
Aku tak melihat layang-layang itu lagi, sebuah layang-layang yang selalu
kulihat akhir-akhir ini. Layang-layang kecil berwarna kuning itu kini tak lagi mengapung
tepat di atas sawah yang sedang kududuki pinggirnya. Entah siapa yang
menerbangkannya aku tak tahu, dan tak perlu tahu. Aku hanya memandanginya
dengan tenang. Tapi kini sudah sudah tak ada lagi, sudah sekitar lima belas
menit aku menunggu, layang-layang itu tak jua terlihat. Padahal aku sangat
menikmatinya.
Akhir-akhir ini aku memang sering menghabiskan sedikit waktu di jalan
setapak di tengah sawah-sawah. Disamping untuk menyaksikan layang-layang itu,
aku ingin menikmati udara segar dan kesejukan hijau dedaunan di bawah sinar
matahari yang tak lagi panas menyengat. Menghayati kemegahan ciptaan Tuhan atas
dasar kasih sayang berupa alam semesta yang sudah tak perlu diragukan lagi.
Kupikir sore adalah waktu yang tepat untuk sedikit mengurangi beban pikiran
karena tanggung jawab dan persoalan-persoalan rumit kehidupan, juga waktu yang
tepat untuk introspeksi diri serta berusaha menyeimbangkan hati dan pikiran.
Sebab sore adalah samudera keindahan. Kupilih tempatnya di tengah sawah karena
memang disinilah masa kanak-kanakku yang penuh dengan keceriaan itu kuhabiskan.
Bukankah tak ada masa paling indah dari masa anak-anak? Kupikir semua orang
setuju dengan hal ini.
Di tengah sawah, tentu tak ada kelebat gadis-gadis desa seperti di
sebelah utara rumahku sehari-hari, gadis-gadis yang kupikir berkeliaran memang
untuk mencari perhatian para pemuda. Kutempuh arah selatan dari rumahku sehabis
shalat ashar dan menikmati keputusan waktu dan tempat yang kuambil sendiri itu.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, layang-layang itulah yang paling menyita
perhatianku. Sayang sekali kini sudah tak ada lagi.
Layang-layang, ah, mengingatkanku pada masa kecil dulu, juga pada salah
seorang teman yang pernah memetaforkan layang-layang sebagai cita-cita. Dia
menyandingkan layang-layang dengan cita-cita. Pemahamanku pun menggenang di
kepala. Layang-layang dengan benang terulur di tangan bocah-bocah, disamping
mengajari para generasi untuk menjunjung cita-cita setinggi mungkin, mereka
juga diajari untuk tidak membiarkan cita-cita itu liar tak terkontrol. Mereka diajari
untuk mengendalikan cita-cita mereka, karena mereka hidup dalam lingkungan yang
sarat dengan nilai-nilai. Cita-cita tak boleh diraih dengan jalan yang tidak
dibenarkan oleh nilai-nilai. Cita-cita harus luhur dan ditempuh dengan cara
yang luhur pula, begitulah aku memahaminya.
Sampai sekarang aku memang sangat menyukai layang-layang, tapi sepertinya
sudah tak mungkin untuk memainkannya lagi. Aku masih ingat betul bagaimana
hari-hariku dulu. Berangkat di siang hari sepulang sekolah, dan pulang di sore
hari, tepatnya sebelum matahari tenggelam. Sekarang aku sudah tak bisa lagi
melakukannya. Pagi pergi ke sekolah untuk mengajar di Madrasah Tsanawiyah,
pulang di siang hari dan pergi mengajar lagi di Madrasah Diniyah, tentu letih
sekali. Kadang sampai lupa makan, yang dipikirkan hanya layang-layang. Sekarang
bagaimana bisa? Sarapan pagi, makan siang dan malam, semuanya sudah
terjadwal—seperti orang-orang kaya di kota saja—dan sudah ada anak-istri yang
selalu siap mengingatkan. Ketidak merdekaan di satu sisi. Bila benangnya putus
dan layang-layang hilang dibawa angin entah kemana, tinggal ambil pisau dan
potongan pohon bambu yang sebenarnya emak simpan untuk menghidupi tungku di
dapur, dan mulailah membuat layangan yang baru lagi. Sekarang untuk mendapatkan
pohon bambu saja sulit, orang-orang sudah menebanginya untuk diganti
bangunan-bangunan angkuh. Disamping itu, usiaku sudah tak lagi muda. Biarlah
layang-layang tetap menjadi kesenangan dan mainan anak-anak. Lagi pula
layang-layang masa kini sudah tak sehebat dulu lagi, terbangnya sudah tak
seindah dan segagah dulu, kaku seperti sudah tak tahu cara terbang yang baik.
Mungkin karena layang-layang sekarang sudah banyak ditemui di toko-toko seharga
500 atau 1000 Rupiah. Sekarang layang-layang dibuat sudah tidak dipikirkan kualitas
terbangnya, yang penting terlihat bagus dan menarik agar laku keras. Layang-layang
sekarang dibuat dengan kerangka asal-asalan dan kertas minyak yang digambari
sedemikian rupa. Dibuat dengan rasa malas.
Kualitas layang-layang masa kini sungguh sudah sangat memprihatinkan,
terbangnya hampa, tak seindah dan segagah dulu lagi.
Ah! Kufikir temanku itu ada benarnya juga, mengilustrasikan layang-layang
sebagai cita-cita. Seperti halnya layang-layang, ketinggian cita-cita kini
sudah tak indah lagi, sudah bisa didapatkan dengan sejumlah uang, bahkan dengan
jalan-jalan yang merugikan orang lain, lingkungan, agama dan bangsa, tanpa
upaya dan perjuangan. Licik. Juga sudah tidak sedikit orang hidup dengan tanpa
memiliki cita-cita tegas dan jelas. Seperti halnya layang-layang, cita-cita
kini sudah bisa didapatkan dengan begitu mudahnya, didapatkan dengan instan.
Sudah dua puluh menit lebih aku di sini, matahari pun tinggal seukuran
tombak untuk tenggelam. Tapi layang-layang tak jua terlihat. Ada apa
sebenarnya? Kenapa ia tak ada hari ini? Barangkali telah putus benangnya dan
diterbangkan angin entah kemana, dan sang pemiliknya enggan untuk mencarinya?
Tapi bukankah layang-layang sekarang sudah dijual di toko-toko dengan murah?
Entahlah! Mungkin saja ini bukan persoalan mudah dan sulit. Mungkin layang-layang
yang banyak mereka beli, seperti pernah kutemui di sebuah toko milik sepupuku,
itu hanya mereka jadikan koleksi, koleksi untuk pamer satu sama lain.
Ah! Padahal aku berharap layang-layang itu tidak hanya satu kulihat,
bukan malah habis sama sekali seperti ini. Tapi esok aku akan kembali menunggu
layang-layang itu. Jika esok layang-layang benar-benar terbang, maka aku akan
siap siaga di sini. Akan kupanjat senja dan kukait layang-layang dengan jerami jika
putus benangnya, agar pemiliknya bisa segera menerbangkannya lagi dan aku pun
dapat memandanginya kembali. Itu janjiku.
Gubuk Bambu, 13 Februari 2014
Posted by , Published at 15.20 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar