I
Tengah hari aku bermimpi satu peristiwa yang aneh
Mimpi yang membuat bingung ingatan untuk mengurainya
Tapi tiba-tiba aku marah
Sekujur tubuh dan batinku penuh api dan bara
Tanpa kehendak sadar tiba-tiba kugenggam parang di tangan
Melukai begitu dalam
Halaman-halaman putih tanpa garis
Orang-orang yang biasa menemani hari-hariku
Juga hari Jum’at suci ini
Bahkan diriku sendiri yang tak pernah lepas dari usaha menjadi kelembutan.
II
Malam larut terlau cepat
Menelan terang mentari bulat-bulat
Hadirkan bayang-bayang tanpa wajah
Sepi
Rembulan tak datang menebar harapan hari esok
Gemintang yang menjelma lautan
Tak lebih dari sekedar pelita kecil dalam goa
Sunyi
Hanya angin yang bergemuruh
Menerpa sunyi-sepi dalam gelap
Dengan kekuatan dahsyat
Seakan hendak menerbangkan nafas-nafas
Sunyi
Sepi
Gelap
Seperti nyanyian parau nurani yang melengking pilu selama ini
Semakin pilu
Gersang!
III
Rembulan baru terang seiris
Tergantung sepi dan pergi begitu cepat
Ada rindu menganga dalam sendiri
Tentang purnama yang bundar penuh cahaya
Mungkin terlalu berlebihan
Mengharap terlalu jauh tanpa kemungkinan
Tapi sepertinya perasaan itu tuli
Mendera terbalik dari realita
Tanpa peduli sedikitpun
Tentang cahaya yang dipinta berada di atas cahaya jiwa yang redup.
IV
Aku selalu jenuh dengan ruang dan waktu yang datar mengalir terlalu lama dan panjang. Aku selalu gelisah atas realita yang terasa asing kulihat dan kurasakan.
Tapi aku tak pernah bisa—sangat sulit—untuk mengucapkannya dengan tindakan.
Aku sedikitpun tak ingin melewati hari tanpa catatan.
Tapi seringkali kusadari bahwa aku telah lalai menjaga asa itu.
Aku sangat gemar menunggui fajar, senja, rembulan dan gemintang, juga kesendirian dalam sunyi.
Aku tak pernah ingin seperti anak kecil yang selalu cengeng dalam segala hal.
Tapi seringkali tak kumiliki kedewasaan.
Aku selalu ingin bijaksana dalam bertindak dan mengambil sikap.
Tapi masih tak jarang perbuatanku mengalir semena-mena.
Aku ingin selalu menyertai kejernihan fikiran dalam kondisi seperti appun.
Tapi nyatanya aku masih sering ceroboh.
Aku ingin selalu bisa memaklumi orang lain.
Tapi nyatanya, jiwaku masih sering berkecamuk tak terima.
Aku selalu rindu ketenangan, meski kenyataannya gaduh telah berkuasa.
Aku selalu ingin karya, walau kusadari diri ini begitu bodoh dan lemah.
...
Ah! Segala mimpi ini
Adalah aku yang sebenarnya
Setiap tetes keringat bayang-bayang ini
Adalah lantunan sya’ir kehidupanku.
Guluk-Guluk, 21/10/2009
* Lahir di Lengkong Bragung Guluk-Guluk Sumenep, ber-Zodiak Scorpio. Belajar menulis di PP Annuqayah Lubangsa Selatan melalui Buku Harian, sampai saat ini. Bisa dikunjungi di www.ngailembung.blogspot.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar