuatnya risih dan terusik ketenangannya, dengan suatu kesibukan yang entah itu apa.


“Dairy… kau adalah Diary terindah dalam hidupku. Terima kasih banyak. Karena denganmu aku bisa menumpahkan segalanya”.

Lubselia Corner, 2007

Kado Buat 05 Nopember



[1] Petikan Puisi “Rosifi R-Bief” pada rutinitas acara Organisasi Pemuda Al-Kautsar Lengkong




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 07.58 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: