Menunggumu

Menunggumu



Pagi jam sembilan dengan sinar matahari yang begitu cerah, sama sekali tak terhalang awan. Angin tak berhembus menggerakkan dedaunan yang bertengger di atas dahan pohon-pohon yang tinggi menjulang ataupun yang hanya sejengkal dari tanah. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda kedatanganmu.

Sudah tiga batang rokok kuhabiskan, segelas kopi dan sepiring jagung bakar juga sudah hampir tak tersisa di hadapanku. Tapi mengapa kau tak datang-datang juga? Aku sudah bosan menunggumu. Entah mesti dengan apa lagi penantian ini kutahan. Alunan musik barat yang kuputar sudah tak bisa kunikmati lagi, padahal lagu-lagu yang kusetel itu adalah lagu-lagu pilihan, lagu-lagu kesukaan meski tak tahu betul artinya. Ah! Justru karena tak tahu artinya aku menyukai lagu-lagu barat. Aku hanya perlu menikmati alunannya, tak usah repot-repot dengan liriknya yang seringkali hanya mendramatisir keadaan.
Benar saja lagu kesukaan itu pun sudah tak lagi nikmat terdengar dan tak lagi mampu mencairkan suasana, sudah sejam lebih aku di sini menunggumu.
Apakah kau tak akan datang hari ini? Jika demikian berarti kau akan membiarkan penantian ini menyiksaku seharian. Tapi kau tak bilang kalau hari ini kau tak akan datang. Pasti kau datang. Lagipula penantian semacam ini bukanlah yang pertama kualami. Beberapa minggu lalu kau pernah datang setelah berjam-jam kutunggu. Tapi tak lantas kubicarakan penantian itu dengan suara tinggi dan kasar, tidak juga dengan kerutan dahi.
“Sudah lama sekali aku menunggumu,” ucapku menyapamu dengan raut wajah biasa-biasa saja.
“Tapi tak terasa seperti menunggu di stasiun, kan?” Katamu sambil tersenyum tipis dan segera menyeruput sisa-sisa kopi di hadapanku.
“Meski di rumah sendiri, tetap saja membosankan,” sergahku segera.
“Kenapa kau menungguku? Tanpa kau tunggu pun aku pasti datang,” ucapmu lalu duduk di kursi sebelah.
“Kebersamaan ini meski tanpa perjanjian, tidaklah mudah untuk kulewati begitu saja,” sambungmu.
Aku hanya selalu mengharap kedatanganmu, tak bisa menagihnya, karena memang tak pernah aku meminta dan kau pun tak pernah menjanjikannya. Tak mungkin menagih sesuatu yang tak pernah dipinta dan dijanjikan. Tapi rupanya harapan yang timbul karena kebiasaanmu, datang menemuiku setiap minggu, itu mulai berubah menjadi tuntutan dalam jiwaku, kau harus datang. Entah apakah sebenarnya kau paham dengan keinginan yang tak kukatakan itu, sehingga kau selalu datang, aku tak tahu. Yang pasti kau selalu datang setiap minggu untukku.
Terkadang aku merasa bahwa kehadiranmu adalah hidupku yang sesungguhnya, aku suka perasaan ini. Caramu bercerita, mendengarkan dan menanggapi keluh kesahku, juga caramu menasehati dan bertukar pikiran, membuatku merasa benar-benar nyata dalam kehidupan ini. Aku selalu menikmati setiap kebersamaan kita, tak ada egoisme apapun itu bentuknya.
Aku yakin kau pasti datang hari ini. sebab kalau tidak keliru hari ini giliranmu bercerita atau memulai diskusi tentang satu hal yang kau gelisahkan. Atau jangan-jangan kau tak datang karena tak punya cerita atau bahan diskusi. Tak mungkin. Bukankah cerita yang mengalir dalam kebersamaan kita selama ini adalah tentang hidup kita masing-masing? Tak mungkin tak ada cerita. Seperti pernah kau katakan di awal kebersamaan-kebersamaan kita, bahwa perjalanan hidup seminggu tak kan selesai dituangkan dalam waktu sesingkat kebersamaan kita, satu hari. Juga tentang bahan diskusi, mustahil tak punya tema mengingat kenyataan hidup saat ini sudah carut-marut. Dinding pemisah antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim yang sudah semakin tipis, tatakrama yang sepertinya sudah dianggap tak sakral lagi, individualisme dan materialisme yang semakin menjadi-jadi meracuni kehidupa sekitar, atau tentang semangat mencari ilmu siswa-siswa yang sudah sangat menurun, semua itu pasti menggelisahkan nuranimu.
Namun ketimbang diskusi sebenarnya aku lebih suka cerita. Cerita tentang kehidupan yang telah dilalui, meski tak semua dari hidup kita ceritakan. Jika tidak salah minggu lalu aku cerita tentang hubungan yang tengah kujalani dengan seseorang yang jauh dipisah jarak. Hubungan yang aneh, penuh dengan emosional dan kecemburuan yang dalam. Aku tak tahu bagaimana kau mendengarnya. Entah jengkel, bosan, gila atau justru menarik. Sebab seingatku waktu itu aku bercerita dengan penuh semangat dan detil, seakan tak ada yang disembunyikan sama sekali. Cerita yang sangat panjang, tidak seperti ceritamu minggu sebelumnya yang terkesan ada bagian-bagian yang disembunyikan.
“Beberapa kalimat cerita dalam hidup kita tak boleh ada orang lain yang tahu.” Aku setuju dengan kata-katamu itu.
Tapi terus terang aku selalu suka cerita-ceritamu, sederhana tapi mendalam. Dari cerita-ceritamu aku punya pemahaman bahwa kau tampaknya begitu hati-hati menjalani hidup, begitu hati-hati mengambil unsur-unsur tertentu sebagai pengisi cerita hidupmu. Hal-hal yang tak bagus untuk ceritamu kau tinggalkan. Tak kau lakukan perbuatan perbuatan yang hanya akan menjadi noda dalam ceritamu.
Kau memang sahabat sejatiku sejak kecil. Tapi satu hal, walaupun persahabatan ini sudah begitu lama terikat, ada rasa sungkan di antara kita. Tak apa. Justru aku bersyukur, karena menurutku kesungkanan itulah yang menjadi salah satu alasan atau penyebab awetnya hubungan ini. Coba kau amati kisah-kisah persahabatan yang kedekatannya bahkan melewati batas kewajaran, persahabatan itu pun segera runtuh tak tersisa, menjadi duri. Karena kesungkanan itulah ikatan persahabatan ini menjadi istimewa.
Aku jadi tak sabar ingin mendengar ceritamu lagi hari ini. Tapi mengapa kau tak datang-datang juga? Hp-mu tak aktif. Kalau saja tak ada kesepakatan bahwa tempatnya harus di sini, di gubuk pribadiku ini, meski jauh pasti sudah kususul kau ke rumahmu.

Gubuk Bambu, 20 Februari 2014



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 05.29 and have 1 komentar

1 komentar:

Sirma'ei mengatakan...

Sebuah cerita yg cukup mengajarkan penantian.