CATATAN GERIMIS

CATATAN GERIMIS


Malam gerimis. Wajahnya masih seperti dulu, saat kali pertama kukenal—tak dapat kujelaskan sepatah pun kata. Sunyi gemetar, gelap membeku, hitam memekat. Kuayun langkah menyisir dingin, membelah lengang. Sesekali kulihat sebatang tubuh berkelebatan, lalu mendekat, kemudian lenyap ditelan kegelapan. Lagi dan lagi, begitu seterusnya.

Sampai pada terang di bawah cahaya lampu remang, orang-orang tampak hidup berjalan sendiri-sendiri, dalam ruang dan waktu yang berbeda. Wajahnya menghadap tanpa arah, matanya terbuka tapi tak melihat, kakinya berjalan tanpa langkah. Aku tak paham.

Saat langkah menggeserku pada ruas samar-samar—keadaan sebelum benar-benar pergi dari cahaya--, dunia seperti maya, penuh bayang-bayang yang lebih panjang dari benda yang sesungguhnya.

Ruang kebohongan. Tak ada realitas. Semakin aku tak paham.

Kulemparkan langkah menuju cahaya. Kali ini lebih putih. Serupa siang hari. Ayunan pertama begitu mantap, melewati suara saling sapa. Ayunan selanjutnya lebih gontai, tersungkur di samping lagu luapan emosi atau sekedar pelampiasan. Berikutnya bahasa saling menyalahkan. Lalu canda tawa. Aku bingung.

Usai langkah, kududuki aktivitas. Lelah. Kemudian, setan datang berbisik silih berganti. Hingga penuh telingaku. Panas. Nyeri. Hambar. Kutahan, tapi selalu jebol. Kupaksa, semakin garang mereka menyerang. Aku runtuh. Selesai akitivitasku dengan ketergesa-gesaan, kepala dan dadaku hangus, lalu meledak, pecah menjadi kepingan-kepingan tajam, menghantam mereka yang kusayangi, melukai dia sahabatku, juga membunuhku yang tak berdaya. Aku remuk.

Keputusanku: Menyakiti diri sendiri, selesai.

***

Gerimis lagi. Sebutir demi sebutir dingin tertabur hingga permukaan terdalam sekalipun tertimpa basah. Lalu angin mulai berhembus gemetar, menerpa dedaunan yang lelap dalam selimut gelapnya. Ia membeku.

Orang-orang yang tampaknya mulai gelisah dalam kebosanan, berlari-lari kecil kesana kemari. Berulang kali. Hingga gerimis pun akhirnya mulai berani memadati sekujur tubuhnya. Ia tak sadar bahwa buliran gerimis itu mulai bersatu untuk menata kekuatan agar menjadi air yang sanggup menenggelamkan apapun. Lalu membeku.

Keheningan malam sepertinya juga tak berkutik. Tak mampu mencipta kehangatan dalam gelap. Ia membeku. Semua beku.

***

Pagi gerimis dihempas angin, menari gemulai di atas dedaunan. Ada burung-burung—seperti burung walet—meliuk-liuk di atas atap pondok. Melewati sekolahan, kandang, kamar mandi, got tempat nongkrong santai, serta bangunan-bangunan beku lainnya. berkali-kali. Seperti hendak meyakinkan aktivitas dan tugas yang mulai terpekur dalam jurang keraguan. Seakan ingin berbisik, bahwa hujan akan segera tiba.

Gerimis gemericik lantang menghujam permukaan-permukaan keras dan kasar. Sekawanan burung-burung itu kian gila berjingkrak-jingkrak, membalik-balikkan tubuh dengan sayap hitamnya. Kadang serupa pesawat terbang, kadang berjibaku tanpa peduli akan bilangan kepak sayapnya. Seperti pesta. Meriah sekali.

***

Pagi ini diawali dengan serangan besar-besaran mendung tebal dan pekat. Burung-burung, pepohonan, kuli bangunan, petani, anak-anak sekolahan, gelandangan, kalangan konglomerat, serta nafas-nafas lainnya tampak enggan melambaikan semangat dalam dada masing-masing, sesuai wadah masing-masing. Kemudian, datanglah gerimis kasar. Dingin yang masih gemetar, kembali kuyup menggigil. Kebisuan yang baru gugup terbata-bata, kembali beku dalam kesunyian larutnya. Dan mereka—yang baru sejengkal melangkah, atau bahkan belum sama sekali—pun terjebak dalam lingkaran kemalasan, kehawatiran dan rasa takut. Hingga akhirnya tercipta seonggok kesepakatan sepi dan gelap untuk sama-sama terbenam atau membenamkan diri dalam kehangatan ilusi. Tanpa makna. Tanpa aktivitas.

“Byurrr!” gerimis tercebur. Burung-burung itu datang lagi, menari-nari di tengah kebekuan. Pesta yang sangat meriah.

Guluk-Guluk, 15 Januari 2009






share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 19.27 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: