
Awan putih tipis berarak menggerayangi langit siang ini. Burung-burung masih tampak begitu riang dengan kicaunya, persis seperti hari-hari menyenangkan sebelumnya. Sementara mentari tak bosan-bosannya mencurahkan cintanya pada bumi dengan pancaran sinar yang terang. Dengan bentangan awan yang mencoba menghalanginya pun ia masih terus berusaha untuk tetap bersinar. Kehidupan pun penuh dengan hasrat dan semangat untuk terus berjalan mengarungi ruas-ruas ruang dan waktu yang seperti tak berujung itu. Tugas-tugas dan tanggung jawab yang sejatinya begitu rumit dan berat, persoalan-persoalan pelik yang jauh dari titik akhirnya, kenyataan pahit yang mesti dijalani dengan urutan dada, semuanya mentari temani dengan begitu tulus.
Namun Lastri, perempuan desa yang berparas cantik dan selalu berpenampilan menarik sehari-hari, masih belum juga sanggup membendung aliran air dari matanya sendiri. Berungkali ia usapkan lengan baju hijau yang sudah terlalu kuyup itu, bahkan sesekali ia tarik nafasnya dalam-dalam, tapi senggukan seperti tak mau berhenti dan pergi darinya, menggenangkan air di matanya hingga merah dan kemudian mengalir tanpa tujuan.
Lastri benar-benar hancur karena kenyataan hidupnya kini. Jika ada pilihan, mungkin ia akan lebih memilih mengakhiri segalanya, termasuk hidupnya. Beberapa hari yang lalu memang pernah ia lakukan dengan menggantung dirinya di bawah pohon nangka di belakang rumahnya, tapi ibunya kemudian segera mengetahui hal itu dan menangis sejadi-jadinya sambil buru-buru menolongnya. Sebenarnya ia sadar bahwa masih ada orang-orang yang mencintainya, lebih-lebih ibunya sendiri yang akan sangat terpukul bila kehilangannya, anak satu-satunya. Namun penderitaan pahit yang kini ia tanggung benar-benar menyakitkan. Dan yang paling ia sesalkan adalah bahwa penderitaan itu justru karena cinta yang dulu ia bangga-banggakan. Mungkin karena sampai mengabaikan nasehat orang tua, membentur norma-norma dan mengorbankan banyak hal yang sejatinya tidak pantas dan wajar, cinta kini menghancurkan hidupnya.
Awan kemudian berubah mendung, dan mentari masih tetap berusaha menyampaikan sinarnya ke bumi. Lastri masih belum beranjak dari tempatnya semula, duduk termenung di bagian depan emperan rumahnya. Matanya masih merah dan sesekali meneteskan air mata. Rupanya sudah nyaris tak ada lagi air mata untuk mengalir, hingga kini hanya menetes sekali-sekali. Pandangannya pun masih belum bergeser dari jalan setapak yang terbentang sepi di antara pematang sawah itu. Seolah ada yang tengah ia tunggu dengan harapan yang demikian besar, antah apa atau siapa. Ia sudah jarang bicara sejak beberapa minggu yang lalu. Hari-harinya ia habiskan hanya dengan tangisan pilu.
Seorang perempuan berkerudung dan berpakaian longgar berjalan sambil menundukkan kepala, sementara di tangannya tergantung sebuah plastik besar penuh berisi. Mungkin datang dari pasar atau toko terdekat, disuruh ibunya pergi belanja. Giliran jalan setapak di depan rumah Lastri yang dilewatinya, Lastri termangu sejenak menyaksikan hal itu, kemudian kembali menangis. Pakaiannya, caranya berjalan dan kepatuhannya pada orang tua, sungguh sangat jauh berbeda dari apa yang ditampakkan perempuan itu. Ia tak pernah memakai kerudung. Bajunya selalu mewah dan ketat. Kalau berjalan ia tak pernah tundukkan kepala sebagai isyarat kerendahan dan ketulusan hatinya. Serta ia selalu menyakiti hati orang tuanya. Lastri semakin terpukul. Mungkin perempuan yang tak lain adalah tetangga sebelahnya itu belum pernah terperangkap cinta bajingan seperti yang kini menghancurkan hidupnya itu. Kalau pun pernah dijumpai warna merah jambu itu, ia tak lantas membiarkan dirinya buta dan tuli. Buta terhadap tatakrama dan tuli dari nasehat-nasehat. Melainkan menjadikan cintanya sebagai motivasi bagi hidupnya untuk menjadi lebih baik, di mata masyarakat, agama dan sebagainya.
Selesai pandangannya dengan perempuan itu Lastri kembali menangis, air matanya mengalir lagi, namun kali ini tanpa senggukan. Lastri teringat cerita cintanya yang dulu ia bela mati-matian.
Angannya pun bercerita untuk yang ke sekian kalinya. Semuanya berawal dari SMS-an dengan orang yang mengaku bahwa namanya Holqi dari desa seberang, kemudian telfon-telfonan sampai tak tahu waktu. Seminggu kemudian Lastri mengiyakan ajakan Holqi untuk ketemuan di salah satu tempat. Lastri pun berdandan secantik mungkin layaknya gadis kota metropolitan. Ibunya yang mengetahui hal itu, melarangnya keluar rumah karena hari sudah sore. Lastri tak perduli, ia pergi dengan wajah sumringah. Sesampainya di tempat yang telah disepakati, separuh permukaan matahari sudah tenggelam. Lastri terkejut, karena ternyata tempat ketemuannya sangat jauh dari keramaian. Sejauh pandangan ia lemparkan, tak satu pun bangunan rumah terlihat. Ada kehawatiran tersemai, tapi Lastri segera menepisnya. Alasan mengapa Holqi menentukan tempat ini untuk ketemuan, mungkin agar lebih romantis, mungkin ia akan menembaknya di tempat ini, pikirnya.
Lastri duduk tak sabar di atas got lusuh yang di bawahnya mengalir air keruh yang entah di mana muaranya. Lastri ingin segera memastikan wajah seseorang yang selama ini ia terka sangat tampan dari suara dan caranya berbicara di telfon.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari, Holqi datang dari balik punggung Lastri dan menutup matanya. Lastri tersenyum, Holqi pun tersenyum. Keduanya asyik berbicara, saling bertanya ini itu. Awalnya malu-malu, kemudian begitu akrab dan mesra, bahkan sampai pegang-pegangan tangan segala. Lastri dan Holqi begitu bahagia. Hingga tanpa terasa sudah sangat lama kebersamaan mereka. Hingga larut malam. Mereka tak perduli. Seolah ingin mereka habiskan malam itu berdua. Malam yang sungguh romantis berhiaskan bintang-bintang dan sebongkah rembulan.
Holqi kemudian mengajaknya berjalan menyisir malam. Dan ketika mereka berdua melewati sebuah bangunan tua tak berpenghuni di antara semak-semak yang rimbun, keduanya sepakat untuk singgah ke dalamnya, meski muncul kecurigaan dalam hati Lastri.
Angin malam membuat tubuh Lastri yang mengenakan pakaian mini kedinginan dan Holqi segera mengetahui hal itu. Perlahan Holqi mencoba memeluknya, dan… ah, Lastri tak menolaknya. Mereka kemudian melakukan perbuatan yang dilarang agama dan masyarakat, zina.
Lastri pulang ke rumahnya dengan hati tak tentu, atas apa yang baru saja terjadi. Ibunya marah-marah karena ia baru pulang jam 12 malam. Terbesit rasa sesal dalam hatinya, namun terselip pula kebahagiaan karena telah jatuh cinta dan dicintai seorang lelaki yang lembut dan baik hati.
Lastri ingin menyesal telah membiarkan cintanya dikuasai nafsu dan menghancurkan hidupnya, namun semuanya telah terjadi. Kenyataan itu terlalu pahit untuk dijalani, dirinya sudah tak ubahnya sampah di mata masyarakat. Hati ibu yang telah susah payah membesarkannya sendirian telah terluka karenanya.
Dengan air mata yang masih mengalir, seiring mentari menguning di ufuk barat, seperti hari-hari sebelumnya Lastri kemudian beranjak pergi ke dalam rumahnya. Jika sejak tadi emperan rumah yang banjir oleh air mata, kini giliran kamarnya yang redup.
Tapi kali ini Lastri tak langsung masuk ke kamarnya. Dari arah pintu ia menuju dapur, baru setelah itu ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.
“Ibu, maafkan aku… aku gagal menjalani hidup ini dengan baik untukmu, untuk diriku sendiri, untuk segalanya” bisik Lastri dengan suara parau. Hening.
ls_creative, 30 Januari 2012
Namun Lastri, perempuan desa yang berparas cantik dan selalu berpenampilan menarik sehari-hari, masih belum juga sanggup membendung aliran air dari matanya sendiri. Berungkali ia usapkan lengan baju hijau yang sudah terlalu kuyup itu, bahkan sesekali ia tarik nafasnya dalam-dalam, tapi senggukan seperti tak mau berhenti dan pergi darinya, menggenangkan air di matanya hingga merah dan kemudian mengalir tanpa tujuan.
Lastri benar-benar hancur karena kenyataan hidupnya kini. Jika ada pilihan, mungkin ia akan lebih memilih mengakhiri segalanya, termasuk hidupnya. Beberapa hari yang lalu memang pernah ia lakukan dengan menggantung dirinya di bawah pohon nangka di belakang rumahnya, tapi ibunya kemudian segera mengetahui hal itu dan menangis sejadi-jadinya sambil buru-buru menolongnya. Sebenarnya ia sadar bahwa masih ada orang-orang yang mencintainya, lebih-lebih ibunya sendiri yang akan sangat terpukul bila kehilangannya, anak satu-satunya. Namun penderitaan pahit yang kini ia tanggung benar-benar menyakitkan. Dan yang paling ia sesalkan adalah bahwa penderitaan itu justru karena cinta yang dulu ia bangga-banggakan. Mungkin karena sampai mengabaikan nasehat orang tua, membentur norma-norma dan mengorbankan banyak hal yang sejatinya tidak pantas dan wajar, cinta kini menghancurkan hidupnya.
Awan kemudian berubah mendung, dan mentari masih tetap berusaha menyampaikan sinarnya ke bumi. Lastri masih belum beranjak dari tempatnya semula, duduk termenung di bagian depan emperan rumahnya. Matanya masih merah dan sesekali meneteskan air mata. Rupanya sudah nyaris tak ada lagi air mata untuk mengalir, hingga kini hanya menetes sekali-sekali. Pandangannya pun masih belum bergeser dari jalan setapak yang terbentang sepi di antara pematang sawah itu. Seolah ada yang tengah ia tunggu dengan harapan yang demikian besar, antah apa atau siapa. Ia sudah jarang bicara sejak beberapa minggu yang lalu. Hari-harinya ia habiskan hanya dengan tangisan pilu.
Seorang perempuan berkerudung dan berpakaian longgar berjalan sambil menundukkan kepala, sementara di tangannya tergantung sebuah plastik besar penuh berisi. Mungkin datang dari pasar atau toko terdekat, disuruh ibunya pergi belanja. Giliran jalan setapak di depan rumah Lastri yang dilewatinya, Lastri termangu sejenak menyaksikan hal itu, kemudian kembali menangis. Pakaiannya, caranya berjalan dan kepatuhannya pada orang tua, sungguh sangat jauh berbeda dari apa yang ditampakkan perempuan itu. Ia tak pernah memakai kerudung. Bajunya selalu mewah dan ketat. Kalau berjalan ia tak pernah tundukkan kepala sebagai isyarat kerendahan dan ketulusan hatinya. Serta ia selalu menyakiti hati orang tuanya. Lastri semakin terpukul. Mungkin perempuan yang tak lain adalah tetangga sebelahnya itu belum pernah terperangkap cinta bajingan seperti yang kini menghancurkan hidupnya itu. Kalau pun pernah dijumpai warna merah jambu itu, ia tak lantas membiarkan dirinya buta dan tuli. Buta terhadap tatakrama dan tuli dari nasehat-nasehat. Melainkan menjadikan cintanya sebagai motivasi bagi hidupnya untuk menjadi lebih baik, di mata masyarakat, agama dan sebagainya.
Selesai pandangannya dengan perempuan itu Lastri kembali menangis, air matanya mengalir lagi, namun kali ini tanpa senggukan. Lastri teringat cerita cintanya yang dulu ia bela mati-matian.
Angannya pun bercerita untuk yang ke sekian kalinya. Semuanya berawal dari SMS-an dengan orang yang mengaku bahwa namanya Holqi dari desa seberang, kemudian telfon-telfonan sampai tak tahu waktu. Seminggu kemudian Lastri mengiyakan ajakan Holqi untuk ketemuan di salah satu tempat. Lastri pun berdandan secantik mungkin layaknya gadis kota metropolitan. Ibunya yang mengetahui hal itu, melarangnya keluar rumah karena hari sudah sore. Lastri tak perduli, ia pergi dengan wajah sumringah. Sesampainya di tempat yang telah disepakati, separuh permukaan matahari sudah tenggelam. Lastri terkejut, karena ternyata tempat ketemuannya sangat jauh dari keramaian. Sejauh pandangan ia lemparkan, tak satu pun bangunan rumah terlihat. Ada kehawatiran tersemai, tapi Lastri segera menepisnya. Alasan mengapa Holqi menentukan tempat ini untuk ketemuan, mungkin agar lebih romantis, mungkin ia akan menembaknya di tempat ini, pikirnya.
Lastri duduk tak sabar di atas got lusuh yang di bawahnya mengalir air keruh yang entah di mana muaranya. Lastri ingin segera memastikan wajah seseorang yang selama ini ia terka sangat tampan dari suara dan caranya berbicara di telfon.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari, Holqi datang dari balik punggung Lastri dan menutup matanya. Lastri tersenyum, Holqi pun tersenyum. Keduanya asyik berbicara, saling bertanya ini itu. Awalnya malu-malu, kemudian begitu akrab dan mesra, bahkan sampai pegang-pegangan tangan segala. Lastri dan Holqi begitu bahagia. Hingga tanpa terasa sudah sangat lama kebersamaan mereka. Hingga larut malam. Mereka tak perduli. Seolah ingin mereka habiskan malam itu berdua. Malam yang sungguh romantis berhiaskan bintang-bintang dan sebongkah rembulan.
Holqi kemudian mengajaknya berjalan menyisir malam. Dan ketika mereka berdua melewati sebuah bangunan tua tak berpenghuni di antara semak-semak yang rimbun, keduanya sepakat untuk singgah ke dalamnya, meski muncul kecurigaan dalam hati Lastri.
Angin malam membuat tubuh Lastri yang mengenakan pakaian mini kedinginan dan Holqi segera mengetahui hal itu. Perlahan Holqi mencoba memeluknya, dan… ah, Lastri tak menolaknya. Mereka kemudian melakukan perbuatan yang dilarang agama dan masyarakat, zina.
Lastri pulang ke rumahnya dengan hati tak tentu, atas apa yang baru saja terjadi. Ibunya marah-marah karena ia baru pulang jam 12 malam. Terbesit rasa sesal dalam hatinya, namun terselip pula kebahagiaan karena telah jatuh cinta dan dicintai seorang lelaki yang lembut dan baik hati.
Hari-hari berlalu, kebimbangan mulai membayang di benak Lastri. Karena sejak malam itu, Lastri tak lagi mendapati kabar Holqi. SMS pun tidak. Awalnya Lastri mengira Holqi sengaja tak memberi kabar agar ketika bertemu lagi nanti, suasananya begitu romantis. Namun lama-lama Lastri merasa bosan dengan praduga itu, sebab sudah dua minggu Holqi tak menghubunginya.
Pada hitungan hari kesepuluh sejak pertemuan itu, kenyataan pahit itulah datang. Lastri hamil. Tapi Lastri tak mau cerita pada ibunya sekalipun, hingga ibunya tahu dengan sendirinya. Sungguh terpukul ibunya waktu itu, anak satu-satunya yang disayangi dengan sepenuh hati telah mendatangkan aib bagi keluarganya, keluarga yang hanya dirinya dan anaknya, Lastri. Sebab suaminya, ayah Lastri, telah meninggal sejak Lastri berumur 6 tahun.
Pada hitungan hari kesepuluh sejak pertemuan itu, kenyataan pahit itulah datang. Lastri hamil. Tapi Lastri tak mau cerita pada ibunya sekalipun, hingga ibunya tahu dengan sendirinya. Sungguh terpukul ibunya waktu itu, anak satu-satunya yang disayangi dengan sepenuh hati telah mendatangkan aib bagi keluarganya, keluarga yang hanya dirinya dan anaknya, Lastri. Sebab suaminya, ayah Lastri, telah meninggal sejak Lastri berumur 6 tahun.
Lastri ingin menyesal telah membiarkan cintanya dikuasai nafsu dan menghancurkan hidupnya, namun semuanya telah terjadi. Kenyataan itu terlalu pahit untuk dijalani, dirinya sudah tak ubahnya sampah di mata masyarakat. Hati ibu yang telah susah payah membesarkannya sendirian telah terluka karenanya.
Dengan air mata yang masih mengalir, seiring mentari menguning di ufuk barat, seperti hari-hari sebelumnya Lastri kemudian beranjak pergi ke dalam rumahnya. Jika sejak tadi emperan rumah yang banjir oleh air mata, kini giliran kamarnya yang redup.
Tapi kali ini Lastri tak langsung masuk ke kamarnya. Dari arah pintu ia menuju dapur, baru setelah itu ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.
“Ibu, maafkan aku… aku gagal menjalani hidup ini dengan baik untukmu, untuk diriku sendiri, untuk segalanya” bisik Lastri dengan suara parau. Hening.
ls_creative, 30 Januari 2012
Posted by , Published at 18.55 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar