Kenyataan tiba-tiba mengalir sejuk
tanpa terduga, menuntun bibir
tersenyum dan mulut hembuskan nafas sejuk lepas, tanpa sempat kutemukan alasannya. Di
tengah-tengah ketenangan waktu setelah shalat isya’, batin terasa begitu
tentram. Kudongak langit gelap bertitikkan bintang-bintang, kunikmati
dalam-dalam suasana batin luar biasa ini, seperti tak henti-hentinya tersenyum
secara diam-diam.
Kucari-cari alasan yang membuat semua ini kualami. Kuingat-ingat
perjalanan waktu mengitari hari-hariku sejak tadi pagi. Berulangkali kutanyakan
pada diri sendiri tentang semua ini, namun tak sedikitpun kutemukan titik
terang.
Kuingat di persimpangan jalan waktu dzuhur tadi kudapatkan hasil usaha
atas salah satu keinginanku, tapi hasil itu justru menyadarkanku tentang
rintangan dan hambatan yang mesti kulalui. Kebahagian yang kuperoleh justru
menghadirkan sekian kehawatiran-kehawatiran.
Mungkinkah karena kepastian tugas menjadi guru yang harus kulalui sebagai
jawaban atas kebimbangan hari-hari setelah prosesi wisuda Oktober nanti itu?
Ah, nyatanya aku malah takut menghadapi kenyataan itu mengingat kapasitasku
yang sangat tidak mumpuni, karena kemalasan belajarku selama ini.
Entahlah! Semakin kutelusuri, rasanya kian jauh jawaban itu berlari.
Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya kumaksudkan untuk meraihnya ternyata
malah membuatnya semakin jauh. Sekencang aku mengejarnya, sekencang itu pula ia
berlari.
Kelebat santri-santri tanpa suara mendekap kitab menghadirkan sedikit
harapan dalam batinku. Hendak kutanya mereka tentang semua ini, namun tiba-tiba
aku tertahan. Jika aku sendiri tak tahu apalagi orang lain? Apalagi yang hendak
kutanyakan itu tentang diriku yang sama sekali tak mereka ketahui. Belum lagi
apakah mereka sebenarnya juga tengah bingung dengan kenyataannya sendiri.
Kubiarkan saja kenyataan mengalir apa adanya. Kunikmati saja ketentraman
misterius itu dengan sungguh-sungguh. Aku tak ingin justru gelisah karena
ketentraman. Bukahkan memang tidak semua kenyataan bisa dipahami dengan akal?
Kenyataan-kenyataan yang tercipta di seberang jalan rencana, praduga dan
harapan manusia. Lagi pula ini bukanlah yang pertama kualami. Catatan masa
laluku banyak menggoreskan deskripsi-deskripsi suasana batin yang tak dijumpai
alasan atau penyebabnya. Dan malam ini, mungkin merupakan kelanjutan atas
rentetan-rentetan catatanku yang tak bisa kujelaskan kecuali suasananya itu
sendiri.
Dudukku masih sepi. Kuangkat wajahku ke langit dengan mata terpejam.
Bintang-bintang itu seperti mulai bicara padaku, mengisahkan malam dengan
kegelapan penuh kesunyian. Kuiyakan saja meski tak jarang kutemukan kegelisahan
bersamanya di hari-hari yang lalu.
Masih jelas kuingat waktu itu, ketika batinku terombang-ambing di tengah
kegalauan. Aku tak terima karena sepertinya aku dipermainkan dengan sangat
kejam, sama sekali tak memedulikan perasaanku. Kucoba mengadu pada malam tanpa
rembulan, meminta ketenangan dan ketegaran menghadapi kenyataan yang kuhadapi.
Tapi aku malah kian tersiksa, malam membisu dan semakin mencekamkan gelapnya.
Beberapa bintang yang menitikinya justru menghampar selimut tebal berupa awan
kelabu.
Tapi, harus kuakui bahwa akhir-akhir ini selalu kutemukan ketentraman
dalam malam tanpa rembulan. Kerap
kali kutemukan senyum lepas bersama bintang-bintang. Kegelisahan bahkan
penderitaan-penderitaan yang kualami sepanjang hari, selesai dan berbalik di
bawah malam gelap dan sunyi.
Pernah kujalani suatu hari
yang panas dengan ejekan, pelecehan dan hinaan secara tak langsung dari
orang-orang. Tugas yang kulakukan dengan susah payah dan penuh perjuangan rumit sama sekali tak mereka hargai. Kebiasaan sifat
akrabku dengan siapa saja, hari itu mereka jadikan kesempatan untuk
menggojlokku semaunya, tanpa peduli perasaan dan sifat manusiawiku. Nyaris tak
sanggup kukuasai diri ini dan membalas semuanya dengan lebih. Tapi malam
buru-buru mengakhiri semuanya. Malam menenangkan batinku yang tengah berkobar
dahsyat itu. Segala amarah yang berkobar musnah tatkala kuhadapkan wajahku ke langit
gelap berhiaskan bintang-bintang, sambil menekan kesadaranku untuk benar-benar
melepaskan sejenak segala beban hari itu.
Kuayun langkah dan duduk di pinggir jalan raya sebelah barat pondok.
Kulihat lebih banyak lagi bintang dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok
bintang kecil berjejer menyerupai sungai, nanggala dan lainnya. Sementara yang
besar-besar, kulihat mereka lebih memilih untuk bersinar di tempat-tempat
terpisah yang tidak terlalu jauh Keinginan untuk membongkar tabir misteri itu habis
tertebus keindahan bintang-bintang yang membuatku terlena.
Aku pun mulai menulis
Sungguh manis mengurai kebahagiaan, ada atau tidak alasan sama saja. Kata-kata tak
sanggup menjelaskannya panjang lebar selain desahan lepas yang sejuk, atau sesungging senyum yang
sepertinya tak mau berhenti merekahkan semerbak wangi. Mengurai
kebahagiaan, sungguh lebih dari sekedar cerita atau lagu
pengantar tidur.
Malam tanpa rembulan yang
tenang bertabur bintang, waktu melepas belenggu hari yang mencekik, menikmati
dan berbagi kebahagian.
Setengah jam berlalu,
santri-santri mulai menyesakkan malam dengan suara-suara diskusi, obrolan
lepas, dan canda tawa yang sampai meletup-letup. Kudongak lagi langit dengan
mata terpejam untuk yang terakhir kalinya, dan berbaur dengan mereka,
mengabarkan ketentraman batin yang tengah kumiliki. Sebab harus menunggu mereka
tidur untuk kembali menikmatinya. Sementara biarlah semua itu mejadi
misteri.
Posted by , Published at 21.47 and have
1 komentar



1 komentar:
wah.. mantaps nich tulisannya.. renyah dan nyaman dibaca dan dipikirkan..
follow back at
ngeblok-asyik.blogspot.com
Posting Komentar