Rasa-rasanya, PILEG ini telah menegangkan hari-hari sebelum puncaknya—kemarena (Kamis, 9/4/2009). Dari ujung barat sampai ujung timur, kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang. Saling serang, saling timbun, saling cerca. Tak perduli saudara, sahabat atau tetangga sekalipun. Mereka semua keras berdiri dengan pegangan masing-masing, di atas kedengkian politik berwatak bejat nafsu. Dan hari itu, tak ada lagi pusat keramaian apalagi keramahan. Pasar-pasar sudah tidak lagi menjadi tempat bagi suara untuk berperang menyesakkan telinga. Lorong-lorong juga sepi dari lolongan anjing di tengah kepulan polusi teknologi. Demikian juga sawah, gang, terminal, pelabuhan. Apalagi hanya warung, tempat wisata dan goa., sekolahan, kampus, kantor-kantor dinas, serta segala bentuk aktivitas rutin di tempat-tempat tertentu lainnya, semuanya tutup pintu rapat-rapat.
Orang-orang tidak bertanya ada apa, sepakat. Tapi mengapa mesti demikian, tak ada yang perduli. Dan hari ini, pasca kebosanan membengkak, ada dendam tergores. Sahabat menjadi musuh. Setres bertebaran di mana-mana. Semangat hidup berguguran seperti daun-daun layu di musim semi. Tanggungjawab terkulai. Perdebatan hangat menyusut, menjadi keluhan pilu.
Melelahkan!
Allahu Akbar! Andaikan berdiri seorang gagah perkasa mengibarkan bendera perang melawan semua itu, tak mungkin hari sekeruh ini. Paling tidak, kewajiban melaksanakan tanggungjawab sehari-hari masih utuh berjalan.
Posted by Warid, Published at 18.23 and have
0
komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar