
Hujan turun lebat sekali, aku tenggelam.
***
Hidupku terasa semakin berarti dan penuh gairah untuk menjalaninya, sejak kehadiranmu sebagai seorang sahabat di sisiku. Kau sangat baik, memahami hampir seluruh keinginan dan kegembiraan, juga sedihku, meski belum hatiku. Kau selalu ingat hari ulang tahunku, tahun baru dan yang lainnya.
Kau adalah yang pertama dalam hidupku—meski bukan segalanya—yang sebelumnya penuh dengan kekecewaan. Kau memang tidaklah lebih dari seorang wanita biasa, tapi kau datang dengan kasih sayang, kau tersenyum dengan keakraban, seperti bidadari senja yang hadir membawakan selimut hangat cahaya untuk kesunyian malam yang gelap menggigil. Saat aku hendak menangis, kau bawakan aku sapu tangan lembut. Kala gundah, kau datang dengan sejuta keriangan. Ketika hidupkku mulai retak, kau pikulkan tiang-tiang kokoh untukku.
Sejak pertama kali kau jerat aku dengan tali persahabatan ini, sebenarnya aku sudah bisa merasakan hal-hal ganjil, hal-hal yang tak lumrah dalam persahabatan, kau cekokkan padaku. Namun kutampakkan padamu bahwa aku tak tahu apa-apa, aku terlalu polos untuk memahami semua itu. Seingatku, kau panggil aku adik—setelah sahabat, dulu, karena semua jawaban dan tanggapan yang aku berikan sangatlah datar-datar saja. Seolah tak tahu maksud yang terselip, yang sangat kau harapkan bisa kuterka dan kutanggapi positif, sesuai dengan yang kau inginkan.
Dalam sejarah panjang hidupku, kaulah satu-satunya perempuan yang sudi mencurahkan segenap perhatiannya padaku. Tapi mungkin ada yang salah dengan hatimu, berharap lebih dari hubungan ini. Sementara yang kuinginkan sekaligus kunikmati adalah kemurnian hubungan persahabatan atau persaudaraan ini.
Menghadapi orang sepertiku—seperti yang pernah kau katakan dulu untukku ‘culun’—mungkin sangatlah melelahkan, karena tidak bisa memahami bahasa-bahasa sunyimu, sedangkan untuk berterus terang tidaklah mungkin bagimu. Itukah sebabnya perhatianmu padaku luntur? O, maafkan aku, sedikitpun aku tak pernah menginginkannya, hanya saja aku tak mau jatuh terlalu dalam atas perangkapmu. Bukannya aku tak paham atas maksud utama setiap bahasa yang kau pahatkan dalam surat-suratmu, bukan. Aku hanya tak pernah menginginkan lebih jauh dari hubungan ini.
Dari sekian banyak bahasa yang kau tuangkan padaku, sepertinya kau tak ingin kehilanganku, sama sekali. Kau pernah bilang Kawan… kenapa persahabatan ini terjalin, kenapa pula perpisahan menyapa kita. Kenapa gelang ini berbunyi, apa khayalan ini. Hanya ku tahu, ataupun kau. Perkara ini tiada, siapa yang tahu. Kawan… kenapa celak mata senyum, kenapa matamu pedam, apa perubahan melandamu. Friend… jadikanlah persahabatan kita, menjadi persahabatan yang hakiki.
Kau tahu? Nyaris aku menangis setiap kali selesai kuulangi lagi kalimat-kalimat yang tak pernah bosan kujumpai itu. Tapi benarkah tali persahabatan yang kau ikatkan itu murni persahabatan? Atau persaudaraan yang kemudian kau bentangkan? Lalu apa maksud kata “alone” dalam beberapa akhir kalimatmu? Juga permainan spekulasimu yang sempat menegangkan hatiku, yang kemudian kau tenangkan kembali dengan ‘soal yang kemaren mbak hanya guyon, mbak masih jomblo lho, ga’ laris-laris’. Terus waktu kau pinjamkan aku buku, kau bilang: buku ini jelek kayak orang yang ngasi pinjam, tapi kuharap kamu suka. Atau tentang kejujuran yang selalu kau pertanyakan. Apa maksud semua itu?
***
Hujan kian deras, suaranya menjelma amarah yang sedang memuncak, butir demi butirnya seakan jatuh bersambung, serupa air dituangkan tipis-tipis. Dunia seakan ditelan hujan.
Dan saat-saat menyakitkan itu, tiba-tiba menyelinap diantara celah-celah hujan, lengkap dengan wajahnya. Surat pertama—menjelang kepergianku mondok—kandas, kaku tanpa balasan. Surat kedua—ketika aku tak kerasan—malah dibalas dengan kado ulang tahunku yang sudah basi. Dan yang ketiga berupa foto 3R miliknya, dengan oretan-oretan gombal di belakangnya, juga sia-sia. Tak satupun kata terbalas, sampai saat ini—ia benar-benar pergi, menyisakan bercak-bercak luka kehilangan dalam dadaku, dan aku tak yakin mampu mengihlaskan semuanya.
Hujan mulai reda, semuanya kembali cerah, termasuk hatiku.
“O, hujan, apakah memang kau turun dari masa lalu?”
KCN Guluk-Guluk, 2009
Posted by , Published at 19.24 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar