HARI-HARI SEORANG PENULIS

HARI-HARI SEORANG PENULIS

Subuh ini, di tengah lantunan ayat suci al-qur’an, aku bermaksud menulis cerita. Mengisahkan kehidupanku sendiri di sini. Tentang segala yang telah kudapatkan dalam permenungan kesendirian sunyiku. Kubuka mata dan telinga hati lebar-lebar, kulabuhkan segenap rasa yang kumiliki pada setiap sudut ketenteraman sejuk pagi, kulepaskan imajinasi menembus terang pertama semesta.
Kemaren sore—di tengah suasana ajian kitab Riyadusshalihinku yang tanpa halaman—aku mencoba untuk menjadi orang bijak “Setiap perilaku akan menjadi catatan tertentu. Baik dan buruk. Semakin banyak catatan baik yang dilakukan, semakin mudah kepentingan atau urusan tercapai. Demikian sebaliknya, catatan-catatan jelek, kurang baik, tidak terpuji atau bahkan nista, hanya akan semakin mempersulit diri sendiri. Ingat! Setiap perilaku yang dicipta hari ini—disini—adalah pondasi keperibadian diri nanti—dalam masyarakat.” Tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa terlalu besar dengan bahasa itu. Maka, “Semoga tulisan ini betul-betul dari hatiku,” harapku kemudian.
Ketika Wallahu a’lam terdengar, teman di sebelah utaraku mencondongkan wajahnya ke atas permukaan kertas yang kujadikan ganti halaman kitab yang hilang entah kemana dan kenapa.
“Wah! Apa ini, ra?” kubiarkan ia semakin mendekat
“Saya catat, ya?! Sebentar, Masya’allaah! Hebat!” aku terperanjat
“Aduh! Jangan, ra! Tidak perlu,” pintaku buru-buru sambil menutup kitab.
“Kapan-kapan, saya ingin bincang-bincang dengan sampean,” ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan tempat, mencoba mengalihkan perhatian.
“Saya suka kesendirian. Tapi mungkin kesendirian saya berbeda dengan kesendian hari-hari sampean yang saya yakin lebih padat.” Senyum khasnya kemudian mengembang. Senyum yang selalu kupahami sebagai perlambang kerendahan hati.
Ada rasa letih terselip di setiap persendian, ada pula kenikmatan tanpa bahasa. Di ujung sore bening yang akhir-akhir ini kerap menghadiahiku berbagai macam warna, kucoba menata hati untuk menghadapi malam yang sebentar lagi pasti tiba, meski sedikit terbayang kehawatiran akan cekaman gelapnya. Tapi, ah! Seperti anak kecil yang hawatir menghadapi masa remajanya. Akhirnya mengalir tenang-tenang saja.
Saat malam hadir, seperti biasa, kucari-cari tempat yang benar-benar tenang. Jauh dari obrolan-obrolan percuma yang ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, membicarakan orang lain. Ada kalanya terbesit keinginan untuk tidak mengacuhkan suara-suara yang datang bercanda padaku. Membiarkan mereka dengan ludahnya sendiri. Tapi ada bagian hati yang tidak mengiyakannya. Dan ketika kucoba membuka senyum, mereka malah menjebakku dalam percakapan yang membuat perutku terasa mual. Dadaku sesak. Kepalaku pusing. Aku berontak, mereka tak perduli. Di tengah kegeraman hati, aku putuskan untuk meninggalkan mereka dengan umpatannya.
Dari depan pondok blok B no. 8, kurebahkan badanku di beranda kantor pesantren. Disanalah kemudian kutemukan suasana jam belajar yang sesungguhnya. Ada yang membaca buku di depan perspustakaan, ada pula yang menerawang langit dari bawah lampu penerang jalan. Kubuka buku, memberi hari, tanggal, bulan dan tahun. Kulemparkan pandangan sejauh mata melihat, lalu mencoba menerka hitam kegelapan di ujung sana. Kudongak rembulan diantara gemintang di atas dedaunan, kemudian terbayang perasaan pepohonan saat itu. Sambil melirik santri-santri yang berseliweran tanpa suara, perlahan, kupejamkan mata. Kufikirkan bagaimana menuangkan segala yang baru saja kulihat dengan segala kelembutan dan kearifan yang kumiliki. Namun, hingga malam akhirnya membawaku terbang mengitari jagat maya, tak ada sebaris kalimat pun tercipta. Mungkin karena aku terlalu lelah dengan apa yang aku hadapi sebelumnya. Hingga pada saat sendiri, tak ada daya yang bisa dijadikan pengalir tinta.
Mentari mulai menyingsing, imajinasiku pulang dengan tangan hampa. Tak ada yang bisa kuberikan pada hari yang telah menjadi kemaren itu.
Guluk-Guluk, April 2009


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 09.37 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: