Saat ini aku menulis, bertintakan cahaya remang Rembulan. Meski sebenarnya aku belum tahu apa yang akan kuuraikan, namun kubulatkan saja keputusan untuk memulai. Meski hanya sebatas keberanian hambar yang kumiliki, tapi aku benar-benar percaya dengan satu ungkapan yang kudapatkan di salah satu sudut halaman media massa, Koran, “Jika kita melakukan apa yang kita bisa, maka Tuhan akan mengerjakan apa yang tidak bisa kita lakukan”.
Rembulan Tujuh Belas ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan purnama, bundar dan bercahaya lembut. Namun entah mengapa hanya purnama yang selalu didamba. Selain purnama, tak ada yang sampai rela meninggalkan selimut dan bantal hangat di atas ranjang kamar, tak ada yang rela beratapkan langit telanjang sepanjang malam.
Mungkinkah hanya karena popularitas dan kharisma lebih yang diwariskan budaya secara turun-temurun melalui dongeng-dongeng ludah, tinta, angin dan lain sebagainya? Ataukah memang purnamalah yang merajai Rembulan segala malam? Ada yang bilang, purnama itu adalah jelmaan seorang dewi. Benarkah? Sepertinya semua itu tidak akan pernah berhenti menjadi tanya bisu.
Sejak kecil aku sudah menyukai terang Rembulan, entah itu purnama atau bukan, aku tak tahu, karena memang waktu itu aku masih belum mengenalnya. Setiap malam—tepatnya satu malam—berbulan bundar dan terang, selalu saja kupinta Bunda tercinta untuk menemaniku tidur di bawah Rembulan hingga terlelap, dan setelah itu, mungkin karena kasih megahnya yang takut melihat tubuh kurusku demam tatkala fajar menyembul, aku digendong masuk rumah. Tak pernah kudengar kata tidak atau jangan. Setiap kali kupinta, sambil menyungging senyum tenang Bunda lantas menghampar tikar lusuh di halaman rumah, lengkap dengan selimut sarung dan bantal kumal untukku, putera satu-satunya.
Ketika usiaku menginjak remaja, aku tak lagi tidur bersama Bunda, tapi dimana atau dengan siapapun aku mau. Kukenali purnama, bulan sabit, gerhana dan sebagainya, semua itu tanpa Bunda. Aku pun tahu bahwa bundaran putih yang selalu kutunggui bersama Bunda itu adalah purnama. Kadang di pinggir sungai, jalan setapak yang dihimpit sawah-sawah, halaman sekolah, kadang pula kunikmati dari celah dedaunan di atas dahan dan rerantingan. Terkadang bersama sejuta kesah yang kumiliki, kadang pula saat senyum bermekaran dalam hatiku, tapi lebih sering kuterawang purnama sendiri. Purnama seperti hanya milikku. Jika masa kecilku hanya menikmati malam-malam purnama sebelum terlelap, nyaris tak pernah kulewatkan sejengkalpun malam-malam itu di usia remajaku. Walau tak pernah kudapatkan apa-apa, namun entah mengapa aku masih sanggup bertahan, mempertahankan kebiasaan yang pernah kubangun bersama Bunda tercinta.
Kini aku sudah dewasa, sudah begitu jauh merenungi hidup, sudah banyak mendapatkan pelajaran dari purnama, termasuk untuk selalu mengurai hidup. Kesempatan yang datang satu kali dalam sebulan itu memang kuputuskan sebulat-bulatnya untuk selalu menyertainya, untuk tetap mejaga satu kenangan indah yang pernah kudapatkan bersama Bunda tercinta.
Tapi pada purnama Syawal yang kesekian kalinya ini aku lalai. Tiba-tiba kusadari Rembulan sudah tanggal Tujuh Belas. Sungguh begitu besar kecewaku pada diri sendiri, telah begitu tega membiarkan purnama berlalu begitu saja. Tapi kucoba menghibur diri, bahwa sejatinya nurani ini merasa akan kehadiran purnama kemaren, hanya saja ketidak tahuan pasti itulah yang membuatku tidak menikmati purnama secara sadar. Pada malam ketidak tahuanku akan kehadiran purnama itu, tiba-tiba aku termenung di hadapannya. Ah, ternyata purnama telah menyatu dengan jiwaku.
Namun walau bagaimanapun penyesalan ini tak bisa kuelakkan, karena seharusnya dapat kunikmati purnama itu dengan segala ruas jiwa dan ragaku.
Dan pada malam Tujuh Belas Rembulan ini tiba-tiba aku tergugah untuk menyingkap misteri nuraniku yang tak bisa pisah dengan purnama. Lama sekali perenunganku khusyuk dalam sunyi, mencari satu titik yang mengaitkanku dengan purnama. Tiba-tiba aku teringat Bunda di masa kecilku dulu, lalu terselip satu tanya, “Mungkinkah purnama itu adalah Bunda dan kasih sayangnya?
Hening!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar