Siang yang bingung. Mendung tebal membungkus matahari, namun
hujan tak turun-turun juga, hanya beberapa tetes kecil saja tadi jatuh.
Sekawanan semut hitam berjalan di antara pecahan genteng dan rerumputan kecil,
entah apa aktivitasnya. Barangkali mencari makan atau sekedar jalan-jalan saja.
Apakah mereka hari ini sama denganku yang tengah risau kalau-kalau hujan
benar-benar turun? Entahlah!
Dua jarum jam di dinding telah menunjuk angka sepuluh dan
angka satu. Rasa kantuk mulai jelas menggambar bantal dan selimut,
menggelantung di pelupuk mata, benar-benar menggiurkan. Tapi sayup-sayup
lantunan ayat-ayat suci dari atas kubah masjid mulai mengalun, menyeret waktu
untuk mengumpulkan umat ke dalam satu kiblat.
Aku bergegas menuju kamar mandi, melawan rasa kantuk dan
kehawatiran akan hujan. Aku tak mau seperti minggu lalu, terjebak di bawah
gerimis yang melumuri gubukku, di atas bantal empuk yang melenyapkan kesadaran.
Kuputuskan untuk berangkat meski gerimis mulai tertabur.
Kusisir jalan di sebelah selatan selokan yang memanjang ke barat itu, jalan
yang baru sebulan diaspal tapi sudah mulai rusak. Kutempuh langkah lebih cepat,
sebelum hujan benar-benar turun. Kulihat saku baju koko putih lusuh yang
kukenakan, takut kalau aku lupa membawa uang untuk kotak kayu di masjid nanti.
Syukurlah! Aku tak lupa, selembar uang lima ribuan kulihat terlipat rapi.
“Harta yang kita sedekahkan itulah milik kita sebenarnya.”
Begitulah kira-kira pemahamanku pada salah satu isi ceramah yang pernah
kudengar di computer. Pemahaman itu selalu kuingat dan rutin melaksanakannya
setiap hari jum’at. Selalu kusisakan sejumlah uang untuk pemahaman itu.
Gerimis mulai diganti hujan, aku tiba di masjid bersama
beberapa orang yang mungkin juga karena semangat dan tekad besar untuk
kesempatan ini. Seluruh pakaian yang kukenakan sedikit basah. Tak apa, aku
bahagia bisa berada di sini. Paling tidak untuk mengelus cita-cita naik hajiku
selama ini. Sebab seperti yang selalu diucapkan bilal bahwa, hari jum’at
adalah tuannya semua hari, hajinya orang fakir dan hari rayanya orang miskin. Berarti
aku bisa haji atau melaksanakan hari raya setiap minggu. Entahlah! Kadang aku
merasa kata-kata itu hanyalah ngapusi belaka.
Kulihat anak-anak yang belum cukup umur di beranda masjid,
bergurau seperti biasanya, berbicara seenaknya. Pakaian yang mereka kenakan pun
adalah baju (kaos) yang biasa mereka pakai untuk bermaian. Bau mereka hangus. Padahal
sewaktu aku masih kanak-kanak dulu, bapak dan ibuku selalu memberikan pakaian
terbaik setiap hari jum’at, minimal bersih dan wangi, serta memandikanku
terlebih dahulu. Mungkin karena itulah sejak aku remaja hingga kini selalu
mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik untuk pergi ke masjid. Jangankan
kaos, baju lengan pendek saja terasa risih dan serba tak enak.
“Memang baik untuk pendidikan keagamaan mereka, pembiasaan
dalam hal kebaikan. Tapi jika tak diurus seperti ini bukahkah hanya mengganggu
jama’ah masjid yang lain?” Batinku.
Jika tak hujan seperti ini, pasti di halaman masjid ini masih
banyak orang berdiri, ngobrol entah apa temanya. Tapi karena mulai tadi
gerimis, di dalam masjid pun sepertinya masih sedikit orang yang datang,
padahal shalat jum’at sebentar lagi dimulai. Kulangkahkan kaki kanan menginjak
lantai masjid, berjalan melewati jamaah yang tampaknya lebih suka berada di
emperannya saja. Segera kuambil dan kumasukkan uang di saku bajuku ke kotak
kayu itu, kotak kayu kecil berwarna merah yang diameter lubangnya sekitar 0.5x3
cm. Bersamaan dengan itu, perasaan luar biasa timbul dalam hati. Ah! Perasaan
yang tak pernah bisa kujelaskan. Bahagia, tentram atau apa saja. Mungkin
perasaan itu tidak untuk dijelaskan, hanya dirasakan saja.
Kutegakkan shalat dua rakaat di tempat kesukaanku, di bawah
lengkungan kubah masjid, di tengah-tengah masjid, lalu duduk khidmat menyimak
khotbah jum’at meski tak begitu paham karena menggunakan bahasa arab. Ah!
Tidak! Aku tidak menikmati khotbah itu. Aku hanya menikmati suasana ketenangan
yang selalu kedapatkan di tempat ini, ketenangan batin karena merasa begitu
dekat dengan Tuhan. Bukahkan kata orang-orang masjid adalah rumah tuhan?
“Ah! Khotbah yang biasa, suasana yang juga biasa. Tapi harus
tetap luar biasa dalam hatiku”
Orang-orang duduk bersila menghadap ke arah kiblat, seolah
juga tengah khusyuk mendengarkan sang khotib membaca teks lapuk yang tak
diganti-ganti itu. Teks arab yang sepertinya sama saja, dibaca setiap hari
jum’at. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka tak menikmati khotbah itu?
Jangan-jangan mereka hanya menikmati suasananya, sama sepertiku. Atau
jangan-jangan mereka malah memikirkan kehidupan duniawi di sini. Sawah, kantor,
ternak dan sebagainya. Ah! Aku tak perlu tahu soal itu. Aku hanya perlu
menikmati suasana yang tengah kudiami. Tentang kesejajaran semua kalangan,
mulai dari kalangan paling bawah seperti para petani dan pengangguran, hingga
kalangan atas semisal para kiai dan kaum kantoran. Semuanya duduk sejajar tanpa
embel-ember pangkat atau jabatan.
***
“Kenapa berhenti, Pak?
“Kamu paham, nak?”
“Tidak semuanya, tapi aku senang cerita Kakek”
“Kakekmu memang senang menulis cerita, tapi inilah hidupnya,
nak!”
“Maksud Bapak, cerita itu benar-benar Kakek jalani?”
“Ya, Kakekmu memang orang yang baik dan sederhana. Beliau selalu
resah jika harus meninggalkan shalat jum’at, sebab harus meninggalkan banyak
hal pula disamping shalat jum’at itu sendiri”
“Lalu bagaimana Kekek pulang dari Masjid, Pak?”
Sebenarnya aku ingin baca sendiri cerita yang kakek tulis
dalam lembaran buku harian itu, buku harian yang sudah lapuk karena dimakan
usia. Tapi Bapak tak mengizinkan. Bapak malah bersedia membacakan cerita yang
ditulis 20 tahun yang lalu itu untukku.
***
Saat shalat jum’at selesai dengan wiridannya, kutempuh jalan
di pinggir sungai, di sebelah utara selokan itu. Hujan yang sedari tadi
memasung matahari di atas kubah masjid itu kini sudah habis sama sekali, entah
kemana perginya. Sepertinya hujan itu datang memang untuk menguji kesungguhanku
untuk datang melaksanakan shalat jum’at. Sebab setelah shalat dua rakaat pengganti
shalat dzuhur itu selesai, matahari kini kembali terik memanggang ubun-ubun. Meski
hanya jalan setapak dan becek karena hujan tadi, tapi aku lebih memilihnya dari
pada jalan beraspal yang kulewati saat berangkat ke masjid. Sebab disamping
kata guruku, bahwa jalan yang dilewati untuk kebaikan akan menjadi saksi amal
baik itu sendiri, juga karena jalan yang kini sudah demikian sempit dan kotor
ini menyimpan banyak kenangan.
Adalah satu jembatan sungai yang katanya peninggalan belanda
itu tak pernah berhenti menyita perhatianku. Orang-orang menyebutnya ‘dam’,
sebuah penampungan air sungai yang terbuat dari beton. Karena ini musim hujan,
maka airnya meluap, mengalir seperti air terjun. Kusempatkan waktu untuk duduk
sejenak, mengenang masa ketika aku masih sering bermain dan mandi di sini.
Dinding-dindingnya masih cukup kokoh meski telah dimakan usia. Barangkali
karena jembatan ini dibuat untuk digunakan, bukan yang lainnya. Entahlah! Aku
tak mau membanding-bandingkannya dengan pembangunan di negeri ini. Aku tak mau
rasa nasionalisme dalam diriku terkikis. Ah! Tentang jembatan itu, sepertinya
aku harus menulis cerita khusus. Aku harus segera pulang.
Kulanjutkan langkah ke arah matahari terbit, melewati tepian
sungai dengan sedikit senyuman. Rimbun pepohonan memagari sungai, meski sudah
tak terawat lagi. Banyak pohon bambu dibiarkan roboh ke sungai. Daun-daun
kering bertaburan memenuhi jalanan. Masih sangat kuhafal tempat-tempat dimana aku
sering memancing ikan dulu, juga mandi telanjang penuh suka cita. Betapa
jauhnya masa itu telah kutinggalkan? Masih kuingat lekat-lekat warna keruh air
akibat suka-citaku bersama teman-teman waktu itu. Batu besar yang biasa
kupergunakan untuk meletakkan pakaian itu kini sudah berlumut.
Tanpa terasa sudah cukup jauh kutinggalkan masjid untuk
ukuran jalan kaki. Inilah yang paling tak ingin kutinggalkan setelah shalat
jum’at tadi, mengunjungi kuburan guru alifku yang memang terletak di pinggir
jalan menuju pulang ini. Sebuah area pekuburan yang tak jauh dari rumahku ini
juga telah menampung kuburan guru-guruku yang lain, kuburan kakek, nenek dan
sanak keluarga lainnya. Entah siapa yang telah merelakan sawahnya ini untuk
ditanami kuburan-kuburan warga setempat. Sungguh alangkah mulia hatinya. Aku
yakin orang yang paling beruntung di dunia ini itu akan selalu bahagia dan tak
kekurangan suatu apapun.
Ilalang yang tumbuh liar menenggelamkan banyak kuburan itu
meliuk-liuk, seperti menyambut kedatanganku. Kulihat beberapa kuburan yang
beberapa minggu lalu patah kepalanya itu masih tak berubah, sepertinya memang
dibiarkan tak terurus. Namun beberapa kuburan malah selalu kudapati bersih dari
rerumputan setiap jum’at.
Sebelum mulai mengaji surah yasin, ingatanku kembali
mengenang hidup guru yang kukenal penyabar dan sudah sampai ke tingkat ikhlash
yang tinggi itu. Air mataku terburai. Sungguh berat perjuangannya, tapi cahaya
senyum tetap terpancar dari wajah keriputnya itu. Meski sudah tak lagi ingat
bagaimana beliau mengajariku huruf alif dulu, aku yakin tidaklah mudah. Sebab
kata ibu aku belajar ngaji pada beliau sejak aku baru bisa bicara, karena
rumahku memang sangat dekat dengan surau beliau. Pasti sangat merepotkan. Aku
bisa melihat pada kenakalan anak-anak yang kudampingi belajar ngaji di surau
peninggalan beliau.
Setelah mengirim surat al-Fatihah terlebih dahulu, kumulai
membaca, “Yaa Siin.” Sungguh terasa nyata wajahnya tergambar dalam halaman
al-Qur’an yang kubaca itu. Beliau tersenyum melihatku sudah sangat fasih
membaca al-Qur’an. Aku merasa beliau bangga karena ilmu yang telah beliau
tularkan tetap diamalkan. Tapi aku sedih sebab setelah itu aku merasa beliau
menanyakan teman-teman sepengajianku. Ah! Maafkan aku kiai, aku tak sanggup
mengajak mereka ke tempat ini setiap jum’at, sebab aku sendiri masih sering
lupa. Bahkan tekad yang pernah kugenggam untuk mengikuti jejakmu, berusaha selalu
hatam al-Qur’an setiap bulan hingga saat ini masih sering kulepaskan. Sungguh
dunia ini menyilaukan hidup. Kehidupan kini sudah tak seakrab dan semudah dulu
lagi. Aku bahkan tak tahu apakah mereka masih bisa mengaji saat ini. Sudah
banyak yang mengganti posisi al-Qur’an dalam kehidupan orang-orang. Banyak
orang sudah tak lagi berusaha untuk memperoleh petunjuk dari al-Qur’an.
“Pak, aku ingin seperti Kakek.” Bapak tak merespon
perkataanku.
Anakku, jadilah penerus nilai-nilai luhur masa lalu yang
hidup di masa kini, masa yang angkuh.
Kulihat air mata menetes dari kedua mata Bapak.
Gubuk_Bambu, 27 Maret 2014
Posted by , Published at 01.23 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar