Belenggu Itu Aku Sendiri

Belenggu Itu Aku Sendiri


Kujumpai satu malam berwajah diam. Angin berhenti mendesir, sebungkus obrolan tak lagi menghentak. Imajinasi terbang sejauh-jauhnya, menjangkau mimpi-mimpi hitam dan putih, menerka sejuta misteri sunyi-gelap semesta.

Kuhadapi halaman putih-bersin dengan sebatang pena mengapung di atasnya, kutekan imajinasi kian dalam dan sunyi. Kuputar kata, kupintal kalimat berulang-ulang, namun batinku malam terpelintir, jangankan merakit kata, menenangkan diriku sendiri saja aku tak sanggup. Justeru aku tersiksa karena diriku sendiri.

Waktu kemudian membentangkan gaduh kasar dan keras, tanpa kelembutan sama sekali. Nafas berhembus dengan keegoan tuli. Nuraniku bergejolak, batinku berkobar. Marah, benci, mua dan dendam berputar dahsyat dalam dada. Tapi aku tak mau perselisihan menjadi perang, aku tak ingin bara itu mengobarkan api.

Kubuka halaman yang masih sepi itu, menggantinya dengan wajah kosong berikutnya. Kukerahkan segenap daya, emosi dan fikiran. Kugores sepatah kata, kemudian diam dan beku

Siang bertabur bintang. Seorang perempuan menatapku dengan mata sayu dan bening, tapi tanpa gairah.

Langit sudah tidak lagi terburu-buru menuangkan hujan, suasananya lebih serupa guguran bintang ke tanah. Gemintang yang kemudian mengalir ke arah permukaan yang lebih rendah. Kulihat wajah pucatnya kian letih menunggu. Menunggu? Menunggui hujan selesai, atau menanti waktu membawakan hari-harinya kembali indah penuh warna? Atau jangan-jangan justeru wajahnya semakin kusut karena hujan sebentar lagi akan berakhir, lantas ia merasa berat untuk melihat tetes hujan terakhir di sini, persimpangan jalan yang indah karena kelengangannya.

Entahlah! Aku tak paham.

“Kufikir kau seanggun Anna Althafunisa’, kalau saja wajahmu tak sesuram ini, di tepi hujan yang kian lembut menitik, tapi menyakitkan karena akan segera mengakhiri segalanya”

Ah! Hujan ini seharusnya bisa kujadikan permata bersama wajahnya, pertikaian memalukan yang entah mempertaruhkan apa itu mestinya dapat kutuangkan menjadi sebugkus deskripsi, malam itu juga sejatinya sanggup mengkhusyukkan kesendirianku untuk satu karya sederhana.

Tapi, sepertinya aku terlalu berlebihan mengharap oretan tinta ini mencipta paragraf. Aku terlalu hawatir untuk menuliskan apa yang aku fikirkan, apa yang aku pahami, apa yang aku simpulkan, juga apa yang aku rasakan. Imajinasiku berputar mengelilingi ruang. Setiap kali batinku bergetar pada satu titik ruang yang kusinggahi, selalu saja aku pesimis untuk menuliskannya sebagai gagasan. Kata-kata pecah berserakan, menjadi puing-puing hampa tak berarti.

Guluk-Guluk, 27 Desember 2009






share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 19.56 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: