KADO TERAKHIR

KADO TERAKHIR



Entah jam berapa kumulai tulisan ini. Tapi yang jelas, malam telah benar-benar ditelan sepi. Entah berapa bintang yang mencoba menawar cekam malam. Tapi yang jelas suara-suara yang melengking dahsyat sesekali, menyibak sunyi yang terlampau tebal di malam—mungkin—terakhir bulan suci Ramadlan ini. Sembari merangkai kalimat dari kata-kata pilihan agar menjadi paragraf-paragraf yang cukup pantas untuk kupersembahkan padamu, aku ingin menghabiskan malam ini sehabis-habisnya.
Pernikahanmu yang kira-kira satu tahun silam dilangsungkan, kudengar akan dirayakan—entah kapan. Saat kudengar kabar itu pada hari ke-10 Ramadlan/31 September 2009 sebenarnya tak ada tanggapan yang serius dari batinku. Namun entah mengapa malam ini, hari ke-29 Ramadlan/19 September 2009, dari tengah-tengah Tarawih-ku terbayang satu tulisan tentang kau dan aku, mulai dari saat itu hingga aku sekarang. Bersama tulisan itu pula kuselipkan tulisan-tulisan lainnya yang pernah kuselesaikan dan diterima di rubrik media-media sekitar.
Mungkin kau kebingungan perihal inisiatif nakal ini. Kau mungkin sudah merasa bosan untuk membaca tulisan sebanyak dan sepanjang ini. Tak apa, tidak dibaca—dibakar, dibuang, disobek halus-halus atau dibiarkan begitu saja—pun tak mengapa, nanti kau akan tahu sendiri alasan perbuatanku ini jika kau tak berhenti sampai disini membaca tulisan ini.
Pertama aku ingin berterimakasih atas apa yang telah kuperoleh darimu dan karenamu, termasuk perhatian yang sulit kuukur. Kedua aku ingin kau tahu—meski kutahu ini lucu bagimu—tentang aku yang waktu itu hingga saat ini. Ketiga aku ingin minta maaf karena masih membuntutimu—mengganggu kebahagiaanmu—sampai sekarang, meski sebenarnya aku sadar bahwa aku dan kau telah berakhir karena waktu. Keempat aku ingin kau tidak menghapus sejarah begitu saja, atau seperti yang pernah kusampaikan padamu—sepertinya masih kuingat, “Jangan pernah mencoba untuk melupakan sejarah, …..,” juga ingin kau tahu bercak sejarah bersamamu dalam jiwaku saat ini.
***
Masih ingat? Kau dulu mengagetkanku dengan lemparan sesobek kertasmu, yang sekaligus mengawali komunikasi akrab di antara kita. Kian hari kian besar dan panjang hingga utuh satu sampai beberapa kertas. Suatu ketika kau memanggilku sahabat, perhatianmu pun mulai membuncah, menggenangi hari-hariku. Ulang tahunku kau kirim kado, aku balas ngirim, juga tahun baru. Aku punya masalah kau datang menawarkan senyum. Tapi satu hal, kau tak pernah cerita tentang hatimu—yang itu sebenarnya bisa kupahami—yang tak pernah letih dalam kegelisahan; ya, barangkali aku bisa Bantu.
Masih ingat? Kemudian kau berubah memanggilku adik, akupun tahu alasannya tanpa kau cerita panjang lebar. Satu hal yang kusembunyikan darimu selama itu, yakni diriku yang sesungguhnya. Di matamu aku polos, tapi di punggungmu aku selalu mencoba mengerti tentang kau sepenuhnya. Setiap kata surat-suratmu, senyummu, sorot matamu, candamu, sedihmu, bahkan air mata hatimu yang belum pernah kulihatpun kueja sedalam-dalamnya.
Maafkan aku, semua itu kusembunyikan darimu. Ada satu hal yang tak kan kau mengerti walau kuceritakan. Maafkan aku, sejatinya semua ini, masa lalu ini, tak perlu kuungkit lagi. Namun seburuk apapun waktu itu, biarlah berlalu tanpa harus menjadi beban hari ini, sambil terus berusaha menjadi yang lebih baik, yakni memperjuangkan kesalahan itu tidak terulang kembali dalam apapun atau pada siapapun. Cukup aku yang pernah merasakan betapa getirnya rasa itu bersamamu.
Menjelang kepergianku mondok, surat-suratku tak lagi kau balas, demikian pula saat kuulangi lagi di pojok pondok—yang waktu itu sangat membosankan, juga sama, tak pernah kau menolehkan kalimat untukku.
Mengingat perih surat-suratku yang tak pernah lagi kau jawab itu, sendangkan masih banyak patah kata yang ingin kusampaikan, masih banyak asa untuk bisa menikmati perhatianmu lebih panjang lagi, aku linglung, hidupku seperti ditinggal sendirian, hanya sendiri, arahku patah di mana-mana, kurasakan puncak kebingungan yang teramat menyedihkan.
“Mengapa tak kau coba menuangkannya dalam tulisan, Cerpen?” kata seorang teman.
“Maksudmu?”
“Ya, belajarlah menulis cerpen, tuangkan semua kegelisahanmu. Kau tak butuh alasan kenapa dia pergi meninggalkanmu begitu saja, kan?”
Aku mengangguk kosong.
“Tunggu apalagi? Tulis saja semuanya, kirimkan ke media-media massa, siapa tahu dia membacanya. Walaupun dia tidak membacanya, minimal perbuatanmu tidak sia-sia seperti surat-surat yang tak pernah ada jawabannya. Dengan ini juga tak ada resiko besar. Siapa yang akan mengira bahwa tulisan itu adalah surat untuk seseorang?”
Dengan segala tanda tanya yang membelit benakku, aku pun mulai belajar, kemana dan dimanapun aku tak pernah lepas dari buku dan Ballpoint. Dan ternyata aku bisa menyelesaikan karya pertamaku dengan perasaan yang terlampau senang, yang tentunya setelah hari-hariku seperti mati untuk yang lainnya, selain berusaha menulis. Karya itu—yang kuberi judul Dairy, maksudnya Diary—merupakan hasil dari muntahan kegelisahan-kegelisahan tentang kau padaku yang erat membelit hati. Kukirimkan dengan perasaan harap-harap cemas ke Buletin Kejora di Nirmala, pondokmu. Tapi tidak dimuat. Dan kuharap kau tak menanyakan karya itu.
Hari-hari kemudian sasaranku berputar haluan, kucoba mengadu nasib di Radar Madura. Karena hingga entah yang keberapa kalinya tulisanku dikirimkan dan belum juga dimuat, kuputuskan untuk menempa diri di Komunitas Cinta Nulis (KCN) yang memang rutin menerbitkan Antologi Cerpen setiap dua bulan.
Akhirnya, cerpenku—Kisah Di Balik Aspal—terbit di antologi cerpen KCN edisi III untuk kali pertama. Aku senang sekali, seperti anak kecil yang baru bisa berenang di sungai.
Disamping masih tetap ngirim ke Radar Madura, suatu ketika aku memasukkan karyaku—Kuburan Tak Bernisan—ke kotak tantangan tulisan Majalah Muara di Lubangsa, dan Alhamdulillah dimuat. Pada kesempatan berikutnya, saat lelah penantianku, tiba-tiba kulihat sebuah cerpen di Radar Madura dengan judul Catatan Gerimis, cerpen yang memang kukirimkan seminggu sebelumnya, saat malam gerimis.
Penerbitan Antologi edisi IV, teman-teman menunjukku sebagai pengisi judul cover, kutulislah sesobek cerpen dengan judul Selembar Sutera Kenangan. Kemudian Radar Madura kembali datang membahagiakanku, memuat cerpenku yang berjudul Hujan. Pada Antologi cerpen edisi V aku nulis Tragedi Cempaka. Selang beberapa bulan di Radar Madura lagi Catatan Seorang Pemimpi, dan yang terakhir baru-baru ini Beranda Pilu.
Kau tau bagaimana kudapatkan semua ini? Kau harus tahu bahwa semua ini karena kamu, karena kedatanganmu yang kemudian pergi begitu saja dari sisiku. Sekali lagi terimakasih, tanpamu, aku tak yakin berada disini, dalam diriku sendiri saat ini. Tak ada yang kuharapkan ataupun kumaksudkan kecuali untuk mengucapkan terimakasih dan maaf untuk yang terakhir kalinya.
Fajar membengkak lembut di atas dedaunan, aku tak bisa melanjutkannya, karena memang semuanya sudah selesai.
Tapi rupanya aku berubah fikiran. Saat semuanya sudah selesai, tinggal mengumpulkan helai-helai kado itu, tiba-tiba aku sadar satu hal, bahwa aku hawatir karena kedatangan niat baikku ini justeru hanya akan membuat keruh kebahagiaanmu itu. Orang-orang yang datang padamu mengucapkan selamat menempuh hidup baru secara resmi itu karena memang kau mengundang mereka. Sedangkan aku? Aku akan datang tanpa kau undang? Oh, tidak! Aku hawatir ini berlebihan. Aku tak kau undang mungkin karena satu alasan yang kau bangun, dan jika aku benar-benar datang lewat halaman-halaman ini, siapa yang akan menjamin bangunanmu itu tidak akan runtuh?
Ya, ternyata aku egois. Yang kufikirkan hanya bagaimana hasratku tercapai, sedangkan kau, mungkinkah akan berkenan? Tak ada yang bisa memastikan kecuali keadaan. Dan jika keadaan kutembus tapi ternyata kebahagiaanmu redup, siapa yang akan menuangkan minyak pada sumbumu?
Biarlah kujaga kemungkinan-kemungkinan yang aku hawatirkan ini. Menghasilkan karya untuk yang benar-benar untukmu, meski tak sampai kau baca, adalah anugerah luar biasa yang memang kunanti sejak dulu. Apalagi momentnya luar biasa, menjelang pesta perkawinanmu. Tak pernah kusangka sebelumnya.
Perihal keinginanku untuk berterimakasih padamu melalui semua ini, aku teringat akan satu bahasa “Jika kita mengerjakan apa yang kita bisa, maka Tuhan akan mengerjakan apa yang tidak bisa kita lakukan.” Sudah kulakukan semua yang aku bisa, meski tidak kutuntaskan sampai padamu. Tapi aku yakin, saat ini kau sudah bisa merasakan keinginanku itu. Karena jiwaku, tidak mungkin sepenuhnya pergi dari sisimu, kau setuju?

Lengkong, 19 September 2009
29 Ramadlan 1430 H


share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 19.51 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: