WAJAH-WAJAH YANG TERASING

WAJAH-WAJAH YANG TERASING


Pagi tua itu menjadi saksi atas keresahan tanpa muara. Mentari yang keras menjamah kegelisahan dalam dada, sepertinya memang disengaja, sebagai pengeruh suasana hati. Angin bertiup tanpa suara, burung-burung mengintip dari balik dedaunan. Seakan sepakat untuk mendahsyatkan getaran dalam dada.
16 rombongan mulai berarak pergi meninggalkan tanah tempat berpijak sehari-hari. Kehawatiran, rasa was-was, merasa tertantang, takut, tak percaya bahwa waktu yang selama ini mendebarkan dada kini benar-benar tiba, semuanya kian berjejal-jejal dalam lubang sempit dada.
Sekian waktu berlalu, semakin jauh jarak terbentang. Petak pekarangan dan rumah-rumah mulai terlihat asing. Orang-orang yang melaju cepat di atas roda kehidupan mereka masing-masing juga seperti kelebat bayang-bayang tanpa wajah. Seperti halnya bocah tanpa orang tua, tak ada keakraban manja tanpa rahasia, tidak pula kebisuan yang teramat curam. Obrolan-obrolan rutin setiap malam yang selalu menghibur gundahku, dengan berat hati harus kuucapkan salam perpisahan. Saat kutinggalkan, semua itu masih belum kembali dari bumi masing-masing, bumi tempat mereka memulai kehidupan ini. Malam yang datang, masih menyisakan banyak ruang hampa di pojok-pojok pekarangan pondok yang tidak sampai seluas sawah 1 hektar itu.
Pada ayunan langkah pertama, terbayang dalam benak bagaimana memulai hidup tanpa mereka semua di sana. Dalam lambaian kedua, perasaan tidak siap semakin menggunduk. Memasuki pijak kaki yang ketiga, kehawatiran mampu kuyakinkan bahwa apapun yang terjadi pasti berlalu jua. Demikian seterusnya, virus-virus itu terus bertarung, saling serang, saling tikam satu sama lain.
***
Dari suasana desa, lalu masuk kota, kemudian kembali ke desa lagi. Tapi sangat jauh berbeda dengan desa yang biasa kuterawang setiap saat. Semuanya serba asing. Bahkan jauh di lubuk sunyi hati, jiwa seperti terasing dalam diri sendiri. Sekian banyak tanya tergores, tak satupun mampu dibalut. Sekian ribu mata tersorot, tak sedikitpun mampu memahaminya.
Jalan menuju ruang-ruang asing itu kini mulai lirih dimasuki, semerbak hijau dedaunan di atas pohon yang berjejer padat tiba-tiba menghantam nurani, kicau burung-burung begitu ramai menghanyutkan imaji. Sepertinya ini merupakan satu cerminan kebun-kebun surgawi yang teramat indah itu. Suasananya tak pernah sekeras bebatuan, lagu-lagu syahdu tak pernah bosan dilantunkan oleh suara merdu angin, yang kemudian disusul dengan tarian gemulai pepohonan bersama burung-burungnya.
Namun jauh di lubuk sunyi batin terdalam masih kokoh berdiri batang-batang kehawatiran akan diri sendiri, tentang bekal abstrak berupa mental yang ada selam ini, ketika masih di pondok.
”Apa yang mesti kuabdikan?”
Kata-kata pun dimulai, sesuai dengan karakteristik masing-masing. Diserahkan dan diterima dengan begitu lembut dan santun. Sementara batin ini masih sibuk dengan kecamuk yang kian membara. Satu hal sanggup kupahami, yaitu harapan besar untuk bagaimana aku dan teman-teman yang lain nantinya akan pulang dengan torehan kesan positif dalam masyarakat.
Kuliyah Kerja Nyata (KKN) ’09 STIK Annuqayah Guluk-Guluk posko III di desa Banuaju Barat kecamatan Batang-Batang kabupaten Sumenep. Sungguh aku tak tahu harus bagaimana. Apa yang mesti kulakukan untuk mengawali hariku ini, disini. Cekokan cerita-cerita orang yang sudah melalui pengalaman ini; bahwa semua ini pasti akan segera berakhir dan berubah menjadi lumbung keasyikan serta keindahan tiada tara, sama sekali tak mampu menenangkan kegalauan ini.
Kuterawang langit untuk yang kesekian kalinya, sedikit berawan pucat bersekat-sekat. Kuhirup udara dalam-dalam dengan pejaman mata tak tuntas. Sangat jernih dan wangi, namun masih asing.

Sumenep, 13-15 Juli 2009



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 19.35 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: