KMJ

KMJ

Jum’at pagi di Kantor RA, 21 Desember 2012
Obrolan segar terhidang di antara seduan secangkir kopi hangat dan hisapan rokok yang begitu nikmat terasa. Mula-mula hanya obrolan biasa tanpa tema dan  rencana. Banyak hal dibicarakan dengan penuh keakraban, hingga tawa lepas pun beberapa kali pecah merobohkan kemonotonan suasana yang mulai terbangun tanpa disadari.
Di luar pecahan hujan mulai tertabur lembut. Lantunan serial sandiwara radio Tutur Tinular yang mengalun dari tape hitam setinggi dada yang berfasilitas rodio itu sesekali mengkhusyukkan waktu. Jalan cerita yang luar biasa menegangkan, vocal suara dan teknik penceritaan yang lentur dan komunikatif, membuat kami sesekali terbawa suasana. Cerita tentang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Sangat menegangkan.
Ya, serial sandiwara radio itu pernah ada dulu dan hilang dalam waktu yang cukup lama. Serial sandiwara yang menghidupkan kembali sejarah, rupanya kini diulang lagi, namun tetap saja menarik. Nyatanya semua orang memang selalu merindukan dan menghormatinya, kecuali mereka yang tak paham esensi sejarah atau tak memerdulikan kenyataan bahwa sebenarnya mereka ada termasuk karena sejarah itu. Bukankah kehidupan ini memang untuk sejarah? Kehidupan ini karena sejarah dan berjalan untuk menjadi sejarah pula. Mungkin inilah salah satu alasannya mengapa sejarah tetap dipelajari sampai saat ini secara turun temurun. Dengan kata lain, hidup adalah sejarah. Hanya saja kenyataannya banyak para generasi yang tak menyukainya. Tahun, nama orang, tempat dan sebagainya, ribet katanya.
Seiring waktu berjalan, obrolan itu mulai putus-putus. Tegukan sisa-sisa kopi dan hisapan rokok yang hampir habis semakin nikmat saja terasa, mengiringi jalan cerita sandiwara radio itu.
“Bagaimana kalau kita rutinkan saja ngumpul-ngumpul sambil minum kopi seperti ini?” Afifi tiba-tiba memulai lagi obrolan dengan suara sedikit lantang penuh semangat, seperti seorang yang menemukan jalan keluar di tengah-tengah persoalan pelik.
“Itu ide bagus. Tapi masak cuma ngumpul sambil ngopi?” Seloroh Holqi segera. Matanya berbinar diiringi senyum tipis dari bibir coklatnya. “Harus ada hal lain yang lebih positif,” sambungnya kemudian.
“Bagaimana kalau kita isi dengan kajian sastra?”
“Mengapa harus sastra?” tanya Holqi.
“Bukankah kecenderungan dan latar belakang kita memang di sastra? Kesusastraan di sini juga kulihat sangat memprihatinkan. Kita ajak orang-orang yang paduli pada sastra, kita ngumpul bersama. Isinya nanti bisa kajian tokoh-tokoh sastra, puisi dan cerpen. Kamu sendiri kan suka nulis cerpen?” Ucap Afifi lebih deteil.
“Wah! Bagus itu, Keh!” kata Holqi berapi-api.
“Bagaimana kalau langsung kita mulai malam Jum’at mendatang?” kutawarkan saja waktunya, sebab kedengarannya mereka serius, tidak seperti obrolan-obrolan sebelumnya yang ujung-ujungnya hanyalah guyonan belaka.
“Kenapa malam Jum’at?” sergah Holqi setelah terlebih dahulu memegang jidatnya.
“Saya sangat setuju. Saya tak punya kesibukan kalau malam Jum’at, itu waktu yang tepat. Teman-teman di sekitar sini pun sepertinya tak ada kegiatan di malam Jum’at. Apa kau punya kesibukan malam Jum’at, Hol?” tanya Afifi
“Nggak sih!” jawab Holqi cepat.
“Gimana, sepakat malam Jum’at?” tanyaku memburu. Keduanya pun mengangguk pasti.
“Gimana kalau kita mulai dari puisi? Kita nulis puisi masing-masing, kemudian baca secara bergantian”
“Tak masalah. Tapi masak cuma itu acaranya?” kataku menanggapi Afifi. Suasana hening sejenak. Angin mendesir letih.
“Bagaimana kalau kita kirim Fatihan untuk para masyaikh kita yang sudah wafat, kemudian meditasi, baru baca karya sambil ngopi?” lagi-lagi Afifi memberikan ide cemerlang yang membuat aku dan Holqi mengangguk beberapa kali.
“Lantas di mana tempatnya?” tanyaku lebih jauh
“Biar lebih asyik, kita letakkan di atas lantai dua itu, pakek lilin,” sahut Holqi tiba-tiba, lengkap dengan ekspresi kedua tangannya.
“Mantap!” ucapku dan Afifi nyaris bersamaan.
***
Di atas lantai dua setelah baca karya, 27 Desember 2012
“Kita namakan apa komunitas ini?”
“Kalau saya menginginkan kebersamaan kita ini tak seruwet organisasi-organisasi pada umumnya. Semacam perkumpulan saja, seperti Sabelasan, Orma, Malam Jum’at Manisan dan sebagainya”
“Ya… nyatanya banyak di antara organisasi-organisasi formal itu yang hanya sebentar bertahan”
“Karena kita ngumpulnya malam jum’at, gimana kalau kita namakan saja Kompolan Malem Jum’at?”
“KMJ”
“Asik tuh!”
“Setuju…”
Afifi, Holqi, Saya dan Riski telah sukses memulai sebuah kebersamaan, menggaris sejarah di antara puluhan kebersamaan-kebersamaan yang telah bubar karena berbagai alasan. Kami bertekad untuk tak ikut terkubur di bawah kebesaran nama dan kepentingan pribadi masing-masing. Kami ingin tetap bersama.
***
Minggu-minggu kemudian kami kian kokoh berdiri, meski sesekali kami terjatuh dan tercerai berai. Ada kalanya waktu menjumpai kami dengan begitu sulit, ada kalanya pula seakan memanjakan kebersamaan di tengah temaram nyala lilin itu. Pasang surut gelombang semangat seumpama hembusan angin sehari-hari yang kadang kencang, lirih, kadang pula nyaris tak terasa. Kami sudah kenyang dengan hal semacam itu, tapi kami tetap berdiri karena semangat kebersamaan yang kami genggam. Ketika satu terjatuh, yang lain berebut segera mengulurkan tangan. Sebab kami sadar waktulah yang menghitung langkah kami. Persoalan dana, minimnya anggota, bahkan gangguan dari pihak luar seperti gerogotan politik pemenangan PILKADES dan ancaman-ancaman masyarakat sekitar dengan kata-kata kasar ‘Kumpulan tukang sihir’, semua itu sudah kami lalui. Tapi ternyata kami tetap satu karena semangat kebersamaan itu saling menjaga satu sama lain, semangat yang benar-benar tangguh, tahan badai dan topan kehidupan.
“Siapa saja mereka, Kek?” ucapnya polos.
“Mereka semua orang-orang hebat. Mereka tetap menjadi diri sendiri dalam kebersamaan itu.”
Afifi. Dialah penggagas ide Kompolan ini. Meski ia seorang putra kiai, tapi sepertinya ia tak suka membanggakan titel Lora yang ia dapatkan dari masyarakat. Ia lebih memilih untuk menjalani hari-harinya bersama dan seperti kebanyakan pemuda, juga masyarakat secara umum. Puisi-puisinya identik dengan letupan diksi yang sepintas terdengar jorok, kepiawaian menyusun larik dan tentunya ide-ide segar mencengangkan. Bagi kami ia teman sekaligus guru. Ia mudah akrab dan mengayomi pada siapa saja, itulah yang kami suka darinya.
Holqi. Awalnya dia nulis cerpen, namun sejak KMJ berdiri karya-karyanya selalu puisi, entah mengapa. Kami semua mengakui kekuatan diksinya meski tema yang diangkatnya selalu itu-itu saja, cinta. Dialah yang paling semangat untuk KMJ, karena jika Kompolan itu libur dia tak bisa menulis, katanya. Dia mendapat banyak julukan dari teman-teman; penyair lenglang, penyair masa lalu… Ah, dia sungguh luar biasa.
Riski. Sebenarnya ia ikut KMJ secara kebetulan saja, tapi semangatnya untuk masa depan KMJ luar biasa. Dialah yang selalu menyayangkan kalau KMJ harus mati. Tapi Kakek lupa apa ia baca puisi malam itu atau tidak, mengingat kehadirannya yang tanpa sempat ia persiapkan. Holqilah yang mengajaknya ikut ngumpul malam itu juga. Ia teman menulis Kakek sejak di pondok dan kami semua kagum dengan proses kreatifnya yang dimulai sejak MTs.
Edi. Nah! Kalau yang satu ini kalian pasti sangat tahu. Fairuzzabadi. Tak perlu Kakek ceritakan pada kalian panjang lebar. Kakek hanya ingin memberitahukan bagaimana kiai kharismatik kalian itu dulu menulis. Sebelum di KMJ, sebelum ngopeni kalian sebagai santri-santrinya dengan penuh kesabaran, dulu ia bersama Kakek dan Riski ketika masih mondok, membimbing adik-adik anggota komunitas menulis cerpen. Kedalaman imajinasi yang sanggup menghiasi karakter remajanya waktu itu, menjadi kunci cerpen-cerpennya mudah disukai banyak orang. Ia sangat produktif menulis, sayang tak diiringi semangat ngirim ke media massa, sayang sekali. Padahal menurut teman-teman ia bisa menjadi penulis besar karena kemampuannya itu.
“Kalau Kakek sendiri bagaimana? Sepertinya tak adil jika Kakek tak mau cerita”
Nama asli Kakek Warid meski teman-teman di KMJ lebih mengenal nama Dira W. Kakek lebih memilih berkarya dari kesunyian hidup yang Kakek jalani. Kekritisan jiwa dengan kegelisahan-kegelisahannyalah yang Kakek manfaatkan sebagai pengisi konflik cerpen-cerpen Kakek. Dengan aktivitas nulis buku harian yang masih sanggup Kakek pertahankan hingga saat ini, Kakek tuliskan lika-liku kehidupan ini. Menulis seperti sudah menjadi bagian hidup, karena keinginan untuk memperhalus jiwa dengan kehalusan kata-kata dan deskripsi. Karya-karya yang sudah Kakek selesaikan merupakan sekelumit gambaran tentang kehidupan yang Kakek jalani selama ini. Itu semua karena Kakek merasa bahwa kenyataan hidup ini selalu menyilaukan, terlalu kasar.
Ah! Menceritakan itu semua, membuat Kakek seperti kembali menduduki rutinitas itu sekitar 20 tahun silam. Tapi masa itu nyatanya telah jauh Kakek tinggalkan. Kalianlah harapan Kakek. Keinginan kalian untuk membangun kembali KMJ menumbuhkan rasa bangga yang tak terhingga. Walaupun jalan yang kalian tempuh untuk menegakkan lagi KMJ ini sudah sama sekali berbeda. Tapi Kakek ingin kalian mempertahankan semangat kebersamaan yang pernah kami bangun itu. Karena dengan semangat itulah KMJ sanggup bertahan hingga 10 tahun lebih. Kalian harus tahu kalau KMJ dulu bubar semata-mata karena pudarnya semangat itu. Aku ingin KMJ ini tetap utuh selama mungkin. Jangan biarkan sejarah buru-buru mengenangnya.
Lengkong, 19-20/05/2013


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 09.42 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: