Menyentuh lembut dendang telinga
Mengalir sejuk ke lubuk hati
Mendandani nurani begitu menawan
Ahai…
Nama mulai lirih
Mengecup bibir-bibir ranum merah jambu
Memeluk jiwa dengan tanya runcing
Lalu terpahat sebagai prasasti mengagumkan
Semilir angin sore
Dedaunan kuning cerah
Cericit burung-burung
Semuanya tahu dan bangga
Tapi,
Aku bosan
SEPIRING KEBERSAMAAN
Sepiring kebersamaan
Bertaburkan butir-butir canda tawa
Secewok sensasi
Tertumbuk atau ditumbuk lembut
Hangat menyenangkan
Subhanallah…
Begitu nikmat kebersamaan
Cukup untuk mengurangi nyeri
Meski tak tak hilang
Tapi rasanya,
Lebih tentram dari sekedar puas
Lagi pula
Puas bisa saja tersiksa, bukan?
……
Hidup memang rumit
Tak ada yang bisa dijadikan ukuran paten
Mungkin karena hidup ini mengalir
Mungkin juga karena hidup ini kehidupan.
ASA YANG KANDAS
Saat kutanya pada kejujuran hati sanubari, tentang rasa yang selama ini membeku di dada
Ia berbisik:
Ada harapan bersemi
Hanya saja tidak sampai membuncah
Harapan yang dulu tercipta dan belum juga terjadi sebagai kenyataan bahagia
Dan hari ini…
Harapan tercipta kembali
Mencoba melangkah pasti
Meski sudah berulangkali terjatuh
Lagi, dan lagi
……!!!
Entahlah!
Hingga hari semakin jauh
Semilir harapan itu belum juga datang membawa kabar
Bahagia atau kecewa
Bahkan putus asa?
GELAPNYA GELAP
O, gelapku lebih pekat dari hitam
Hitamku lebih buta dari sebuah percintaan
Cintaku lebih suram dari penderitaan
Penderitaanku indah
Indahku bohong
Bohongku sia-sia
Sia-siaku, kegagalan menyedihkan
MALAM KEMARAU
Apa ya?
Oh! Rembulan menerangi mendung
Seperti bumi saat ini
Kering kerontang kemarau
Retak-retak
Seperti ingin memperlihatkan
perut bumi yang hampir meletus
Juga air yang tak lagi mengalir di bawah sana
Sepertinya,
Mendung ini
Bukan untuk hujan
Lubselia Corner, 2008
Posted by , Published at 08.54 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar