JELITA CEMPAKA

JELITA CEMPAKA


Saat kalelawar mulai membayang merah tembaga di hadapan bundaran yang mengisyaratkan kepergiannya, dan burung-burung mengiyakan dengan membenam kepala dalam hangatnya sayap-sayap mereka masing-masing, cerita ini dimulai.

Kala itu, sang waktu menggoreskan tinta teramat hitam pada ruang keheningan, detik demi detik bergerak pekat, menit demi menit beringsut larut-cekam. Lampu-lampu panjang yang berderet tak mampu menghalaunya. Bahkan hanya membuat suasana semakin mengerikan, seperti mata buas srigala, harimau, dan sejenis binatang buas lainnya, yang bersinar sebatas ukuran matanya sendiri.

Segenap penduduk desa panik. Karena ternyata, suasana itu tidak hanya terjadi pada satu malam peristiwa terbunuhnya salah seorang warga yang di cap sebagai pembawa mala petaka. Sejak kematian gadis 17 tahun itu, malam-malam yang bergulir begitu gelap menakutkan. Ada kehawatiran jauh di lubuk hati para warga desa “jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kematian gadis itu”.

Aku tidak tahu pasti kenapa gadis yang kesehariannya jarang bicara, selalu mengenakan penutup wajah, dan tidak pernah berkata—apalalagi berbuat—kasar itu sampai dibunuh oleh warga desa. Karena saat aku pulang dari pondok, peristiwa itu sudah sempurna terjadi. Cuman, menurut kabar burung yang sampai di telingaku, gadis itu dianggap bukan manusia utuh; disamping karena kesehariannya yang jarang bicara—padahal desa ini tidak pernah sepi dari pembicaraan—, juga karena penampilannya yang jauh berbeda dengan penduduk desa kebanyakan, tepatnya karena ia memakai kerudung dan penutup wajah (cadar). Dan yang lebih menghobohkan lagi, ternyata, yang disembunyikan di balik cadarnya itu tiada lain adalah ulat-ulat besar yang hanya tidak melubangi dahi, mata dan bibirnya. Bukan hanya itu, gubuk reyotnya yang ketika disentuh angin bergoyang, kalau malam hari katanya memancarkan cahaya putih kekuningan dan menebarkan aroma bunga aneh yang tidak satupun warga mengenalnya, baik nama atau bentuk dan warnanya.

Nah! Karena keanehan-keanehan itulah, banyak warga menuduh gadis itu sebagai dalang atas kematian sanak keluarga mereka beberapa tahun silam, hasil perselingkuhan manusia dan iblis, kutukan, dedemit, dan masih banyak ungkapan-ungkapan menyakitkan lainnya untuk gadis malang itu.

Selang beberapa hari dari terungkapnya—atau hanya ungkapan belaka, aku tak tahu—misteri gadis yang tiba-tiba terdengar sebutan ‘si buruk rupa’ itu, tanpa ada kata sepakat sebulumnya, seluruh warga desa beramai-ramai mendatangi kediaman kepala desa setempat. Dengan obor di tangan masing-masing mereka menuntut agar gadis ‘si buruk rupa itu’ di usir dari desa ini. Karena kewalahan, tuntutan itupun akhirnya di iyakan.

Malam itu, tepat malam jum’at keliwon, yang menurut keyakinan mereka adalah malam merajalelanya makhluk halus dan dilaksanakannya upacara-upacara sesat, seperti santet, jampi-jampi dan sejenisnya. Maka dengan obor yang mulai redup karena kehabisan minyak, seluruh warga desa meneriak-neriakkan kalimat “usir, usir, usir”, menelusup ruas-ruas jalan yang tenang, memecah keheningan yang mulai larut dalam dekapan embun.

Sampai di halaman gubuk reyot penuh rayap itu, semerbak bunga aneh berterbangan dari celah-celah dindingnya, dan membentur indera penciuman mereka. Namun, hal itu justeru membuat amarah warga semakin berkobar. Seketika teriakan-teriakan usiran menggema, seolah hendak melumat gubuk itu bulat-bulat. Cukup lama, tapi gubuk itu masih tetap bisu. Setelah lama menunggu, kesabaran warga pun akhirnya kikis bersama suara-suara meraka yang mulai serak. Karana merasa tidak dihiraukan, beberapa warga nekat mendobrak pintu rapuh berlubang itu dan menyeret penghuninya dengan paksa. Seketika amarah seluruh warga memuncak, lalu, dipukullah tubuh kurus kering itu ramai-ramai. Alhasil, dalam beberapa menit saja, gadis yang malam itu tidak dengan penutup wajahnya pun roboh tak berdaya. Tapi warga malah semakin buas menghajarnya. Setelah merasa puas, meraka bubar, pulang ke rumah-rumah kaku masing-masing.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, sebagian warga yang tidak ikut dalam pembataian itu, yang tadi malam hanya bisa menyaksikan tragedi pilu itu dari jendela-jendela berdebu dengan mata sembab, mendapati gadis tanpa orang tua itu sudah tidak bernafas. Ada rasa sedih—atau mungkin sesal—yang dalam di lubuk hati paling dalam, tapi mereka bingung bagaimana melukiskannya, air mata mereka sudah kering ditelan kegelapan. Akhirnya mereka sepakat untuk diam-diam mengubur tubuh dingin itu dengan layak.

Nah! Sejak saat itulah malam-malam berlalu amat gelap menakutkan, dan tepat pada malam ke tujuh ini, malam amat sangat pekat.

00:00 WIB. Tiba-tiba… ada suara kentongan dipukul dengan tergesa-gesa. “Sepertinya… ya, dari area pekuburan” Aku berjalan setengah lari, sambil mencoba mengendalikan kehawatiran yang mulai menyesaki dada.

Sampai di pekuburan, kudapati orang-orang sudah kaku termangu. Takjub. Betapa tidak! Dari atas kuburan Cempaka—padahal baru berusia satu minggu—, tumbuh sebatang pohon dengan bunga-bunga indah berwarna dan wangi, persis seperti harum bunga dan warna cahaya yang memancar dari gubuk reyot yang pernah di klaim sebagai sarang mala petaka, dan sampai saat ini pun masih seperti dulu.

“Bunga cempaka!!!?”

Moh. Warid

Lengkong-Madura, 15 Juli 2008




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 18.57 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: