SETETES TINTA KEHIDUPAN

SETETES TINTA KEHIDUPAN

Dengan tangis bahagia kuawali kehidupan ini. Membuka mata. Memandangi kemegahan alam semesta. Merangkak, terus berjalan layaknya manusia lainnya. Menapaki setiap ruas kehidupan. Mencari sesuatu yang mesti ku cari. Mengetahui apa yang seharusnya kuketahui. Esensi hidup, jati diri dan segala sesuatu yang memungkinkan tuk di ketahui. Kadang kerikil-kerikil kecil membuat aku patah arang untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang untuk diarungi ini. Namun saat aku sadar bahwa hidup bukan hanya sekarang dan sampai disini. Dengan kaki berlumuran darah sekalipun aku tak perduli. Aku harus tetap melangkah demi menatap masa depan yang aku yakin cerah.
Aku yakin pasti bisa menjalani semua ini dengan baik, penuh semangat dan tanggung jawab. Demi masa depan. Perjuangan dan pengorbanan pasti kusemaikan dalam setiap hentakan kakiku. Apalah artinya letih, perih, pahit. Ataupun gelap, sunyi, kalut, galau dan seterusnya. Aku tak pernah risih dengan hal itu. Karena pada masanya nanti, semua itu akan menjadi perahu untuk aku mengarungi bahtera kehidupan. Menjadi jembatan untuk aku menyelamatkan masaku dari jurang teramat terjal dan curam bernama penderitaan dalam nestapa penyesalan.
Masaku. Suatu masa dimana aku bisa menikmati kerindangan pepohonan dari benih yang aku tanam dengan tanganku sendiri. Aku siram dan memupuknya sendiri. Akarnya menancap di seluruh pori-pori bumi; batang dan rantingnya besar-besar dan kuat; daunnya, buahnya, melambangkan suatu hasil dari banting tulang dan jerih payah seseorang yang tak pernah mengenal kata menyerah dan putus asa. Seseorang yang rela mengorbankan kebahagiaan hari ini, demi ketentraman hari esok, sebuah ketentraman dan kebahagiaan yang sejati dan abadi.
Banyak sekali yang telah aku korbankan, termasuk cintaku terhadap sang dambaan hati. Bagiku ia sangat berarti. Namun apalah hendak dikata, aku tak ingin kehadirannya hanya akan menjadi bumerang. Kebahagiaan yang menyakitkan. Aku yakin! Semua ini adalah bekal agar aku mempu bertahan di tengah belantara kehidupan yang mulai liar. Menerjang ombak, badai dan topan. Meskipun aku tahu itu tidaklah mudah, namun aku yakin itulah yang terbaik.
Ah…hayalan ini, asa ini. Begitu menggebu. Penuh semangat. Optimistis. Tergantung setinggi awan di langit. Terbang kesana kemari memenuhi jagat raya yang begitu luas. Sesekali menggumpal membentuk sesuatu yang teramat indah, penuh makna, seakan menyimpan sejuta bahasa. Terkadang seperti lautan, bebatuan, dedaunan, hingga sesuatu yang tak dapat dan ada perbandinganya didunia ini.
“O, Masaku”. Ada kalanya bibir ini tersenyum, geli, saat kubuka lagi kenangan masa yang indah itu. Tatkala kusaksikan kembali peristiwa-peristiwa yang tak kan pernah aku buang dari ingatanku. Air mata tak sanggup aku cegah membasahi pipi.
***
“Bukkk…!”
“Astaghfirullahal ‘Adhiim”
Di usiaku yang ke-18 ini, aku baru menyadari bahwa tidak semestinya aku menyertakan sesuatu yang sangat berharga ke dalam deretan apa/hal yang telah aku korbankan. Cintaku. Oh… aku telah berdosa pada cintaku. Aku telah membuat kesalahan besar. Aku harus minta maaf pada ruh yang begitu suci itu. Tapi bagaimana caranya? Sedang ia tidak berwujud, tidak juga memiliki bahasa. Lantas bagaimana dan dengan apa aku harus mewujudkan permintaan maafku ini? Apa aku harus mengejar cintaku yamg sudah mulai beranjak pergi? Tapi bagaimana…?
Karena perbuatan bodoh itu, hidupku sekarang terasa serba salah, tak menentu dan penuh kebimbangan. Apa yang aku dapat seakan tak ada artinya. Seakan tak bisa aku menjalani hidup ini dengan tenang, tanpa cintaku tertuang. Ingin rasanya aku berteriak, tapi aku tak punya daya untuk itu. Lagi pula siapa yang sudi mendengarkan teriakanku, sedang ia bukan bahasa, ataupun suara. Aku jadi bingung, pada siapa aku harus mengadu. Sekedar bercerita tentang kegalauan hati, tentang lidah yang kelu, juga batin yang seakan mati, sedangkan aku sendiri tak mengerti akan hal itu. Di samping itu, aku juga tidak tahu harus memulainya dari mana.
Saat ini, kebingungan terasa sudah memenuhi hidupku, aku tak mengerti bagaimana aku harus bersikap pada cintaku. Bijak, pantas dan sebagainya. Haruskah aku memperlakukannya seperti aku memperlakukan yang lainnya? Tidak! Bukan begitu. Cinta itu tidak ada persamaan ataupun perbandingannya di alam materi ini. Bijak terhadap sesama manusia belum tentu bagi cinta. Lau bagaiman?
“O, hidupku!” laksana sehelai kapas yang keberadaanya hampir tak terasa, terbawa terbang kemana angin berhembus. Hingga seakan tak terpengaruh terhadap gaya gravitasi bumi sama sekali. Terapung di angkasa luas. Tidak ke atas tidak juga ke bawah. Bahkan lebih cenderung ke atas. Sempat terlintas bahwa hidupku percuma. Namun aku tak ingin mengahirinya begitu saja, tanpa melakukan sesuatu. Biarlah hidup ini berjalan apa adanya. Sambil berharap suatu saat aku akan menemukan tempat berpegang—sebuah pegangan yang begitu kuat dan bisa memberiku banyak pelajaran tentang hidup. Hidup yang berarti, indah, serta yang memberi gairah untuk dijalani dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa sedikitpun. Bukan kehidupan yang suram, kelam dan nista. Bukan pula yang bergelimang dengan harta benda serta kedudukan yang tinggi. Melainkan kehidupan yang tenteram, damai dan sejahteralah yang kudamba, juga kuimpikan. Apalah arti harta benda jika hanya membuat gelisah. Apalah guna kedudukan yang tinggi, wanita cantik dan sejenisnya kalau hanya membuat resah.
Ah…! Aku jadi teringat negeri ini, negeri yang dulu punya cita-cita yang begitu mulia dan tingggi. Kini semua itu hanyalah mimpi semu belaka. Karena yang terjadi dan mereka lakukan sekarang adalah mencuri, merampok, menindas dan menganiyaya negeri sendiri, rumah sendiri dan tempat tidur sendiri. Kalau saja mereka sadar dan menyadari, bahwa itulah yang membuat negeri ini terdampar di pulau kehancuran. Kalau saja mereka tidak lebih mementingkan kepentingan pribadi. Kalau saja mereka sudi memikirkan nasib negeri ini. Yakinlah! Bahwa negeri tercinta ini akan menjadi salah satu negera yang maju, tenteram, aman sentosa. Siapa mereka sebenarnya? Dari planet manakah? Dari mana mereka mendapatkan tangan-tangan bejat tidak bertanggung jawab itu?
“Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan?”
“Tak ada yang perlu disalahkan, karena semua ini adalah akibat dari suatu perbuatan. Jika itu terkait dengan diri sendiri, maka cobalah untuk berbenah diri. Tapi jika berhubungan dengan dunia, aku tak tahu. Mungkin rerumputan itu bisa menjawabnya” bisik nurani pada suatu senja.

KCN Guluk-Guluk, 2007


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.54 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: