O, alangkah ruginya orang-orang yang melaluinya hanya dengan mata terpejam. Alangkah bodohnya mereka yang menghabiskan pagi mereka hanya dengan mimpi-mimpi palsu. Harus dengan cara apa lagi, agar mereka tertarik untuk menyetubuhi pagi. Sampai-sampai, para nenek moyang dulu mengkait-kaitkan pagi dengan kemurahan rejeki. Itu tiada lain mereka lakukan kecuali hanya demi mereka, para generasi, agar menikmati pagi dengan suka cita. Tapi nyatanya, mereka tutup telinga. Mereka mencari-cari alasan untuk menyalahkan semua itu; tidak rasional, kolot, mitos dan lain sebagainya. Apakah harus rasional untuk menikmati keindahan alam, berupa karunia Tuhan?
“Gluddak..dak..dak!”.
Bumi bergetar, memecah kekhusyukan dalam dekapan cakrawala jiwa. terjerembab dalam kelembutan, kemerduan, juga kemesraan pagi yang putih-bening, bersih, segar, romantis, dan, suci dari tangan-tangan kotor orang yang tidak bertanggung jawab.
Tapi apalah arti kemolekan itu kalau aku sendiri tak bisa menjamahnya? Menikmatinya sampai habis sesuka hati, sembari merangkai sederet aktivitas yang hendak diperjuangkan hari ini. Apalah guna semua itu jika ujung-ujungnya harus berlabuh di tumpukan sampah?. Jorok, dekil dan bau. Sempat aku berfikir untuk keluar dan berlari, sambil meneriakkan apa yang aku rasakan; bahwa semua itu terlalu sulit untuk aku jalani dengan lapang dada. Tapi apa hendak dikata. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena ini adalah duniaku. Sebuah dunia karena jeratan normatif-struktural. Dunia yang harus dijalani jika masih ingin tetap meyambut matahari terbit.
Pagi yang cerah. Burung-burung menikmatinya dengan begitu riangnya. Mereka beterbangan kesana kemari dengan mata berbinar-binar. Menari-nari bersama ilalang di ujung bianglala. Pagi-pagi sekali. Daun-daun juga mulai bangkit dari selimut embun yang begitu lembut. Tetes demi tetes embun yang menyelimutinya mulai di jatuhkan satu persatu. Mungkin mereka juga tertarik untuk menyetubuhi pagi. Menikmati kehangatannya sampai habis.
Tapi tidak dengan yang aku rasakan. Justru ada tanya setiap kali pagi membentang. Masih dengan barang-barang yang sudah tidak di hiraukan pemiliknya. Jujur, aku merasa tersiksa dengan semua ini. Karena setiap pagi. Aku selalu di hadapkan pada hal-hal yang tak semestinya terjadi; Makanan yang masih segar untuk kalangan para penghuni kolong jembatan. Pakain yang masih terlalu rapi untuk orang-orang fakir miskin. Pensil yang masih bisa mengukir abjad-abjad dengan sempurna. Barang-barang yang masih bisa menghasilkan uang, cukup untuk beli makanan dan rokok.
Jadi, jangan heran kalau ada orang yang sampai hendak bertengkar gara-gara barang-barang yang sepertinya murahan itu. Wajar itu terjadi. Karena bagi mereka, barang-barang itu bisa menjadi perantara untuk kelangsungan hidupnya. Kalau bagi orang-orang elit, mungkin sama halnya dengan mempertaruhkan kedudukan yang menjadi sasaran empuk kelangsungan hidup mewahnya.
Tapi mengapa harus di buang? Bukankah itu berarti Mubadzir? Dan Mubadzir itu Setan? Rasanya cukup jelas sudah literatur agama menjabarkan tentang hal itu. Entahlah! Sulit untuk aku mengerti. Padahal, mereka semua termasuk orang-orang yang beriman. Tentunya mereka sudah tidak perlu lagi mengkaji tentang hal itu. Kelihatannya lucu kalau masih mau mengungkit-ungkit pelajaran Sekolah Dasar tersebut.
***
“Gluddak…dak…dak….dak”
“Srat..sraat…sraaat…srat”
Semakin keras tembang bising itu menghantam gendang telinga. Membuat hati ini tergugah untuk menghampiri dan menuruti semua keinginannya. Memenuhi Gerobak yang menindihnya. Lama aku berfikir tentang hal itu. “mungkin klahernya sudah rusak” fikirku tiba-tiba. Namun kumudian aku lari pada sebuah kesimpulan bahwa ketika Gerobak itu berisi penuh, maka suaranya akan semakin halus, ramah lingkungan dan sebagainya. Bukan karena apapun. Melainkan kekosongannya dari apa yang sudah menjadi kewajiban menumpanginyalah yang menyebabkan suaranya yang begitu ramai sepeti luapan amarah.
Semua mata selalu saja mengarah padaku setiap kali aku membantu Gerobak itu berjalan. Entah apa yang terbesit di benak mereka tatkala melihat peluh yang mulai menetes. Juga nafas yang semakin memburu. Terserah! Aku akan terus mendorong Gerobak di atas dua roda itu dengan segenap tenaga yang masih tersisa. Bagiku, tidak ada yang perlu di ekspresikan sebagai realisasi dari perasaan malu atau apapun yang mewakilinya. “Karena ini adalah pekerjaan mulia bila di jalani serta di fahami dengan bijak” fikirku. Meski yang aku bawa adalah kumpulan berbagai macam barang yang sepintas tampak sangat memalukan. Tapi bukankah beberapa orang sedang menunggu kedatanganku disana? Di satu-satunya tampat pembuangan itu? Untuk menelusuri satu persatu isi Gerobak dengan alat mereka masing-masing; celurit tumpul, kayu bekas penghidup tungku, ataupun lainnya?
“Siapa tau ada yang bisa menjadikan kantong berisi. Untuk biaya sekolah anak-anak, makan sehari-hari, bayar rekening listrik, dan sebagainya” rekaku setiap kali melihat mereka mendatangi Gerobakku berebutan.
Bagiku, semua itu tidak menjadi persoalan. Namun, kenyataan yang tidak sepantasnya terjadi; bahwa dunia ini sudah dipenuhi dengan hal-hal yang masih terlalu sempurna untuk disia-siakan, sering kali membuat aku mesti mengurut dada, agar tidak terlalu ngilu mengahantam nurani, sembari berucap semauku.
Kiranya terlalu suci sang embun untuk menjadi penghias semua itu. Terlalu pagi untuk menyadari dunia yang sudah tidak perawan lagi. Bukankah seharusnya pagi itu menjadi mutiara bagi para insan yang handak berjuang mencari setes kehidupan mereka masing-masing?
Guluk-guluk, Pebruari 2008
Posted by , Published at 08.46 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar