Pagi yang cerah, seperti pagi di musim kemarau. Aku
bergegas menuju emperan rumah untuk
menikmatinya. Kuhirup nafas berkali-kali. Kupandangi sesekali matahari itu.
Damai dan tentram menelusup masuk ke batinku, tanpa beban dan kerumitan.
Suasana hatiku seperti lahir dari kecerahan suasana pagi ini. Seperti kata pak
D. Zawawi Imron, barang siapa mampu tersenyum di pagi hari, maka ia akan mampu tersenyum
sepanjag hari. Aku ingin tetap bisa tersenyum sepanjang hari ini, seperti pagi
ini. Senyum yang menggambarkan kelapangan hati, kebesaran jiwa dan
kesederhanaan. Alangkah indahnya kehidupan ini bila dihiasi dengan senyuman.
Seperti senyuman yang lahir dari bibir anak-anak kecil itu, tentu tanpa
kepentingan ataupun maksud terselubung di dalamnya.
Kuamati kehidupan pagi ini, ternyata bukan hanya aku
seorang yang berusaha menghimpun daya untuk mengarungi perjalanan hidup hari
ini. Beberapa orang yang kukenal kulihat juga tengah melakukannya. Hanya saja
caranya yang berbeda. Mereka melakukannya tidak dengan memandangi suasana
sekitar atau merasakan suasana pagi dengan penuh penghayatan seperti yang
kulakukan. Mereka berusaha mendapatkan senyum pagi ini dengan canda tawa lepas
yang ringan. Rupanya mereka lebih memilih untuk mencairkan suasana, tidak
sepertiku yang memprioritaskan batin ketimbang suasana lahiriah.
Tak apa, pasti itu hanyalah perbedaan cara. Mungkin
cara itulah yang sesuai dengan kepribadian mereka. Belum tentu mereka dapatkan
senyum itu dengan jalan yang kutempuh ini, begitupun denganku melalui cara
mereka itu. Mungkin bagi mereka di samping dalam hati, senyum seiris bibir
belum cukup, harus sampai terdengar tawa kecil cekikikan. Barangkali mereka
juga berbeda denganku dalam menginginkan perjalanan hari mereka. Jika aku hanya
menginginkan mampu menikmati suasana sepanjang hari ini, mungkin mereka ingin
terus ceria sepanjang hari mereka.
Entahlah! Aku hanya menduga-duga, yang terpenting
adalah bahwa ternyata aku tidak sendirian menikmati pagi ini. Kulihat mereka
begitu menikmati canda tawa mereka, lepas dan hangat. Kuhampiri mereka dan
duduk tanpa suara di belakang salah seorang dari keempat teman itu kudengarkan
canda mereka tanpa konsentrasi. Ternyata mereka tidak hanya bercanda
ngalur-ngidul sedapatnya. Mereka juga membicarakan kehidupan mereka di sekolah,
tentang pelajaran yang disenangi karena bisa menyerap penjelasan gurunya,
pelajaran yang gagal mereka cintai karena penyampaian gurunya yang sangat sulit
dimengerti, juga tentang cita-cita masa depan pendidikannya. Ada yang bilang
ingin kuliah di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, ada pula yang tak ingin
jauh-jauh, di Guluk-guluk saja sambil membantu orang tua bekerja. Tentu saja
semua itu mereka bicarakan dengan santai, dengan canda tawa, tanpa beban.
“Barang siapa mampu tersenyum di pagi hari, maka ia
akan mampu tersenyum sepanjang hari”
Kata-kata itu kembali terucap dalam batinkku. Lalu
diam-diam kuamini untukku sendiri dan untuk mereka dengan tanpa terdengar
telinga. Aku yakin mereka juga menginginkan sepanjang hari mereka cerah,
secerah pagi ini, seceria suasana yang mereka ciptakan ini.
Suasana hening sejenak. Kuucapkan kata-kata itu lagi
dengan sedikit lantang, sambil melihat ke arah matahari bersinar, lalu
menikmatinya dengan mata terpejam. Tak seorang pun dari mereka menanggapi
kata-kata itu. Saat kutoleh mereka semua tersenyum, entah bagaimana mereka
memahaminya. Ada yang bahkan berusaha melebar-lebarkan senyumnya. Tak apa,
kata-kata sederhana itu kupikir sama sekali tak punya kemungkinan-kemungkin
akan fatalnya penafsiran atau pemahaman. Kata-kata itu murni motivasi hidup.
Kutinggalkan mereka dengan pikirannya masing-masing.
Kuambil langkah pulang untuk siap-siap memulai aktivitas hari ini. Lamat-lamat
terdengar mereka kembali dengan canda tawa itu. Hmmm, kali ini mereka bercanda
tentang kata-kata yang kuucapkan itu. Kata-kata sederhana yang begitu dalam
maknanya. Dalam suasana semacam itu, mungkin mereka sudah tak menginginkan
apa-apa lagi dari hidup ini. Entahlah!
Angka tujuh sudah ditunjuk jarum jam, angin mulai
terasa hembusannya, matahari juga mulai terasa panas sinarnya. Ayam piaraanku
pun mulai mematuk-matuk di tanah. Sepertinya aku mulai paham satu hal, tentang
kata-kata yang sering kudengar sejak kecil dulu, “Kalau tidur di pagi hari,
maka rezekinya hilang dipatuk ayam.” Ya, pagi dengan suasana luar biasanya
itulah rezekinya. Pagi adalah fondasi bangunan hari, tentu bangunan tak akan
kokoh atau bakal segera runtuh tanpa fondasi yang kuat. Pagi adalah lumbung
rezeki, lantas bagaimana akan dapat banyak rezeki jika lumbungnya kecil? Ada
banyak tantangan tersimpan dalam setiap perjalanan hari yang akan sulit untuk
dihadapi. Barangkali dengan berusaha menata diri di awal perjalanan itu, diri
akan lebih siap untuk menghadapinya dengan bijaksana. Semua persoalan yang
terjadi adalah karena diri sendiri, bukan orang lain. Mereka hanyalah perantara
sampainya persoalan yang akan membuat diri lebih matang jika dibina dengan
baik.
Selamat pagi dunia. Tersenyumlah!
KMJ, 09 Januari 2014
Posted by , Published at 10.07 and have
0
komentar




Tidak ada komentar:
Posting Komentar