TENTANG SUNYI

TENTANG SUNYI


Malam bertabur bintang. Katak dan jangkrik mulai berdecak-decak, mungkin kagum atau apa, aku tak paham. Rembulan sebesar piring tampak meloncat dari balik kegelapan semak-semak pegunungan sebelah timur. Terangnya masih ragu, tapi kehangatan sudah mulai memeluk dingin. Daun-daun pepohonan tampak tersenyum ria. Kerikil-kerikil berdebu tak lagi bersedih. Rembulan, cahayanya tak pilah-pilih permukaan, semuan ia sinari. Hingga luntur debu-debu pekat, sampai usai kesedihan, hingga senyum merekah, sampai hati bernyanyi, hingga malam terasa sorga.
Rasanya seperti terlahir kembali. Saat pertama kali membuka mata lalu mamandang keindahan, membuka lembar pertama kehidupan. Yang ada hanya gairah dan semangat menderu jiwa. Belum kenal masalah, atau sekedar persoalan seringan ujung kuku.
Terus aku menyapu jalanan yang tampak sepi dari berbagai macam kaki, sandal atau sepatu. Semuanya kulihat bisu membeku. Padahal embun belum terasa membentur jari-jemari, atau terkapar begitu saja seperti selembar daun ketapang yang tiba-tiba menyelimuti kerikil.
Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ingin sekali menjamah rembulan itu dengan segala rasa yang kumiliki, lalu menggenggamnya erat-erat dan meletakkannya dalam saku kotor bajuku. Kubawa pulang untuk kupersembahkan pada ayah dan ibu, juga ia yang kusayang. Menggantungnya di langit-langit rumah, agar tidak perlu lagi memencet tombol On-Of yang mesti dilunasi tagihannya setiap bulan.
Tapi bagaimana aku melakukannya? Aku tak punya daya untuk itu. Tanganku saja tidak bisa menggapai punggung tubuhku sendiri. Apa lagi untuk mengait rembulan di atas sana?
Sering kuhayalkan untuk pergi begitu saja, meninggalkan semua tanggungjawab yang selalu terasa gagal (tak sanggup) kusanggul. Suatu ketika, pernah kubayangkan untuk melepas jabatan ini dengan surat pengunduran diri. Tapi adapula kemauan yang mendesakku untuk sekedar mengacuhkan kewajiban-kewajiban itu seperti yang selama ini mereka lakukan demi kepentingan peribadi atau kelompok lainnya. Tapi, merenungkan eksistensiku di sini aku sadar, bahwa segala tanggungjawab atau kewajiban-kewajiban itu adalah bagian dari hidupku disini.
Saat-saat seperti inilah kerap kali mengeraskan hati. Jiwa berkobar, raga gemetar, bertempur sengit tak terkontrol, bergelombang, menjadi badai, menghantam batang-batang ketidak tahuan yang mereka milliki tentangku. Dan sebelum api menjadi bara, pastilah ada yang terluka.
Namun keakrabanku dengan ketenteraman sunyi, kecintaan dan kekaguman pada malam-malam, semaian asa di pagi hari, senja yang elok memukau, meneguhkan hatiku untuk tetap bertahan. Keinginan untuk menghabiskan sisa nafasku disini pun kemudian menyala seperti lilin putih di ujung malam sampai akhir titik gelap. Sekarang, esok, lusa dan seterusnya.
Tapi, saat kutanya kegelapan, kau menghitam. Kala kuminta ketenangan, kau malah berkoar-koar dengan gaduh egomu. Selalu saja kau acuhkan keinginanku. Namun ketika hati sudah tidak lagi bisa merasa, kau menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tak dihiraukan rengekannya. Berteriak-teriak sekuat tenaga, mengigau sedemikian jauhnya. Seolah hendak merubah garis yang telah dalam tergores. Kekecewaan, penyesalan dan kesempitan jiwa kemudian mendera nestapa. Lalu pecah berserakan, membakar batang-batang jiwa yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini.
Kugelengkan senyum kecut tanpa makna. Kuputar bola mata ke sekelilingmu. Kau tak tahu. Matamu meleleh, lalu berteriak tanpa tenaga, kemudian tersungkur, hilang ditelan kegelapan.
Malam semakin sunyi, sesunyi angin di ujung dedaunan. Kesunyian yang selalu merangkai kehalusan, ketenteraman, permenungan, juga kemurnian nurani. Keegoan tercekik, kemunafikan mengkerut, amarah tenggelam, dendam menyusut, lenyap. Menyadari kesunyian malam-malam yang tak pernah bosan kukunjungi meski sekedar untuk mengingat segala tentangmu, sepertinya aku memang terlahir dari kesunyian dan untuk kesunyian pula.
Guluk-Guluk, April 2009



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 18.27 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: