Lelaki hitam berselimut pagi,
begitulah kau pernah menyebutku dalam lembaran buku harianmu. Aku hanya tersenyum
di bawah kerutan dahi saat kau bacakan untukku. Meski aku sedikit tersinggung
dengan kata hitam, tapi ternyata aku mulai menyukai ilustrasi yang kau
sandingkan kemudian. Berselimut pagi. Ah! Betapa sejuknya. Pagi adalah simbol
kemurnian, samudera kedamaian dan sumber motivasi kehidupan. Barang siapa mampu
tersenyum di pagi hari, maka ia akan mampu tersenyum sepanjang hari. Begitulah
kira-kira bahasa Pak Zawawi Imron di sela-sela pembacaan puisi Ibu-nya dalam
sebuah video yang pernah kutonton dulu, sudah lama sekali.
Sejak kau ucapkan kalimat itu
beberapa hari yang lalu, aku tak pernah benar-benar mencoba untuk memahaminya
lebih dalam. Kalimat yang demikian sederhana itu entah mengapa kurasakan begitu
rumit. Aku hanya tersenyum singkat setiap kali teringat kalimat itu, sepertinya
terlalu berlebihan untukku. Dan ketika kutanyakan alasan mengapa kau menulis
kalimat itu dalam buku harianmu, kau malah berucap tak tahu. Bagaimana bisa
demikian?
Sependek yang aku tahu, pagi begitu
istimewa dalam kehidupan. Pagi selalu hadir dengan sejuta kesejukan,
ketentraman, kesegaran dan sebagainya. Sementara aku? Aku tak lebih dari
seorang laki-laki yang penuh dengan kekurangan. Bagaimana kau menemukan sifat-sifat
pagi dalam diriku? Memang aku mengimpikan hidupku seperti pagi, nyaris tak
pernah memberikan hal tak baik pada kehidupan. Namun sejauh ini aku merasa
masih terlalu jauh dari impian itu. Aku masih sering membuat orang lain
bersedih hati, marah atau bahkan dendam. Masih terlalu sering aku tak bisa
menjadi seperti yang diharapkan mereka. Bahkan tak jarang aku merasa tak
sanggup membawa hidupku sendiri. Bukankah kau juga sering marah, kecewa, sedih
bahkan menangis karenaku? Ya, sudah tak terkalikan hal tak baik kau dapatkan
karenaku. Tapi mengapa kau masih tetap bertahan dengan kalimat itu? Berselimut
pagi.
Setiap untaian kata yang kudapatkan
darimu ataupun dari hasil perenungan panjangku, tak satupun mampu kucerna dan
kuterima sebagai alasan. Seperti hujan. Jangan-jangan karena hujanlah yang
mempertemukan kita hingga melahirkan kata-kata itu. Ya, aku teringat hujan
siang itu, hujan yang sangat deras, hujan ketika kau mengharuskanku datang
menemuimu. Hujan spesial. Kau menungguku hingga berjam-jam lamanya.
“Aku tak akan berangkat sampai
kapanpun tanpamu.”
Saat hujan seperti ini, bagaimana
mungkin?
“Taka apa kau tak datang, tapi aku
tak akan berangkat, apapun yang terjadi aku sudah tak peduli. Aku hanya akan
menunggumu di pertigaan ini.”
Berulangkali kusuruh kau berangkat
meski tanpaku, tapi kau terus mengucapkan kata tidak lewat telfon ataupun SMS. Barangkali
karena aku sudah terlanjur berjanji, kau tak mau aku tak menepatinya. Janji. Ah,
aku tak mau seperti para pemimpin yang awalnya dipuja karena janji-janjinya,
tapi akhirnya dicerca dan dibenci karena tak bisa menepatinya. Ya, negeri ini
sudah sesak dengan janji-janji palsu, aku tak mau malah semakin memperpanjang
ceritanya. Bukankah menepati janji adalah kewajiban?
Kubelah hujan di luar gubuk bambuku
untuk menemui orang-orang yang mungkin bisa menolongku, namun tak sampai hati
aku katakan, rasanya tak mungkin di saat hujan seperti sekarang ini. Aku pun
kembali ke dalam gubuk yang selama ini kujadikan tempat peristirahatanku
sehari-hari itu, sementara kehawatiran-kehawatiran terhadapmu mulai
menyikut-nyikut pikiranku. Dimana kau berteduh? Bagaimana jika ada orang
mengganggu dan mencelakaimu? Rasanya aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika
itu benar-benar terjadi.
Tapi bagaimana caranya agar aku
bisa menemuimu di sana? Itulah satu-satunya pertanyaan dalam benak dan batinku,
termasuk di sela-sela harapan redanya hujan.
Kupandangi hujan lekat-lekat,
berharap gerimis segera tiba, kemudian habis sama sekali. Aku sudah tak tahu
lagi apa yang mesti kuperbuat. Aku pasrah, menunggu keajaiban datang untukku,
keajaiban berupa jalan untuk menemuimu.
Gerimis benar-benar datang
mengganti hujan, rupanya Tuhan telah menjawab doa yang kupanjatkan dari hati
yang gelisah itu. Muncul dalam benakku untuk meminta bantuan teman-teman yang
sebenarnya tengah memiliki kesibukan acara organisasi. Kuberanikan diri mengetik
pesan singkat di layar hp-ku—meski tak yakin. “Kalau bisa saya minta tolong,
antarkan saya sekarang ke suatu tempat.” Kupilih satu nama dan kukirimkan.
Kurobohkan badan sambil menghela nafas panjang, tergambar jelas wajahmu saat
kucoba pejamkan mata, meski aku hanya tahu lewat foto profil di aku Facebook-mu.
Kau terlihat begitu gelisah menunggu dan sedikit marah, wajahmu kusut penuh
cemas. Sepertinya kau akan menampar wajahku atau memakiku saat aku datang
nanti. Entahlah! yang kufikirkan saat ini hanya bagaimana caranya aku bisa
pergi menemuimu di sana, mengakhiri penantianmu yang pasti menjemukan itu.
Apapun yang akan terjadi nanti, biarlah waktu dan kenyataan yang bicara. Tak
disangka, beberapa saat kemudian dia sudah siap mengantarkanku untuk menemuimu,
meski gerimis masih tersisa.
Gerimis mulai menipis,
membentur-bentur wajahku dengan lembut. Terbayang lagi wajahmu dalam benakku.
Aku pun mulai menerka-menerka suasana perjumpaan di tengah kebisingan jalan
kota yang pasti akan sedikit lengang karena baru saja dihantam hujan itu. Ah!
Sepertinya aku akan gugup menghadapi perjumpaan pertama itu.
“Aku belum siap bertemu denganmu.
Aku hawatir kau akan kecewa setelah melihatku nanti.” Begitulah ucapanku waktu
itu setiap kali kau meminta pertemuan.
Saat aku tiba di depan warung nasi
pinggir jalan yang kau tunjukkan, gerimis tak lagi menetes. Lalu lalang mobil
dan motor tak sepadat jalanan kota pada umumnya, hanya seperti di jalan raya
dekat rumahku, hanya satu dua. Becak-becak dibiarkan kaku di pinggir-pinggir
jalan. Sungguh aku terkejut melihatmu, tak seperti yang kubayangkan sebelumnya.
Kau gemuk dan tinggi. Tak ada tegur sapa. Kita hanya sibuk dengan suasana hati
masing-masing, dengan senyum yang berusaha terus disembunyikan.
“Sudah berapa jam kamu nunggu?”
Tanyaku basa-basi.
“Sudah berjam-jam tau!” Jawabnya
dengan mimik sedikit masam, tapi segera tersenyum kembali.
“Jika kau tak berjanji, aku tak
mungkin menunggumu,” ucapmu sambil memulai langkah ke arah barat.
Tak kutanggapi kata-kata itu, sebab
aku hawatir pertengkaran akan terjadi. Kuikuti langkahmu dengan sedikit lebih
cepat, hingga kita berjalan berdampingan. Komunikasi mulai mengalir tenang,
hingga perlahan begitu akrab. Banyak hal kau bicarakan, termasuk cerita tentang awal keberangkatanmu dari rumah hingga di
tempat ini bersamaku.
“Ternyata kau lebih pendek dari
yang aku kira, kurus, tapi sedikit manis,” ucapmu lirih.
Aku sedikit kesal dengan kata-kata
itu, kutampakkan padamu lewat mimik wajahku. Sebentar kau lihat wajahku dengan
senyuman di bibirmu, kemudian merangkul lenganku dan tak mau kau lepaskan meski
kupinta.
Ternyata kehawatiran itu tidak
terbukti, kau malah semakin akrab saja denganku. Sepanjang jalan menuju halte
kau tampak begitu sumringah di sampingku. Namun lain halnya denganku, hingga
kita tiba di tempat yang kau tuju aku masih bingung mesti mengatakan apa
tentang kenyataan yang baru kuhadapi itu. Kenyataan bahwa aku telah menemuimu
dan melalui perjalanan singkat denganmu, Kuakui aku memang mulai menikmati
kenyataan itu, tapi bagaimana selanjutnya? Sampai kapan kau sanggup bertahan di
sisi seorang laki-laki sepertiku?
Entahlah! Diantara perasaan aneh
yang mulai memenuhi hari-hariku ini, aku masih menyimpan begitu banyak
kehawatiran dalam dada. Bagaimana jika nanti kau jenuh? Sebab kurasa masih
banyak laki-laki lain yang bisa membalas perhatianmu dengan lebih setimpal,
yang kurasa lebih pantas bersamamu, setidaknya sebagai alasan bagimu untuk
tetap bertahan. Tentu kau akan meninggalkanku. Lalu bagaimana denganku yang
mulai merasakan betapa pentingnya dirimu? Meski kau pernah bilang bahwa
kehadiranku banyak merubah hidupmu, termasuk tentang hari-harimu yang selalu
ceria sejak kedatanganku dalam hidupmu, namun kehawatiran tetap saja
kehawatiran, selalu datang menghantui.
Malam benar-benar sunyi,
suara-suara mulai menghilang di kejauhan, kututup buku harian dengan perasaan
tak menentu. “Stay with your the rain.”
Posted by , Published at 09.59 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar