Obrolan segar terhidang di antara seduan secangkir kopi hangat dan
hisapan rokok yang begitu nikmat terasa. Mula-mula hanya obrolan biasa tanpa
tema dan rencana. Banyak hal dibicarakan
dengan penuh keakraban, hingga tawa lepas pun beberapa kali pecah merobohkan
kemonotonan suasana yang mulai terbangun tanpa disadari.
Di luar pecahan hujan mulai tertabur lembut. Lantunan serial sandiwara
radio Tutur Tinular yang mengalun dari tape hitam setinggi dada yang berfasilitas
rodio itu sesekali mengkhusyukkan waktu. Jalan cerita yang luar biasa
menegangkan, vocal suara dan teknik penceritaan yang lentur dan komunikatif,
membuat kami sesekali terbawa suasana. Cerita tentang runtuhnya Kerajaan
Majapahit. Sangat menegangkan.
Ya, serial sandiwara radio itu pernah ada dulu dan hilang dalam waktu yang
cukup lama. Serial sandiwara yang menghidupkan kembali sejarah, rupanya kini
diulang lagi, namun tetap saja menarik. Nyatanya semua orang memang selalu
merindukan dan menghormatinya, kecuali mereka yang tak paham esensi sejarah
atau tak memerdulikan kenyataan bahwa sebenarnya mereka ada termasuk karena
sejarah itu. Bukankah kehidupan ini memang untuk sejarah? Kehidupan ini karena
sejarah dan berjalan untuk menjadi sejarah pula. Mungkin inilah salah satu
alasannya mengapa sejarah tetap dipelajari sampai saat ini secara turun
temurun. Dengan kata lain, hidup adalah sejarah. Hanya saja kenyataannya banyak
para generasi yang tak menyukainya. Tahun, nama orang, tempat dan sebagainya,
ribet katanya.
Seiring waktu berjalan, obrolan itu mulai putus-putus. Tegukan sisa-sisa
kopi dan hisapan rokok yang hampir habis semakin nikmat saja terasa, mengiringi
jalan cerita sandiwara radio itu.
“Bagaimana kalau kita rutinkan saja ngumpul-ngumpul sambil minum kopi
seperti ini?” Afifi tiba-tiba memulai lagi obrolan dengan suara sedikit lantang
penuh semangat, seperti seorang yang menemukan jalan keluar di tengah-tengah
persoalan pelik.
“Itu ide bagus. Tapi masak cuma ngumpul sambil ngopi?” Seloroh Holqi
segera. Matanya berbinar diiringi senyum tipis dari bibir coklatnya. “Harus ada
hal lain yang lebih positif,” sambungnya kemudian.
“Bagaimana kalau kita isi dengan kajian sastra?”
“Mengapa harus sastra?” tanya Holqi.
“Bukankah kecenderungan dan latar belakang kita memang di sastra? Kesusastraan
di sini juga kulihat sangat memprihatinkan. Kita ajak orang-orang yang paduli
pada sastra, kita ngumpul bersama. Isinya nanti bisa kajian tokoh-tokoh sastra,
puisi dan cerpen. Kamu sendiri kan suka nulis cerpen?” Ucap Afifi lebih deteil.
“Wah! Bagus itu, Keh!” kata Holqi berapi-api.
“Bagaimana kalau langsung kita mulai malam Jum’at mendatang?” kutawarkan
saja waktunya, sebab kedengarannya mereka serius, tidak seperti obrolan-obrolan
sebelumnya yang ujung-ujungnya hanyalah guyonan belaka.
“Kenapa malam Jum’at?” sergah Holqi setelah terlebih dahulu memegang
jidatnya.
“Saya sangat setuju. Saya tak punya kesibukan kalau malam Jum’at, itu
waktu yang tepat. Teman-teman di sekitar sini pun sepertinya tak ada kegiatan
di malam Jum’at. Apa kau punya kesibukan malam Jum’at, Hol?” tanya Afifi
“Nggak sih!” jawab Holqi cepat.
“Gimana, sepakat malam Jum’at?” tanyaku memburu. Keduanya pun mengangguk
pasti.
“Gimana kalau kita mulai dari puisi? Kita nulis puisi masing-masing,
kemudian baca secara bergantian”
“Tak masalah. Tapi masak cuma itu acaranya?” kataku menanggapi Afifi.
Suasana hening sejenak. Angin mendesir letih.
“Bagaimana kalau kita kirim Fatihan untuk para masyaikh kita yang sudah
wafat, kemudian meditasi, baru baca karya sambil ngopi?” lagi-lagi Afifi
memberikan ide cemerlang yang membuat aku dan Holqi mengangguk beberapa kali.
“Lantas di mana tempatnya?” tanyaku lebih jauh
“Biar lebih asyik, kita letakkan di atas lantai dua itu, pakek lilin,”
sahut Holqi tiba-tiba, lengkap dengan ekspresi kedua tangannya.
“Mantap!” ucapku dan Afifi nyaris bersamaan.
***
Di atas lantai dua setelah baca karya, 27 Desember 2012
“Kita namakan apa komunitas ini?”
“Kalau saya menginginkan kebersamaan kita ini tak seruwet
organisasi-organisasi pada umumnya. Semacam perkumpulan saja, seperti
Sabelasan, Orma, Malam Jum’at Manisan dan sebagainya”
“Ya… nyatanya banyak di antara organisasi-organisasi formal itu yang
hanya sebentar bertahan”
“Karena kita ngumpulnya malam jum’at, gimana kalau kita namakan saja Kompolan
Malem Jum’at?”
“KMJ”
“Asik tuh!”
“Setuju…”
Afifi, Holqi, Saya dan Riski telah sukses memulai sebuah kebersamaan,
menggaris sejarah di antara puluhan kebersamaan-kebersamaan yang telah bubar
karena berbagai alasan. Kami bertekad untuk tak ikut terkubur di bawah
kebesaran nama dan kepentingan pribadi masing-masing. Kami ingin tetap bersama.
***
Minggu-minggu kemudian kami kian kokoh berdiri, meski sesekali kami
terjatuh dan tercerai berai. Ada kalanya waktu menjumpai kami dengan begitu
sulit, ada kalanya pula seakan memanjakan kebersamaan di tengah temaram nyala lilin
itu. Pasang surut gelombang semangat seumpama hembusan angin sehari-hari yang
kadang kencang, lirih, kadang pula nyaris tak terasa. Kami sudah kenyang dengan
hal semacam itu, tapi kami tetap berdiri karena semangat kebersamaan yang kami
genggam. Ketika satu terjatuh, yang lain berebut segera mengulurkan tangan.
Sebab kami sadar waktulah yang menghitung langkah kami. Persoalan dana,
minimnya anggota, bahkan gangguan dari pihak luar seperti gerogotan politik
pemenangan PILKADES dan ancaman-ancaman masyarakat sekitar dengan kata-kata
kasar ‘Kumpulan tukang sihir’, semua itu sudah kami lalui. Tapi ternyata kami
tetap satu karena semangat kebersamaan itu saling menjaga satu sama lain,
semangat yang benar-benar tangguh, tahan badai dan topan kehidupan.
“Siapa saja mereka, Kek?” ucapnya polos.
“Mereka semua orang-orang hebat. Mereka tetap menjadi diri sendiri dalam
kebersamaan itu.”
Afifi. Dialah penggagas ide Kompolan ini. Meski ia seorang putra
kiai, tapi sepertinya ia tak suka membanggakan titel Lora yang ia
dapatkan dari masyarakat. Ia lebih memilih untuk menjalani hari-harinya bersama
dan seperti kebanyakan pemuda, juga masyarakat secara umum. Puisi-puisinya
identik dengan letupan diksi yang sepintas terdengar jorok, kepiawaian menyusun
larik dan tentunya ide-ide segar mencengangkan. Bagi kami ia teman sekaligus
guru. Ia mudah akrab dan mengayomi pada siapa saja, itulah yang kami suka
darinya.
Holqi. Awalnya dia nulis cerpen, namun sejak KMJ berdiri karya-karyanya
selalu puisi, entah mengapa. Kami semua mengakui kekuatan diksinya meski tema
yang diangkatnya selalu itu-itu saja, cinta. Dialah yang paling semangat untuk
KMJ, karena jika Kompolan itu libur dia tak bisa menulis, katanya. Dia
mendapat banyak julukan dari teman-teman; penyair lenglang, penyair masa lalu…
Ah, dia sungguh luar biasa.
Riski. Sebenarnya ia ikut KMJ secara kebetulan saja, tapi semangatnya
untuk masa depan KMJ luar biasa. Dialah yang selalu menyayangkan kalau KMJ
harus mati. Tapi Kakek lupa apa ia baca puisi malam itu atau tidak, mengingat
kehadirannya yang tanpa sempat ia persiapkan. Holqilah yang mengajaknya ikut
ngumpul malam itu juga. Ia teman menulis Kakek sejak di pondok dan kami semua
kagum dengan proses kreatifnya yang dimulai sejak MTs.
Edi. Nah! Kalau yang satu ini kalian pasti sangat tahu. Fairuzzabadi. Tak
perlu Kakek ceritakan pada kalian panjang lebar. Kakek hanya ingin
memberitahukan bagaimana kiai kharismatik kalian itu dulu menulis. Sebelum di
KMJ, sebelum ngopeni kalian sebagai santri-santrinya dengan penuh kesabaran,
dulu ia bersama Kakek dan Riski ketika masih mondok, membimbing adik-adik
anggota komunitas menulis cerpen. Kedalaman imajinasi yang sanggup menghiasi
karakter remajanya waktu itu, menjadi kunci cerpen-cerpennya mudah disukai
banyak orang. Ia sangat produktif menulis, sayang tak diiringi semangat ngirim
ke media massa, sayang sekali. Padahal menurut teman-teman ia bisa menjadi
penulis besar karena kemampuannya itu.
“Kalau Kakek sendiri bagaimana? Sepertinya tak adil jika Kakek tak mau
cerita”
Nama asli Kakek Warid meski teman-teman di KMJ lebih mengenal nama Dira W.
Kakek lebih memilih berkarya dari kesunyian hidup yang Kakek jalani. Kekritisan
jiwa dengan kegelisahan-kegelisahannyalah yang Kakek manfaatkan sebagai pengisi
konflik cerpen-cerpen Kakek. Dengan aktivitas nulis buku harian yang masih
sanggup Kakek pertahankan hingga saat ini, Kakek tuliskan lika-liku kehidupan
ini. Menulis seperti sudah menjadi bagian hidup, karena keinginan untuk
memperhalus jiwa dengan kehalusan kata-kata dan deskripsi. Karya-karya yang
sudah Kakek selesaikan merupakan sekelumit gambaran tentang kehidupan yang Kakek
jalani selama ini. Itu semua karena Kakek merasa bahwa kenyataan hidup ini
selalu menyilaukan, terlalu kasar.
Ah! Menceritakan itu semua, membuat Kakek seperti kembali menduduki
rutinitas itu sekitar 20 tahun silam. Tapi masa itu nyatanya telah jauh Kakek tinggalkan.
Kalianlah harapan Kakek. Keinginan kalian untuk membangun kembali KMJ
menumbuhkan rasa bangga yang tak terhingga. Walaupun jalan yang kalian tempuh
untuk menegakkan lagi KMJ ini sudah sama sekali berbeda. Tapi Kakek ingin
kalian mempertahankan semangat kebersamaan yang pernah kami bangun itu. Karena
dengan semangat itulah KMJ sanggup bertahan hingga 10 tahun lebih. Kalian harus
tahu kalau KMJ dulu bubar semata-mata karena pudarnya semangat itu. Aku ingin KMJ
ini tetap utuh selama mungkin. Jangan biarkan sejarah buru-buru mengenangnya.
Lengkong, 19-20/05/2013
Posted by , Published at 09.42 and have
0
komentar




Tidak ada komentar:
Posting Komentar