***
Kamu. Meski perhatianmu sebagai seorang sahabat yang terlalu na’if kiranya untuk di baca sebagai sahabat itu kini telah berlalu tanpa kembali. Namun tetap saja aku merindukanmu. Terkadang rasa bersalah singgah di tengah lamunan kelamku. Tapi, terkadang rasa kesal juga tak dapat terelakkan. Waktu itu aku memang terlalu egois. Terlalu dangkal memaknai hidup. Aku tidak sadar bahwa hidup itu mengalir, seperti air disungai sebelah rumahku. Tak heran jika acuh tak acuh aku menghadapimu, dulu. Anggapan bahwa wanita merupakan salah satu makhluk untuk dihadapi dengan penuh kehati-haitan, begitu kuat terikat dalam benakku.
Bapak, Ibu dan Mbak tersayang. Jika kalian menginginkan aku mondok agar mendalami ilmu-ilmu agama dan disiplin ilmu lainnya, dengan harapan nantinya dapat berguna bagi masyarakat, ma’afkan aku. Karena hal itu tidak menjadi tujuanku. Sa’at ini aku justru sedang asyik mendalami semua itu demi pencarian dan penyelaman diriku sendiri. Mungkin juga untuk selamanya. Selama keberadaanku disini, biarlah aku menggapai keinginanku; mengenali diri, hidupku. Sebab, aku merasa tidak pantas menelusuri hal-hal diluar diriku, sedangkan pada diriku sendiri aku bodoh. Aku tidak ingin pandai ini itu, padahal tentang hidupku sendiri aku tolol. Apa yang harus aku lakukan sedangkan keberadaanku pun tidak cukup untuk menjawab hidupku sendiri. Persoalan berguna atua tidak bagi masyarakat, biarkan waktu nanti yang bicara. Jika boleh dikatakan pemimpin, aku tidak ingin bisa memimpin keluarga atau bahkan masyarakat sebelum aku bisa memimpin diriku sendiri. Dengan hati nurani. Bukankah diri itu merupakan sebuah kepemerintahan? Kepemerintahan yang begitu dalam. Hati sebagai Raja, dan seluruh anggota badan adalah masyarakatnya. Dan, aku tidak ingin seperti dalam cerita tentang seorang pengembala kambing yang menjaga kambing-kambingnya dari serigala-serigala liar. Tapi nyatanya, dialah serigalanya. Juga tentang seekor anak gajah yang mengobrak abrik habitatnya sendiri, gara-gara si anak gajah itu tidak di didik lingkungannya. Lingkungan gajah. Maka, aku ingin mendidik dan mengatur diri menurut diri dalam jiwa. Agar tidak menjadi bumerang yang akan menghancurkan diri itu sendiri.
Mungkin keputusanku ini membuat kalian pusing. Tapi percayalah! Aku masih anakmu. Keponakanmu. Aku bicara seperti ini karena aku tidak ingin menjadi seperti mereka yang lupa pada rumah atau bahkan diri mereka sendiri. Aku tidak ingin seperti mereka yang suka menindas dan menginjak-injak diri mereka sendiri. Diri yang jika disadari dengan sejujur-jujurnya adalah setetes kehinaan. Oleh sebab itu, aku ingin memuliakan diri. Mengangkat derajatnya dengan tanganku sendiri setinggi mungkin. Bukankah siapapun itu adalah diri? Bapak, Ibu dan Mbak. Aku mohon do’a restu dari kalian. Karena tanpa hal itu, semua ini percuma.
***
Empat bola lampu berwarna merah yang kelap-kelip bergantian itu semakin menyala dari kegelepan yang semakin mencekam. Menjadi satu-satunya penghias malam yang semakin larut ditelan waktu. Menasbihkan kerinduan yang semakin menderu dalam dada. Mengobrak-abrik bangunan-bangunan imajinasi yang mulai kokoh menjulang. Ada yang berkata bahwa itu demi ketertiban jiwa. Apakah harus dengan mengorbankan hasil jerih payah keringat yang sudah terlalu banyak mengalir? Tidakkah terdengar jerit tangis menyayat hati itu?
Rindu. Bajingan! Kau telah merampas segalanya, terutama kebahagiaan yang mulai tumbuh dari ketenangan dan ketentraman masa depan yang sedang aku tempuh, tanpa bayang-bayang keindahan atau bobroknya masa lalu. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Tidakkah kau sadar bahwa hadirmu hanya membuat waktu terhenti melangkah dari aktivitas? Enyahlah kau dari kehidupan ini. Aku tidak membutuhkanmu.
Rindu. Saksikanlah! Dihadapan ke empat bola lampu berwarna merah di atas tower itu aku nyatakan kebencianku padamu. Karena, sebab kehadiranmu, tanpa sadar aku telah memuntahkan isi hati yang sesungguhnya tak seorangpun boleh atau berhak tahu, kecuali Tuhan yang maha tahu.
O, ma’afkan aku. Aku khilaf.
Guluk-Guluk—KCN Ls, Mei 2008
Posted by , Published at 08.46 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar