“Itu berlebihan! Mana mungkin ada perempuan seperti itu….”.
“Tidak! Itu benar, dan tidak berlebihan. Hanya saja kau tak merasakan dan mencoba memahaminya”.
Sebagian orang menganggap berlebihan, itu wajar! Karna mereka tidak melihat seperti aku memandangnya. Mereka tidak merasa sedalam yang aku hayati. Tentang matanya, pipi, hidung, bibir, juga tentang wajahnya. Mata yang tak pernah berbohong, pipi yang selalu bergaris dua di tengahnya, hidung yang tak pernah terangkat, bibir yang tak pernah mencolok kedepan, atas, bawah, kanan, kiri, apalagi lenyap. Juga wajah yang selalu bersinar, memancarkan cahaya yang teramat terang nan indah.
“Bidadari?”
“Ya… dia adalah bidadari. Bidadari surgawi jiwa”
“Tapi kenapa ada disini?”
“Apa salahnya jika ia tinggal disini?”
“Bukanah bidadari itu suci?”
“Lalu…?!”
“Mengapa ia hidup didunia yang kotor ini? Dunia yang carut-marut serta penuh dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab”.
“Dunia ini kotor, dia suci, tidak ada hubungannya sama sekali. Dia akan tetap suci, sampai kapanpun. Sudahlah! Kamu tidak akan mengerti, hanya aku dan orang-orang yang tidak hanya terjebak dengan persepsi akal-akalan itu, yang faham tentang semua ini. Meski kebanyakan orang tak percaya, termasuk kamu, mungkin. Walaupun menurut mereka hal ini tidak masuk akal, tapi aku yakin dan percaya, bahwa semua yang tidak masuk akal tidaklah sepenuhnya salah. Bahwa ia adalah seperti yang kau sanksikan (bidadari). Bidadariku.
“Sesungguhnya, banyak bidadari yang menghampiri mereka semua, termasuk kamu. Terbang kesana kemari memenuhi jagat raya, menawarkan sebungkus kedamain dan ketenangan hidup. Hanya saja tidak ada yang memperdulikannya. Mereka lebih suka menjalani kehidupan ini dengan segala bentuk kehancuran yang tidak juga mereka sadari. Mungkin aku adalah salah satu diantara segelintir orang yang tidak akan pernah menghianatinya. Kalupun Bidadari terasa berlebihan, aku akan menyebut atau memanggilnya seperti yang mereka katakan untuknya dan yang lainnya. Perempuan”.
***
Mereka mengakatakan “barang siapa yang mencintai sesuatu, maka ia adalah budaknya”. Ya…, benar! Aku telah menjadi budaknya. Budak seorang perempuan suci. Bukan budak harta ataupun kekuasaan. Aku tak pernah merasa malu, apalagi hina, bahkan aku bersyukur menjadi budaknya. Karna ia tidaklah seperti perempuan kebanyakan. Perempuan yang serba wah!. Ia adalah kedalaman imajinasi para punjangga. Penuh dengan kelembutan. Ia melangkah menyusuri kehidupan dengan penuh perasaan. Luar biasa. Mulutnya tak pernah menghina, mencaci, juga tidak membicarakan kejelekan orang lain. Ia tidak pernah menyelipkan sesuatu dibalik ekor tatap mata indahnya. Ia selalu jujur pada semua orang, diri sendiri, juga pada hatinya. Aku tau itu. Ya, aku tau semuanya, karna aku ada dan selalu berteduh di beranda hatinya. Tempat aku berteduh dari berbagai perseteruan percuma dan memalukan.
Walau hanya sebatas memandang, meski mulutnya bisu, pun jua aku. Tapi jusru dengan kebisuan itulah, semuanya menjadi begitu indah, bermakna dan sejati. Mulut memang bisu, tapi hati kita bernyanyi, berkomunikasi, mendengar, meraba dan tersenyum. Semuanya dengan hati nurani yang selalu jujur, tulus dan apa adanya. Karna nurani tak pernah bohongi diri.Tidak seperti mulut yang hanya omong kosong.
Banyak orang mati sia-sia karna kekejaman bahasa bibir. Tapi kalau hati? Tidak satupun yang tahu kedalamannya. Maka berarti, tidak ada rintangan bagi pecinta yang menggunakan bahasa hati. Kalau mulut berbicara, dedauna pun mengerti. Itulah awal terbongkarnya rahasia yang mereka bangun. Manusia, hewan, dan apapun didunia ini, akan segera mengetahuinya. Tapi jika hati?, Siapa yang akan mendengar bisikan dan jeritannya?. Siapapun tidak akan mengerti. Yang mereka lihat hanyalah jasad-jasad beku. Tidak akan ada yang mengira bahwa ada yang sedang berpelukan mesra. Bahkan bersenggama di atasa gumpalan awan imjinasi.
Semua orang bilang “Perempuan itu butuh perhatian, walaupun dia tahu bahwa kau mencintainya, tapi dia butuh kepastian, dia ingin mendengar langsung dari mulutmu”. Tapi aku yakin, bahwa dia tidaklah seperti itu. Cintanya suci, begitu juga dengan cintaku. Walau tak sesuci cinta Qays dan Laila. Tak akan ku kotori kesucian itu dengan bahasa lidah yang tak bertulang ini. Yang mampu meliuk-liuk kesana kemari. Aku juga percaya bahwa dia juga tak ingin mendengar kata-kata cinta dari bibirku. Tapi dari hatiku. Karna hati kita sudah menyatu. Apa yang dia alami, juga aku rasakan. Deritanya adalah dukaku. Bahagianya adalah sorgaku.
Sungguh! Dia memang perempuan bisu. Bibirnya tak pernah bergetar membicarakan keburukan orang lain. Matanya selalu indah di pandang. Tak pernah sinis, apalagi iri. Wajahnya selau ceria meski terkadang sejuta persoalan menghadang. Dia selalu bisu dari hal-hal yang tak terpuji. Kata yang keluar dari bibirnya adalah do’a. bukan omong-kosong belaka.
Lubselia Corner, 13 Nopember 2007
Posted by , Published at 08.11 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar