PETUAH BUNDA

PETUAH BUNDA

Beranda kumal itu tiba-tiba murung. Seperti baru saja ada kesedihan terjadi di sana. Biasanya, selalu ada gelak tawa di setiap pojok beranda yang kira-kira berumur tiga puluh tahun itu. Cukup tua. Namun selalu saja memberikan sejuata kehangantan yang begitu nikmat. Tapi itu dulu. Kali ini, dihari yang hampir siang ini. Semuanya seakan musnah ditelan sesuatu yang tidak jelas.
Apa yang terjadi sebenarnya? Beranda itu sekarang tak ubahnya area pekuburan yang selalu menjadi hal paling manusia takuti. Setiap waktu bergerak, tak ada yang membelainya kecuali kesunyian dan kesuraman. Hanya nestapa yang mulai menggurat garis-garis lantainya, yang sanggup terukir dari beranda redup tak bercahaya itu. Bukan karena tempatnya yang terlalu tertutup sehingga tidak bisa membuat bongkahan sinar menjamahnya. Melainkan karena ia sudah kehilangan salah satu sudut kebahagiaan itu.
Untuk yang kesekian kalinya beranda bobrok itu me-reka ulang sebuah tragedi paling memilukan sepanjang hidupnya. Sekelebat peristiwa yang telah menguras air mata dari taman penuh bunga. Sungguh memilukan. Pelukan hangat penuh kasih, tutur kata yang terputus-putus, kecamuk hati, hingga lambaian berat sebelah tangan di iringi derai air dari sudut mata yang mulai memerah. Semuanya untuk yang terakhir kalinya. Mungkin harus menunggu sang waktu mengembara, menjamah setiap jengkal hamparan bumi, hingga akhirnya sampai pada satu waktu yang akan mempertemukan kembali kerinduan yang mulai meronta. Itupun jika kehidupan masih sudi memberi kesempatan untuk merajut kembali cerita indah penuh kasih yang dulu belum selesai terbentang di tengah-tengah indahnya kebersamaan. Tapi bukankah tidak ada yang akan selesai? Bukankah karena hidup tidak hanya sampai di sini?
Jika diberi kesempatan untuk meneruskan semua kata yang sempat ragu diucapakan, tak kan ada koma atau titik yang hanya akan semakin mengulur-ngulur waktu untuk menuntaskannya. Kalau jauh hari sebelumnya kepergian itu diketahui akan terjadi, maka tidak akan ada air mata bergelombang menghantam dada. Namun inilah hidup. Tidak ada yang tahu tentang hari esok. Tidak ada yang sanggup meraba lusa atau Esok lusa. Seperti air mengalir di sungai. Tidak ada yang dapat memastikan air yang ia sentuh hari ini sama dengan air di hari esok.
Seiring hari mulai sore, walaupun berat terasa bergelantungan mengiringi setiap jengkal tanah yang semakin menjauh dari rumah tua itu. Namun dia benar-benar pergi meninggalkan sejuta kisah yang terlalu na’if kiranya untuk di kisahkan kembali. Seiring dengkuran knalpot mobil L300 warna biru tua itu, segudang kebahagiaan yang pernah terlukis indah kini telah berantakan, berserakan dimana-mana. Hanya air yang sepertinya tak pernah menginginkan menjadi air mata itu terus menggenangi mata yang sebelumnya selalu melukiskan rona-rona bianglala.
“Bunda… kenapa Bunda bersedih? Bukankah Bunda yang mengiyakan kepargianku kuliyah ke Jakarta? Apa Bunda berbah fikiran?”
Sunyi.
“Bunda… meskipun aku jauh dari Bunda, aku berjanji akan tetap menjadi anak Bunda. Aku tidak akan menjadi seperti Malin kundang atau Sangkuriang. Bagiku, Bunda adalah segalanya. Terlalu bodoh jika aku harus menggantikan Bunda dengan seluruh perhiasan dunia ini sekalipun”
Tak ada jawaban. Pertanyaan angkuh itu hanya dibalas dengan pelukan hangat seorang Ibu. Sepertinya tak sanggup lagi bibir lusuh itu melemparkan abjad-abjad murahan meski hanya untuk berucap Ya atau Tidak. Rasa bangga, hawatir, sedih, pasrah, asa, kecewa atau bahkan amarah bercampur menjadi adonan pilu tiada tara.
”Brangkatlah anakku, do’aku menyertaimu” serunya lirih hampir tak terjamah telinga telanjang.
“Satu yang Bunda inginkan darimu…” ucapannya tersedu.
“Apa itu, Bunda?”
“Di sana, tetaplah kamu menjadi dirimu sendiri. Seorang Ari yang tak pernah kenal kata menyerah dalam keadaan seperti apapun, ulet, sabar dan tidak menggadaikan harga diri dengan apapun. Hanya itu yang Bunda harapkan, sekaligus Bunda hawatirkan. Mungkin juga semua Bunda di desa ini yang ditinggal pergi putera satu-satunya.”

Guluk-Guluk, 31 Mei 2008


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.02 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: