Tersenyumlah!

Tersenyumlah!



Pagi yang cerah, seperti pagi di musim kemarau. Aku bergegas menuju  emperan rumah untuk menikmatinya. Kuhirup nafas berkali-kali. Kupandangi sesekali matahari itu. Damai dan tentram menelusup masuk ke batinku, tanpa beban dan kerumitan. Suasana hatiku seperti lahir dari kecerahan suasana pagi ini. Seperti kata pak D. Zawawi Imron, barang siapa mampu tersenyum di pagi hari, maka ia akan mampu tersenyum sepanjag hari. Aku ingin tetap bisa tersenyum sepanjang hari ini, seperti pagi ini. Senyum yang menggambarkan kelapangan hati, kebesaran jiwa dan kesederhanaan. Alangkah indahnya kehidupan ini bila dihiasi dengan senyuman. Seperti senyuman yang lahir dari bibir anak-anak kecil itu, tentu tanpa kepentingan ataupun maksud terselubung di dalamnya.

Kuamati kehidupan pagi ini, ternyata bukan hanya aku seorang yang berusaha menghimpun daya untuk mengarungi perjalanan hidup hari ini. Beberapa orang yang kukenal kulihat juga tengah melakukannya. Hanya saja caranya yang berbeda. Mereka melakukannya tidak dengan memandangi suasana sekitar atau merasakan suasana pagi dengan penuh penghayatan seperti yang kulakukan. Mereka berusaha mendapatkan senyum pagi ini dengan canda tawa lepas yang ringan. Rupanya mereka lebih memilih untuk mencairkan suasana, tidak sepertiku yang memprioritaskan batin ketimbang suasana lahiriah.
Tak apa, pasti itu hanyalah perbedaan cara. Mungkin cara itulah yang sesuai dengan kepribadian mereka. Belum tentu mereka dapatkan senyum itu dengan jalan yang kutempuh ini, begitupun denganku melalui cara mereka itu. Mungkin bagi mereka di samping dalam hati, senyum seiris bibir belum cukup, harus sampai terdengar tawa kecil cekikikan. Barangkali mereka juga berbeda denganku dalam menginginkan perjalanan hari mereka. Jika aku hanya menginginkan mampu menikmati suasana sepanjang hari ini, mungkin mereka ingin terus ceria sepanjang hari mereka.
Entahlah! Aku hanya menduga-duga, yang terpenting adalah bahwa ternyata aku tidak sendirian menikmati pagi ini. Kulihat mereka begitu menikmati canda tawa mereka, lepas dan hangat. Kuhampiri mereka dan duduk tanpa suara di belakang salah seorang dari keempat teman itu kudengarkan canda mereka tanpa konsentrasi. Ternyata mereka tidak hanya bercanda ngalur-ngidul sedapatnya. Mereka juga membicarakan kehidupan mereka di sekolah, tentang pelajaran yang disenangi karena bisa menyerap penjelasan gurunya, pelajaran yang gagal mereka cintai karena penyampaian gurunya yang sangat sulit dimengerti, juga tentang cita-cita masa depan pendidikannya. Ada yang bilang ingin kuliah di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, ada pula yang tak ingin jauh-jauh, di Guluk-guluk saja sambil membantu orang tua bekerja. Tentu saja semua itu mereka bicarakan dengan santai, dengan canda tawa, tanpa beban.
“Barang siapa mampu tersenyum di pagi hari, maka ia akan mampu tersenyum sepanjang hari”
Kata-kata itu kembali terucap dalam batinkku. Lalu diam-diam kuamini untukku sendiri dan untuk mereka dengan tanpa terdengar telinga. Aku yakin mereka juga menginginkan sepanjang hari mereka cerah, secerah pagi ini, seceria suasana yang mereka ciptakan ini.
Suasana hening sejenak. Kuucapkan kata-kata itu lagi dengan sedikit lantang, sambil melihat ke arah matahari bersinar, lalu menikmatinya dengan mata terpejam. Tak seorang pun dari mereka menanggapi kata-kata itu. Saat kutoleh mereka semua tersenyum, entah bagaimana mereka memahaminya. Ada yang bahkan berusaha melebar-lebarkan senyumnya. Tak apa, kata-kata sederhana itu kupikir sama sekali tak punya kemungkinan-kemungkin akan fatalnya penafsiran atau pemahaman. Kata-kata itu murni motivasi hidup.
Kutinggalkan mereka dengan pikirannya masing-masing. Kuambil langkah pulang untuk siap-siap memulai aktivitas hari ini. Lamat-lamat terdengar mereka kembali dengan canda tawa itu. Hmmm, kali ini mereka bercanda tentang kata-kata yang kuucapkan itu. Kata-kata sederhana yang begitu dalam maknanya. Dalam suasana semacam itu, mungkin mereka sudah tak menginginkan apa-apa lagi dari hidup ini. Entahlah!
Angka tujuh sudah ditunjuk jarum jam, angin mulai terasa hembusannya, matahari juga mulai terasa panas sinarnya. Ayam piaraanku pun mulai mematuk-matuk di tanah. Sepertinya aku mulai paham satu hal, tentang kata-kata yang sering kudengar sejak kecil dulu, “Kalau tidur di pagi hari, maka rezekinya hilang dipatuk ayam.” Ya, pagi dengan suasana luar biasanya itulah rezekinya. Pagi adalah fondasi bangunan hari, tentu bangunan tak akan kokoh atau bakal segera runtuh tanpa fondasi yang kuat. Pagi adalah lumbung rezeki, lantas bagaimana akan dapat banyak rezeki jika lumbungnya kecil? Ada banyak tantangan tersimpan dalam setiap perjalanan hari yang akan sulit untuk dihadapi. Barangkali dengan berusaha menata diri di awal perjalanan itu, diri akan lebih siap untuk menghadapinya dengan bijaksana. Semua persoalan yang terjadi adalah karena diri sendiri, bukan orang lain. Mereka hanyalah perantara sampainya persoalan yang akan membuat diri lebih matang jika dibina dengan baik.
Selamat pagi dunia. Tersenyumlah!
KMJ, 09 Januari 2014



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 10.07 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: