Kepulanganku dari kantor siang ini diiringi hujan. Sepatuku basah dan ada
sedikit bercak tanah liat di bagian bawah celanaku. Hujan yang khusyuk, seperti
tak memberi harapan untuk reda. Kubiarkan korek api tergeletak begitu saja di
samping sebungkus rokok. Aku tak berpikir untuk menyulutnya kali ini, ada hal
lain terbayang, tapi kutahan di dada. Air menggenangi jalanan setinggi mata
kaki, menghanyutkan daun-daun kering, sampah plastik dan benda-benda ringan
lainnya. Di antara rinai hujan yang membuat gigil suasana, di belakang jejak
lari anak-anak hujan itu, luka baru dalam batin mulai perih terasa.
Aku ingin menghanyutkan perih ini, agar menjadi masa lalu yang demikian
jauh. Meski berat, luka yang tergores pagi kemarin itu kuputuskan untuk tak
diobati dengan “kembali”. Keputusan yang kuambil untuk pergi sudah bulat. Sebab
luka telah tergores dengan dalam dan sepertinya tak mudah untuk tertutup lagi.
Jika harus kembali, tak sembuh pun luka itu aku tak peduli. Meski aku sadar
hati seringkali berubah tanpa terpikirkan dan disadari, walaupun bukan tidak
mungkin aku merindukannya lagi, namun setidaknya keputusan bisa menahan diri
untuk kembali, mungkin. Ya, kembali, harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Aku
tak akan melakukannya.
Kupandangi jalanan yang seperti ditaburi kristal itu menjadi sungai. Aku
benar-benar ingin menyertakan rasa perih ini bersama sampah-sampah itu dan
membiarkannya hanyut sampai ke laut, tersangkut di tengah-tengah sungai bersama
rerantingan atau entah di mana dan ke mana. Aku tak mau terus-menerus tersiksa
karena hujan, sebab hujan datang begitu sering setiap musim. Saat hujan turun,
luka itu semakin perih terasa. Lalu jika hujan turun tiga kali seperti kemarin,
maka tiga kali pula perih itu mencekik hidupku. Aku tak mau terus-menerus begitu.
Bukankah hujan itu anugerah yang menyimpan begitu banyak keindahan? Keindahan
tetesannya, suaranya, suasananya, termasuk keindahan masa kanak-kanak yang
terkenang dengan jelas dan rinci. Tapi sungguh ini bukanlah perkara mudah,
semudah menghanyutkan sobekan kertas seperti yang sering kulakukan dulu saat
hujan turun di akhir jam pelajaran sekolah. Hujan malah menyuburkan kenangan,
ingatan tentang dia. Wajahnya tergambar dalam setiap tetes hujan. Suaranya
mengalun di tengah-tengah keretap hujan, seperti memanggil-manggil namaku. Saat
kenangan tawa dan senyum itu kembali, kenangan tentangnya lalu hadir dengan
lengkap dalam kepala, rasa perih pun kemudian menyelinap di baliknya. Hujan
memang selalu membawa semua kenangan. Seperti tak mungkin bisa aku menghapus
kenangan tentangnya itu, kenangan yang sekaligus menghadiahiku rasa perih
mengiris-iris jiwa.
Ah! Aku tak mau kembali menanggung perih ini seperti waktu itu, masa
sebelum kehadirannya, tentang luka serupa yang pernah kudapatkan beberapa tahun
silam. Sekelumit rasa perih yang harus kuperangi hingga bertahun-tahun lamanya,
sampai musim hujan datang berkali-kali. Waktu itu aku tak pernah bisa menikmati
hujan, karena harus menahan perih kenangan. Kali ini aku harus bisa mengubur
kenangan ini secepat mungkin, sekaligus mengakhiri jalan cerita perihku bersama
hujan, meski sebenarnya baru sejengkal dimulai.
“Penderitaan itu tak boleh terulang untuk yang kedua kalinya. Aku harus
bisa mengatasi rasa perih ini secepat mungkin, sebelum separuh terakhir musim
hujan ini berakhir.”
Hujan di awal musim itulah yang mempertemukanku dengannya. Hujan jualah
yang kemarin mengakhiri kebersamaan itu, hujan yang kurasa mirip seperti di
awal perjumpaan itu. Sebuah pertemuan yang unik, dramatis dan mengesankan.
Pertemuan yang dia tunggu hingga berjam-jam lamanya karena hujan pagi hari, dan
baru kutemui saat gerimis beterbangan seperti salju. Pertemuan itu telah
mencipta kisah dalam bis siang hari sambil menyaksikan gerimis lembut dari
balik kaca. Namun hujan di siang hari kemarin telah menjadi tanda hancurnya
hubungan yang telah berjalan sekitar 6 bulan itu.
Aku ingin segera mengakhiri cerita tentangnya dalam hidupku. Sebab
kupikir aku tak akan pernah bisa memahaminya. Enam bulan bukanlah waktu yang
singkat untuk mengalah pada sikap-sikapnya yang egois dan ingin selalu
diperhatikan, juga bukan waktu yang singkat untuk selalu mengelus dada. Bukan
hanya kata-katanya yang kasar dan penuh kebohongan, dia bahkan sering
merendahkan martabatku. Percuma aku mati-matian berusaha memahaminya kalau dia
sama sekali tak berusaha menghargai perjuanganku.
Sebelum pertemuan itu pun sebenarnya aku hawatir untuk menjalin hubungan
itu. Caranya berbicara di telpon dan berkomunikasi denganku lewat Facebook,
cukup jelas menggambarkan keangkuhannya. Namun di balik semua itu aku tak
pernah mendapatkan perhatian dan kebaikan sebesar yang dia berikan. Itulah yang
membuatku bertahan dan berusaha mengikis sifat-sifatnya yang tak kusukai itu.
Selama ini aku sudah berusaha menjadi seperti yang dia inginkan, tapi usaha
itu tak pernah dihargai. Dia selalu menganggap aku tak pernah berusaha
memahaminya. Rupanya dia berharap terlalu besar tentang keinginannya, hingga
menafikan segala hal tentang hidupku. Aku masih punya hidupku sendiri,
teman-temanku, kegiatan-kegiatanku dan lain sebagainya. Tak mungkin kukorbankan
semuanya untuknya. Sudah kukurangi porsi waktuku untuk hal-hal yang berkaitan
dengan hidupku sendiri dan kuberikan padanya. Tapi dia tak pernah mau
menghargai dan memahaminya. Dia tetap menginginkan seluruh waktuku untuknya.
Usahaku itu sama sekali tak berarti baginya. Memang aku tak pernah berhasil
menolongnya setiap kali dia meminta bantuanku. Tapi aku justru hawatir itu
karena sebenarnya dia tak pernah percaya bahwa aku bisa menolongnya.
Namun semua itu tidak lantas menjadi satu-satunya alasan keputusanku
untuk pergi. Sudah biasa pertengkaran terjadi. Sudah biasa terlontar kata-kata
“Hidup sendiri-sendiri saja”, “Lupakan semua yang pernah terjadi”, sudah sangat
sering pula dia membuatku tak ada gunanya dan patah semangat menjalani hidup,
namun beberapa hari kemudian semua itu hilang dengan sendirinya dan kembali
seperti biasa, akrab dan mesra. Tapi pertengkaran kali ini sungguh tak bisa
dimaafkan. Pertengkaran terjadi karena kehadiran seseorang dalam hidupnya,
seseorang yang mengganti posisiku dalam hari-harinya. Dia selingkuh. Aku harus
melupakan semua tentangnya.
***
“Kau takkan bisa melupakannya.”
“Kenapa tidak?”
“Kau akan selalu teringat tentangnya setiap kali hujan datang.”
“Takkan kubiarkan.”
“Bukankah katamu, hujan datang dari masa lalu?”
“Aku punya banyak masa lalu untuk kunikmati di bawah hujan.”
“Kau salah, hujan turun menyentuh hati.”
“Lalu?”
“Hati memiliki keinginannya sendiri, dan tak semua keinginannya bisa kita
kendalikan.”
“Pasti bisa jika aku berusaha dengan keras.”
“Ah! Jangan keras kepala. Kau hanya akan menyiksa batinmu sendiri. Tak
perlu kau repot-repot menghapus kisah itu dalam hidupmu.”
“Mengapa begitu?”
“Jika kau tetap melakukannya, kau mungkin tak bisa mendapatkannya lagi
dengan orang lain.”
“Apa maksudmu?”
“Masa lalu itu bukanlah kutukan, tapi anugerah agar bisa menjadi
pelajaran. Jika kau hapus pelajaran itu, kesalahan atau kekurangan yang sama
mungkin akan terjadi dengan mudah di masa depan, kemudian rasa sakit itu pun
akan segera datang lagi.”
“Lalu bagaimana dengan penderitaan ini?”
“Kau hanya perlu belajar mengurangi rasa perih itu perlahan, sampai tak
kau rasakan lagi saat mengingatnya. Kau harus melawan rasa perih itu dengan
cara dan kemampuanmu sendiri.”
***
Di luar hujan masih menggila. Sengaja tak kubalas isyarat terakhir hujan
itu. Kubuka pintu dan segera berdiri di tengah-tengah halaman rumah sambil
menggenggam korek api di tangan. Kutengadah langit dengan mata terpejam,
kubiarkan beberapa tetesannya melumuri tubuhku sebelum mengalir ke tanah.
“Hujan, bawalah rasa perih ini pergi jauh agar aku tak perlu membakarmu.”
Gubuk_Bambu, 12 Maret 2014
Posted by , Published at 06.43 and have
0
komentar




Tidak ada komentar:
Posting Komentar