2014, Bayang-Bayang Kuburan tak Bernisan

2014, Bayang-Bayang Kuburan tak Bernisan



Sore ini mendung menguasai langit, aku tak bisa melihat warna sejuk itu, biru. Tak kulihat senja memerah sedikitpun. Semua penjuru telah tertutup awan. Aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir. Sudah terlalu lama awan kelabu meghalangi senja untuk kupandangi. Barangkali sudah seminggu malam terasa datang lebih—terlalu—cepat. Kata orang-orang, beginilah setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, cuaca nyaris tak pernah cerah, bahkan hujan tak henti-hentinya menghukum semesta. Kata mereka langit menangis di penghujung tahun ini karena kebobrokan-kebobrokan yang telah tercecer dimana-mana dan tahun berikutnya dihawatirkan akan semakin merajalela, mengingat upaya untuk sekedar menguranginya nyaris tak ada. Bencana besar sudah menunggu di ujung angka-angka tanggal, bulan dan tahun 2014.

Orang-orang di zaman modern ini memang mulai suka mengambil kesimpulan atau tafsiran-tafsiran atas fenomena yang terjadi, meski sebenarnya hidup mereka sudah demikian jauh dari alam, walaupun perbuatan mereka sehari-hari sama sekali tak mencerminkan kecintaan atau sekedar kepedulian mereka pada lingkungan. Masih segar dalam ingatan tentang ramalan kiamat itu. Ramalan yang sempat membuat dunia sedemikian hebohnya. Meski ramalan itu jelas hanya mengada-ada, terbukti sampai saat ini kehidupan masih berlangsung seirama putaraan bumi, namun satu hal bisa kupahami, bahwa pertemuan akhir dan awal adalah hal yang berat dan rumit. Kiamat yang mereka ramalkan itu bisa saja hanyalah satu bentuk kepanikan atas pertemuan  dua titik vital tersebut.
“Ini menyangkut masa depan.”
Akhir hari yang ditandai dengan tenggelamnya matahari dan akan diganti malam. Kalau saja matahari tak datang lagi, tentu tak akan ada lagi sumber energi. benih-benih hasil usaha yang sudah sedikit dicapai tentu tak akan tumbuh lebih besar. Akhir kebersamaan yang ditandai dengan kepergian salah satunya akan menemui awal kesepian dalam kesendirian masing-masing. Tentu sangat menyakitkan jika pertemuan kembali tak jua terjadi atau tak akan pernah terjadi. Atau tentang akhir hitungan satu perjalanan melelahkan yang akan segera menemui awal perjalanan berikutnya seperti yang tengah kuhadapi ini. Bagaimana jika akhir itu tidak benar-benar bertemu dengan awal selanjutnya? Sungguh! Alangkah mengerikannya kehawatiran-kehawatiran.
Kehawatiran tak ubahnya iblis yang tak pernah lelah mengganggu. Ia selalu datang membawa bayangan hitam dari masa depan, hingga menghasilkan rasa pesimis yang dalam. Kehawatiran-kehawatiran memang sudah biasa hadir dan bisa diatasi. Namun kehawatiran yang datang di akhir hitungan, di antara harapan dan cita-cita menjelang hitungan baru, sungguh berat dan rumit, menggoyahkan pendirian dan prinsip.
Perpisahan berair mata seorang Ibu renta dan Bapak lumpuh dengan anaknya tak jauh dari pekarangan rumahku itu benar-benar terjadi beberapa tahun silam. Sang anak tersebut beberapa bulan kemudian pulang dari rantauan dengan peti mati, bukan uang, tanpa sempat membuat tangisan sedih waktu itu menjadi tangis bahagia. Juga tentang kematian seorang gadis 18 tahun yang terjadi saat perayaan ulang tahunnya belum lengkap sehari berlalu. Sungguh menyedihkan, dia tewas setelah pesta ulang tahun yang dirayakan dengan Miras bersama teman-temannya itu.
Sepertinya memang benar ucapanku di tengah Hari Senin 11 November itu, hari ulang tahun adalah hitungan persinggahan menuju kematian. Tapi mengapa orang-orang justru merayakannya dengan pesta miras, sex, narkoba dan sebagainya di hari ultah usia mereka? Juga dalam menyambut pergantian tahun? Hari yang katanya sangat penting itu justru dirayakan dengan hal-hal yang sama sekali tak penting, bahkan merugikan diri mereka sendiri. Barangkali itulah sebabnya mengapa bencana alam selalu menghiasi tahun-tahun terakhir ini, karena orang-orang merayakannya dengan pesta bising dan angkuh, mungkin. Pertemuan antara akhir hari kehidupan satu tahun yang telah dilalui dengan awal hari satu tahun berikutnya. Mengapa tidak dijadikan kesempatan untuk evaluasi? Evaluasi untuk perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan, juga rencana-rencana yang baik untuk perjalanan selanjutnya. Mungkin itu sebabnya mengapa nilai-nilai semakin hari semakin pudar memprihatinkan, mereka sudah acuh tak acuh pada kehidupan, hidup mereka sendiri. hidup berlalu begitu saja, tanpa usaha-usaha jelas untuk menjadi lebih baik. mungkinkah sudah tak ada lagi keinginan dan cita-cita masa depan?
Tentang tahun baru, ada-ada saja orang menyambutnya. Ada yang begitu gelisah hingga tak ingin menerima kenyataan pergantian tahun itu hanya karena tak punya pacar. Ada pula yang bahkan rela keperawanannya hilang tepat di detik pertama tahun baru tersebut. Ada yang bahkan repot-repot merencanakan kelahiran bayi yang sebenarnya masih belum cukup umur dalam kandungan hanya karena bilangan cantik yang diyakini sebagai sumber keberuntungan, misalnya 12 12 2012 12.00.
Entahlah! Zaman telah amburadul. Kebobrokan nilai sudah semakin tak terukur dan mulai dimaklumi. Pertikaian tanpa henti dengan dalih agama, kemanusiaan, persatuan dan sebagainya mulai ambil bagian dalam kehidupan ini. Kekerasan terus saja melahirkan wujud-wujud baru. Semua itu barangkali karena tidak adanya evaluasi dan introspeksi diri yang kemudian diikuti dengan upaya perbaikan-perbaikan.
Senja benar-benar telah usai, orang-orang mulai meneriakkan kabar itu dari bawah kebekuan angin. Sementara awan yang berarak kian pekat semakin mendramatisir keadaan, mencipta gejolak dahsyat dalam batinku. Aku bergegas menuju kamar mandi, membasahi muka dengan air wudlu’. Mulai kuhawatirkan malam yang akan segera datang dan membawaku menjumpai rutinitas komunitas itu. Sebuah komunitas ngumpul dan berkarya bersama yang sudah genap satu tahun berjalan. Ya, aku justru hawatir akhir tahun pertama perjalanan ini sekaligus mejadi awal keruntuhan komunitas mengingat selama ini kebersamaan mulai jarang dijalin. Di antara harapan tetap tegaknya komunitas itu terselip kehawatiran, bagaimana kalau ternyata setelah genap satu tahun yang ditandai dengan perayaan sederhana malam ini, sejarah tak kan lagi berlanjut? Bagaimana jika setelah perayaan berupa kembali berkumpulnya semua anggota dengan suasana forum yang begitu hangat-meriah, tak terjadi lagi malam Jum’at yang akan datang? Tidak! Aku tak ingin 2014 menjadi kuburan tak bernisan berikutnya.
Kuburan tak bernisan? Ya, kuburan yang memang tak bisa diletakkan nisan di atasnya. Nisan yang selalu bertuliskan nama. Bagaimana mesti dinamai jika yang mati bukan orang, melainkan komunitas, kebudayaan dan nilai-nilai luhur? Tentu tak mungkin membangun kuburan dengan nisan KMJ.
Kehawatiran kini benar-benar menyelimpung pikiranku. Tapi aku tak ingin komunitas yang selama ini telah banyak menghabiskan tenaga, biaya dan waktu berakhir begitu saja, mati dalam hitungan tahun pertama, tepat setelah peringatan ulang tahun yang ke-1.
Ah! Biarlah kehawatiran ini terus mengganggu pertemuan akhir dan awal masa komunitas tercinta ini, namun semangat dan usaha harus tetap membara, untuk terus memperjuangkan nafas terus berhembus menghidupi komunitas ini tanpa lelah. Nafas berupa kebersamaan, lebih-lebih dalam rutinitas malam Jum’at.  
Gubuk_Bambu, 26/12/2013



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 09.48 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: