Hujan
sore tadi adalah kelanjutan dari cerita hujan tadi pagi. Mendung yang pekat dan
sapuan kencang angin, membuat suasana demikian mengerikan.
Kehawatiran-kehawatiran tak lagi bisa disembunyikan. Kejadian buruk entah yang
sudah pernah dialami atau hanya pernah didengar dan dibaca, semuanya bergemuruh
dalam dada.
Tapi
sekarang, di ujung branda malam, hujan tak ada sama sekali, angin pun nyaris
tak terasa keberadaannya, hanya dingin yang tersisa. Gelap, lengang dan sedikit
hampa. Kuputuskan untuk menyusuri lorong beraspal yang sudah compang-camping
ini, yang sepertinya memang sengaja dibiarkan tak terurus. Aku tak berpapasan
dengan siapapun, hanya katak-katak sawah yang gaduh bersahutan, tak kalah
meriah dengan perayaan tahun baru waktu itu, bahkan mungkin lebih menarik.
Entah berapa katak yang seolah bernyanyi itu, namun sawah-sawah seperti
dipenuhi dengan katak. Mungkin katak-katak itu tengah bersuka cita karena
genangan air yang hujan sisakan, mungkin juga karena kelengangan ini, agar
malam tak larut terlalu cepat. Tapi bukankah hanya naluri yang mereka miliki?
Namun segala kemungkinan selalu ada. Katak-kata memang tak punya akal untuk
memikirkan seperti yang kupikirkan, juga hati nurani untuk merasakan seperti
yang kurasakan. Tapi mungkin saja dengan tanpa akal dan nurani mereka bisa
melakukan dan merasakan seperti yang manusia bisa meski tak sepenuhnya.
Entahlah! Manusia hanya mampu mengetahui sesuai kemampuan otak dan nurani.
Tanpa
kusadari anganku terbang, membayangkan hidup katak-katak itu. O, bahagianya,
tak pernah berat dengan persoalan-persoalan, tak merasa kesepian dalam gelap.
Tapi… katak-katak itu pasti tak pernah marasakan indahnya merindu dan mencinta,
atau sebaliknya, dirindui dan dicintai. Cinta dan rindu yang meski sudah tak
kusukai untuk membahasnya itu tetap saja anugerah luar biasa dari Tuhan. Sebab
merasakannya berarti normal mengarungi hidup. Katak-katak itu menjadi pelengkap
kehidupan, mengiringi cinta dan rindu.
Kulanjutkan
langkah perlahan, menerobos gelap sambil sesekali menengadah ke langit,
menyaksikan bintang-bintang yang sepertinya masih berlumuran sisa-sisa hujan
tadi sore. Katak-katak itu semakin keras saja bersenandung memecah sunyi. Ada
yang merdu dan ada pula yang serak suaranya. Ada yang begitu bersemangat sampai
terdengar berapi-api dan ada pula yang biasa-biasa saja, santai-santai saja.
Iramanya pun teratur. Mereka bersuara secara bergantian, sama sekali tak
terdengar ada yang ingin mendahului satu sama lain, seperti satu kelompok
paduan suara yang begitu terlatih. Barangkali mereka sedang bertasbih mengagungkan
kekuasaan Tuhan, atau mungkin tengah berdoa untuk kelimpahan hasil panen padi
di sawah yang sedang mereka tumpangi itu.
Padi-padi
yang hijau menyejukkan. Pasti katak-katak itu akan kecewa jika petani berhenti
menanami sawah-sawahnya dengan padi. Sebab pada tumbuhan padilah air hujan
menggenang sampai beberapa hari untuk mereka bermain ria di sana, bahkan sampai
beranak-pinak.
Tentu saja para petani tidak akan
berhenti. Padi, jagung dan tanaman biji-bijian lainnya sudah menjadi prinsip
dalam kehidupan bercocok tanam para petani. Mereka sudah tak peduli pada pengulak
dan pemasok. Sebab bagi mereka berhenti menanamnya berarti berhenti mengisi
lumbung, juga berhenti berharap dan berusaha untuk anak cucu mereka. Dan
katak-katak akan selalu menemani serta mendukung perjalanan bercocok tanam para
petani dari tahun ke tahun.
Seperti halnya para petani yang sedikit
sekali kemungkinan untuk berhenti menanam padi, sepertinya katak-katak tak akan
punah meski akhir-akhir ini mereka mulai diburu. Mereka berkembang biak
dengan mudah dan cepat. Mereka akan selalu bersuara di tengah sawah-sawah.
Akhir-akhir ini para petani bahkan menanam
padi dan jagung di musim kemarau. Mereka datangkan air dari sungai dan sumur.
Tanaman tembakau yang sekian lama menjadi ciri khas pertanian mereka di musim
kemarau tak lagi merata di sawah-sawah. Mungkin karena di samping kondisi musim
kemarau yang nyaris selalu tak menentu, dan harga tembakau yang sudah mulai
mencekik para petani, mungkin juga karena padi dan jagung merupakan jati diri
para petani. Katak-katak itu sudah tak perlu lagi hawatir dan pergi entah kemana
karena musim kemarau, sebab selalu ada tanah-tanah basah sampai menggenang
cukup dalam untuk mereka bermain dan bernyanyi, di tengah hijaunya tumbuhan
padi, jagung dan lainnya.
Tanaman
padi dan jagung memang bukan sekedar tanaman pangan biasa. Ada hal istimewa
tersimpan di balik suasana sawah-sawah dengan kedua jenis tanaman itu. Kesiur
angin di sore hari tidak hanya mengeringkan keringat-keringat letih yang
membasahi tubuh para petani, tapi juga membantu meringankan beban yang
bergelantungan, meredam amarah dan bahkan menyembuhkan penyakit terkutuk bernama
dendam, dendam yang membuat pertikaian berkepanjangan. Daun-daun tanaman jagung
bergesekan satu sama lain dan menghasilkan suara yang sepertinya tak kan pernah
bisa sempurna ditiru oleh alat-alat musik modern masa kini, seperti musik alam,
sederhana dan tidak membosankan. Ketika pandangan dilempar ke tengah sawah-sawah
yang dijejali dengan hijau padi-padian, sungguh seperti menyaksikan lautan
tanpa pantai ataupun debur ombak, dan tentu tanpa badai pula, sungguh indah. Orang-orangan
padi di tengah bidang-bidang sawah berlenggak-lenggok kaku dihempas angin,
melambangkan ketangguhan, kemandirian, keperkasaan dan ketabahan pribadi para
petani. Dan tatkala panen tiba, sawah-sawah seperti berubah menjadi dunia yang
syarat kebahagiaan dan kedamaian. Wajah para petani sumringah dan bocah-bocah
bermain riang di sana, seperti bukan hanya panen hasil pertanian belaka. Mereka
seperti mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari jagung dan padi. Mereka
seperti memeluk jati diri, jati diri sebagai petani. Bocah-bocah membuat mainan
dari jerami yang ketika ditiup bunyinya mirip dengan terompet. Ditiupnya
berulang-ulang, hingga membuat suasana begitu meriah. Mereka juga bermain
layang-layang di tengah tiupan angin yang normal dan segar, tanpa gangguan
bangunan-bangunan yang tinggi menjulang, dan tentu saja juga jauh dari polusi.
Dan para bocah-bocah itu sangat gembira ketika mereka diizinkan untuk memakai
capil yang biasa digunakan orang tua mereka bekerja sehari-hari di sawah,
sambil meniup terompet mainan dan membiarkan layangannya menari-nari di udara. Bocah-bocah
itu terlihat gagah.
Suara
kata-katak mulai parau membentur gendang telingaku. Ah! Aku merindukan masa
lalu, juga mereka yang pergi meninggalkan desa ini, mereka yang pergi ke kota
ataupun ke luar negeri untuk bekerja mencari uang, kuliah dan sebagainya. Pasti
mereka tak bisa menikmati nyanyian katak-katak ini di sana, jadi tentu saja mereka
juga merindukan suasana semacam ini. Mereka pasti selalu rindu pulang meski
banyak hal memberatkan hati mereka. Rasa-rasanya desa memang tempat paling
indah dan nyaman untuk kelangsungan hidup ini.
Padi-padiku
sudah tumbuh seukuran lengan. Sebenarnya aku masih ingin singgah dan duduk
sebentar di tepinya, di bawah Pohon Pepaya yang tumbuh sendirian dan tidak
terlalu besar itu, menikmati suasana surga ini. Tapi mendung mulai berarak
menelan bintang-bintang. Sepertinya hujan akan datang lagi mengguyur malam,
memanjakan katak-katak di tengah sawah-sawah. Aku harus segera pulang. Selamat
berpesta wahai para katak.
Gubuk Bambu, 30 Januari 2014
Posted by , Published at 10.23 and have
0
komentar




Tidak ada komentar:
Posting Komentar