Aku Ingin Kembali

Aku Ingin Kembali


Perih kuingat hari-hari yang telah kulalui. Sedih kubayangkan hari-hari yang akan kuhadapi. Kenyataan tak seindah dulu lagi, sebelum hari itu, keberhentianku mondok sekitar sebulan yang lalu.
Semuanya berubah. Jika dulu aku merasa seperti memiliki segalanya, namun kini aku seperti telah kehilangan segalanya. Kalau dulu begitu sulit kudapatkan kesendirian kosong dan sia-sia, sekarang aku malah selalu sendiri, dan parahnya kesendirian itu begitu gersang menjemukan, bukan sekedar penenang kepadatan hari-hari dan perenungan hidup yang telah dilalui. Jika dulu nafasku begitu asyik dengan karya-karya, kini satupun tak selesai-selesai kutuangkan.


Aku begitu tersiksa dengan kenyataan ini. Hidup yang kujalani seperti mulai dari nol lagi. Aku seperti telah kehilangan diriku sendiri. Bukannya tak ada usaha untuk menyelesaikan persoalan ini, hanya saja kenyataan itu tak jua berubah, entah mengapa. Kebiasaan-kebiasaan yang selalu mewarnai hari-hariku di pondok seperti keakraban dan kehangatan jalinan pertemanan, suasana religius menentramkan, semangat belajar yang tinggi, semuanya tak kudapatkan di sini dan begitu sulit memulainya lagi. Berulangkali kucoba untuk menikmati kenyataan getir ini dan menuangkannya apa adanya, tanpa beban, namun hari-hari yang berganti monoton itu ternyata hanya bisa memberiku kejenuhan hampa.
Yang paling menyesakkan dada adalah vakumnya kebiasaan menulisku. Aku sangat terpukul. Aku tak lagi bisa menulis dengan lancar, seperti begitu sulit menuangkan hidup ke dalam lembar harianku. Walaupun kebiasaan yang dulu kukultus sebagai kewajiban itu terpenuhi, tapi isinya begitu dangkal, sebab masih harus dipaksakan. Kemampuan merangkai kata-kata biasa menjadi kalimat luar biasa yang dulu kudapatkan dan kunikmati di pondok itu seperti telah hilang begitu saja dari genggaman. Kebahagiaan dan penderitaan hidup yang biasa kusulam dengan kata-kata menjadi karya, kini tak ubahnya debu-debu bebatuan di penghujung musim kemarau. Akankah kreativitas yang selama ini telah mendewasakan hidupku itu berakhir? Tidak! Terlalu naif jika harus menyerah semudah ini. Bukahkah Tuhan menguji hambanya karena kasih sayang-Nya?
Aku pun berusaha meragamkan warna hidup sehari-hari dengan mencari kesibukan-kesibukan dengan asumsi bahwa ide-ide cemerlang dan semangat menulisku kembali. Kuajak beberapa orang yang kulihat sedikit bisa dan memiliki semangat menulis untuk belajar bersama, hingga menghasilkan satu kesepakatan program rutin seminggu sekali, semacam kegiatan yang pernah kujalani di pondok. Tapi hanya satu kali berjalan, membicarakan karya yang kuselesaikan di awal-awal keberhentianku mondok, setelah itu entah kemana perginya.
Kesibukan yang kubangun pun putus. Ternyata lingkungan sama sekali tak mendukung, kesibukan itulah justru yang sulit kudapatkan. Kalaupun kudapatkan, tetap saja aku tak dapat berbuat apa-apa, tak bisa membuatku menulis lagi. Fajar, senja dan malam yang selama ini memanjakan imajinasi untuk melahirkan karya-karya, kini seperti telah berubah hampa.
Aku juga pernah menyanggupi anak-anak sekolahan itu untuk mendampingi mereka yang siap berproses, mulai dari perbaikan-perbaikan sampai ngirim ke media massa lewat e-mail. Tapi sampai saat ini masih seperti mimpi.
Kini aku sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Semua usaha yang kuperjuangkan belum juga menggembirakan hati, menghadiahiku rasa bangga dalam dada. Aku pun tak tahu apakah dengan ungkapan keletihan usahaku ini berarti aku telah menyerah. Namun keinginan untuk tetap menjadi diriku seperti di pondok masih begitu kuat tertancap dalam dada. Aku masih ingin terus menulis dan berkarya, bahkan seperti yang pernah kuimpikan dulu, membangun peradaban menulis di sini, tanah kelahiranku.
Di tengah keperihan ingatanku, perlahan terbayang curhat seorang teman yang tengah kuliah di Surabaya dua malam yang lalu. Dia mengisahkan tentang bagaimana hidupnya di sana, terutama tentang kebiasaan menulisnya yang dibangun bersamaku dulu di pondok. Diceritakan padaku lewat telepon bahwa di sana ia tak bisa lagi menulis dengan mudah seperti masih di pondok. Ada saja perantara, salah satunya pengaruh teman dan hal-hal lain yang tak begitu penting dan bermanfaat. Ia kemudian membandingkan pondok dan tempatnya sekarang, “Lebih enak di pondok ketimbang di sini,” katanya. Kubenarkan perkataan itu dengan mengukapkan bahwa sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama di sini, desa kelahiranku dan dia. Kita kemudian membicarakan teman-teman yang masih aktif di pondok.
“Mereka yang masih belajar di pondok sebaiknya tidak buru-buru untuk pergi dan meninggalkan pondok.”
“Ya… Mereka harus sungguh-sungguh dalam belajar, tekun dan sabar. Sebab setelah keluar nanti, kenyataan akan jauh berbeda, lebih berat dan sulit, terutama suasana lingkungan kaitannya dengan semangat dan kesempatan belajar,” sambungku.
“Mereka mesti tahu dan sadar akan hal ini, agar persiapan mereka matang dan mantap untuk menghadapinya nanti.”
“Kau ingat bagaimana kita belajar menjadi diri sendiri dalam komunitas sederhana itu?” tanyaku coba mengenang.
“Ingatkah juga kau tentang senja selalu kutunggui, kesendirianmu menjelang larut malam di bawah langit lepas, Edi yang begitu akrab dengan rembulan, kegilaan Badrus, Shadiq dan Hariri dalam mengarungi perjalanan cintanya?”
“Ya… aku masih ingat betul semua itu. Masing-masing kita memiliki kegemaran berbeda dalam menghidupi kreativitas menulis yang telah kita gali bersama dalam komunitas tercinta,” tambahku.
“Tapi apa yang terjadi pada kita sekarang, aku dan kamu? Mengapa setelah berhenti mondok seolah kita telah kehilangannya?” tanyanya berat.
“Mungkin karena belum benar-benar menyatu…” jawabku coba menerka.
“Ya, sepertinya begitu… Jika demikian, teman-teman di pondok mesti memanfaatkan waktu sebaik-baiknya guna mengokohkan kebiasaan itu dalam jiwa”
***
Aku ingin kembali menikmati suasana pondok yang selalu membimbingku sehari-hari dengan beragam peraturan yang mengikat itu. Di sini kurasakan begitu sulit membimbing diri sendiri. Aku ingin kembali ke masa lalu yang sebenarnya masih tidak terlalu jauh itu.
Tapi bagaimana dengan masa yang tengah kujalani ini? Haruskah kutinggalkan? Sedangkan telah kutanam benih hidup untuk masa depan nanti. Sepertinya terlalu egois jika harus menuruti keinginan itu. Bukankah hari ini anugerah yang mesti dijalani?
Ya… aku harus tetap memperjuangkan masa lalu itu berjalan di sini, bahkan meningkatkannya lebih maju dan baik, bukan kembali sepenuhnya ke masa lalu.
Hembusan angin sudah tak berbekas, dedaunan kini membisu. Kuangkat dudukku dari emperan bagian depan mushalla di sebelah utara rumahku. Rupanya hampir setengah jam kusunyikan waktuku, merenungkan kenyataan yang mengingatkanku pada masa lalu. Halaman buku harianku masih beberapa baris terisi. Terasa sesak di dada.
Tak sengaja kulihat seseorang yang waktu itu pernah kuajak untuk belajar nulis bersama. Ia tengah husyuk menghadapi seonggok buku tulis dengan sebatang ballpoint sederhana di ujung emperan mushalla sebelah utara. Sepertinya ia tengah menulis. Meski tak tahu apa yang sedang ia tulis, walau aku justru curiga ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya, satu pengharapan tumbuh di hati, semoga ini merupakan salah satu hasil dari usahaku itu dan memancing semangat nulisku kembali.

Lengkong, Februari 2013



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 08.24 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: