Kisahku akan berakhir
sampai di sini, seiring mentari tenggelam. Tak bisa kujelaskan kacaunya
perasaanku. Kalaupun bisa, tak mau kulakukan itu. Karena sepertinya hanya akan
semakin memedihkan luka. Terasa ada yang hancur berkeping-keping. Seperti ada
yang bertempur dalam diri ini.
Sejarah yang kumulai
sejak 2 November 2006 itu kini akan menjadi kenangan. Awan tipis di langit sore
dan paduan suara santri-santri membaca Ratibul Haddad di Mushalla saksinya.
Semua mata mengarah padaku, mengikuti setiap langkahku. Seperti mereka tahu
yang sebenarnya tentang kepergianku meski tak kuceritakan. Walau sebenarnya
hanya beberapa orang saja yang kuberitahu, aku tak yakin usahaku merahasiakan
hari ini berhasil dengan sempurna. Aku sadar betapa cepat dan mudahnya kabar
meluas, seiring hembusan angin.
Ya… sengaja kurahasiakan,
dengan asumsi rasa kehilangan tak kan terlalu besar mereka tanggung.
Konsentrasi hidup mereka tak kan terlalu terganggu saat mereka tahu yang
sebenarnya nanti, saat mereka mulai terbiasa tanpa aku di sisi mereka. Di
samping itu, aku juga hawatir tak kuasa melangkahkan kaki ini atas
bahasa-bahasa yang mereka lontarkan—entah bagaimana.
Namun entah mengapa,
dalam detik-detik terakhir ini aku merasa terlalu egois. Aku merasa asumsi yang
kuambil itu keliru dan tak seharusnya kujalani. Mestinya tak kulakukan semua itu.
Tapi bagaimana? Kepergianku sudah di ujung waktu, aku tak bisa berbuat apa-apa
lagi. Ada yang berkata “Tunggulah sampai besok pagi, nanti kamu bicara di depan
santri-santri.” Tapi… ah, janjiku pada kedua orang tua adalah hari ini. Lagi
pula mereka telah menyuruh seseorang yang kini sudah ada di sisiku untuk
membawaku pulang.
“Sampaikan saja
permohonan maafku pada semua santri” ucapku sambil menyalami salah seorang
pengurus, walau sebenarnya tak hanya sekedar permohonan maaf yang ingin
kusampaikan. Kubanting langkah menuju motor yang akan membawaku pergi dari
sini, tempat aku belajar banyak hal. Tak kuhiraukan tanggapannya yang
mengisyaratkan ketaksanggupan itu.
Kulihat santri-santri
saling berbisik di mushalla sambil sesekali melihatku, sementara batinku terus
saja bergejolak. Kurangkaikan bahasa penenang, dengan harapan semoga saja
berhasil.
Meski tak secara langsung kuucapkan terima kasih atas
kebersamaan yang telah memberiku banyak pelajaran hidup, semoga mereka
mengerti. Orang-orang yang pernah kulukai, kusakiti dan kukecewakan, semoga
mereka sudi merelakan maafnya untukku. Sebab aku sadar tanpa itu semua, hidupku
tak akan sudah-sudah dengan kegelisahan.
Sejenak batinku terdiam.
Namun ketika motor di sisiku sudah menyala dan menunggu aku naik, tiba-tiba
batinku kembali bergejolak
Tapi bagaimana jika sebagian dari mereka tak mau memaafkan
aku begitu saja? Orang-orang yang pernah atau bahkan sering kusakiti dan kulukai
perasaannya. Mungkin saja mereka masih ingin membalas rasa sakit hati mereka
sebelum memaafkanku.
Apa yang harus kulakukan?
Sepertinya keputusanku itu memang terlalu egois. Harusnya kuiyakan permintaan
salah seorang pengurus untuk memberikan kultum pada seluruh santri di mushalla
ba’da shalat jamaah maghrib itu.
Ya… kultum bagi santri
yang hendak berhenti dari pesantren sebenarnya sudah menjadi kebiasaan sejak
beberapa tahun terakhir. Isinya sederhana, yaitu pesan dan kesan yang diambil
dari pengalaman pribadi selama menempuh hidup di pesantren, dan yang paling
penting adalah permohonan maaf secara langsung.
Sebenarnya aku ingin
menerimanya. Ingin kusampaikan pada mereka bahwa hal pertama yang mesti
dimiliki dalam menjalani hidup di pesantren adalah kesadaran bahwa kehidupan di
sini sudah tak seperti di rumah lagi. Kemudian niat dan tekad untuk
meningkatkan kualitas diri harus benar-benar digenggam dengan erat. Pengetahuan,
kematangan diri dan akhlakul karimah. Baru setelah itu usaha-usaha konkret untuk
menjadikan diri lebih baik bisa dimulai.
Ingin kuyakinkan mereka
bahwa dalam mengarungi hidup yang selalu menyimpan misteri ini, mereka harus
memiliki sesuatu untuk didiami dengan nyaman, semacam kebiasaan baik yang bisa
mereka nikmati sepenuh hati. Hal itu sangat berguna tatkala skema hidup
ternyata tak berjalan sesuai rencana dan harapan. Jika tidak, kekecewaan dan
keputus asaan dimungkinkan akan mengganggu. Mereka harus memiliki sesuatu yang
bisa dijadikan pelarian, pelarian yang tak ditentang.
Aku ingin mengajak mereka
untuk sering-sering mendiami kesendirian, guna merenungi kehidupan yang sudah
dilalui, introspeksi diri, juga merencanakan perjalanan kemudian. Sebagaimana
aku juga sering melakukakannya, aku ingin menggugah jiwa mereka untuk selalu meluangkan
sedikit waktu demi ketenangan jiwa sehari-sehari. Sebab aku yakin mereka pun
setuju bahwa selalu saja ada yang membuat hati tak tentram setiap hari
berganti.
Di samping itu aku juga
ingin cerita tentang banyak hal yang selama ini telah membantuku menjadi lebih
dewasa dan matang dari hari ke hari. kuharap mereka mengerti dan
mempertimbangkannya, bahwa apapun dan siapapun bisa menjadi guru untuk kita
belajar. Peristiwa alam, kebaikan dan keburukan orang lain, orang-orang yang
mengasihi dan membenci bahkan memusuhi kita. Kuharap mereka bisa mengambil
hikmah di balik semua itu.
Terlepas dari itu semua,
aku ingin mengadukan ketidaksiapanku pergi dari sini, yang sampai saat ini
masih menjadi persoalan terbesar dalam batinku. Aku merasa belum siap berpisah
dengan pesantren ini, berpisah dengan suasananya yang tak henti-hentinya
membimbingku untuk menjadi lebih baik dan dewasa. Aku ingin mereka membantu
untuk sekedar membesarkan jiwaku, bahwa karena alasan tuntutan lembaga di
rumahku, walau bagaimanapun aku harus pergi.
Namun kultum itu kutolak
dengan alasan malu dan waktunya tidak seperti biasanya. Bukan malam Kamis, tapi
Sabtu. Namun alasan yang sebenarnya adalah seperti yang kukatakan, aku tak mau
mengganggu konsentrasi hidup mereka dengan kenyataan ini, kepergianku.
Hari-hariku selama ini begitu dekat dengan santri-santri, lantas mereka harus
mengetahui kenyataan itu secara mengejutkan, tak mungkin mereka tak kan merasakan
kehilangan yang dalam. Mungkin akan sedikit ringan jika mereka miliki pengetahuan
itu setelah beberapa hari tak bersamaku.
Kenyataan ini begitu
pahit kurasakan, meski tergambar masa depan yang cerah saat kucoba menerawang
jauh. Kenyataan ini seperti kutukan atas kata-kata yang dulu sering kuucapkan
dalam gurauan-gurauan bersama mereka. “Kalau aku tak perlu menunggu waktu-waktu
tertentu untuk berhenti mondok, kalau mau, besok pun aku bisa berhenti.”
Matahari telah sempurna
tenggelam, semesta mulai redup, seperti tanpa semangat kehidupan cerah. Aku
pergi, air mata nyaris menetes.
Lengkong, Oktober
2012
Posted by , Published at 18.53 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar