
Pagi ini sebenarnya hendak kuhatamkan Al-Qur’an yang tinggal satu juz itu. Tetapi memasuki hari ke-29 ini—terhintung sejak tanggal 10 Januari 2010 yang lalu—akan diselenggarakan nobar ceramah salah seorang kiai kondang, dalam rangka menyambut hari kelahiran nabi Muhammad SAW., bacaanku harus terhenti di surat-surat pendek terakhir.
Semua santri pasti sudah bisa menduga bahwa ceramah tersebut tentang maulid nabi, tidak terkecuali aku. Ceramah yang pasti menggugah jiwa. Jika tidak, tak mungkin sampai akan ditontonkan pada dua ratus lebih santri.
Acara nobar dimulai. Tampaknya video itu sudah dimodifikasi, ada sekelumit tayangan yang membawa nama Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lubangsa Selatan. Rupanya pengajian itu sangatlah sederhana, tampak seorang kiai duduk di atas sebuah kursi yang biasa dipasang di ruang-ruang tamu rumah, sementara jamaahnya duduk bersila di lantai yang dihampari karpet. Sepertinya di beranda rumah.
Kiai itu kulihat memegang kitab Barzanji yang biasa digunakan dalam acara-acara maulid. Dia menyebutkan bahwa dalam kita itu sebenarnya banyak ragam karangan yang disusun oleh pengarang yang berbeda. Barzanji, Attiba’ie, Burdah, …, dan sebagainya. Kiai itu kemudian mengutip salah satu isi kitab itu, satu kisah yang diharapkan dapat menggugah jiwa.
Abdul Wahid bin Ismil bercerita bahwa di Mesir ada satu orang yang selalu mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW., sedangkan di samping rumahnya terdapat satu tetangga yang beragama Yahudi.
"Mas, tetangga itu kok setiap tahun mengadakan selamatan, selamatan apa ya?” tanya sang istri yahudi ketika berada di atas tempat tidur.
“Dik, tetangga kita itu beragama Islam, dalam keyakinannya pada bulan ini nabinya lahir. Oleh sebab itu ia mengeluarkan sebagian hartanya untuk merayakan atau memperingati kelahiran tersebut” terang sang suami.
Sepasang suami-istri itu benar-benar sudah terlelap. sang istri tiba-tiba melihat dalam tidurnya, seorang yang sangat tampan dan penuh dengan cahaya kewibawaan, serta banyak yang mengiringi. Karena penasaran, sang istri yahudi tersebut terus mengikuti di belakang rombongan yang mengiringi kemana dia pergi. Ternyata orang itu masuk ke dalam rumah tetangga yang setiap tahun mengadakan selamatan itu.
“Siapa orang tampan di depan itu?” tanya sang istri yahudi pada salah seorang yang hadir di paling belakang.
“Itu nabi muhammad”
“Kok masuk ke rumah itu, kenapa?”
“Kamu tahu? Tetangga kamu itu setiap tahun mengadakan selamatan karena merasa bahagia dengan kelahiran nabi muhammad. Oleh sebab itu beliau datang untuk menghadiri selamatan kelahirannya” mulai tertanam rasa simpati dalam hati sang istri yahudi 'begitu perhatiannya dia pada umatnya'.
Man ra'aa wajhaka yas'ad.
”Mungkinkah ia akan menjawab jika saya sapa?”
”Pasti, kenapa tidak?”
Rasa penasaran yang semakin menggebu itu membuat sang istri yahudi maju ke depan, hingga tepat berada di hadapan nabi Muhammad, kemudian berkata
”Ya, Muhammad!”
”Iya, Bu, ada apa?”
Sang istri yahudi gemetar di depan pintu seorang muslim itu, tempat ia mencegat nabi Muhammad. Panggilan kasar yang ia lontarkan di tengah-tengah orang yang hadir dan para sahabat yang tengah mengagung-agungkannya, ternyata disambutnya dengan jawaban yang sangat sopan.
”Anda menjawab panggilan saya yang kasar dengan begitu sopan, padahal saya ini musuh anda,” dalam fikirannya ia menduga bahwa dia tidak akan menjawab.
”Iya, Bu, sebenarnya saya tidak akan menjawab kalau dipanggil anda, karena anda orang kafir. Tapi demi Allah, saya tahu bahwa hati anda telah biberi petunjuk oleh Allah dengan perantara melihat saya, hanya saja anda belum mengucapkan kalimat syahadat”
Sang istri yahudi semakin terpana. Orang setampan, sewibawa dan seperhatian itu ternyata juga mengetahui isi hatinya. Kepercayaan itu semakin teguh dalam dadanya.
”Anda benar-benar utusan yang diceritakan memiliki tatakrama yang mulia, saya percaya sekarang. Saksikanlah! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan anda adalah utusan Allah” sambil menunjuk nabi muhammad dengan jari telunjuknya, perempuan gemetar meneteskan air matanya dalam sujudnya. Nabi Muhammad tersenyum dan bersyukur kepada Allah atas hidayah yang baru saja Ia curahkan pada salah satu hambanya.
Sang istri yahudi pun bangun dari tidurnya. Petualangan yang baru saja ia lalui itu masih sangat jelas membekas dalam jiwanya, termasuk cahaya yang terpancar dari wajah seseorang yang baru saja menggetarkan jiwanya.
”Allah....” berulangkali ia ucapkan kalimat itu. Diam-diam terselit keinginan untuk mengadakan selamatan.
”Dik, saya ingin mengadakan selamata”
”Selamatan apa? Saya belum hamil, mas!”
”Bukan selamatan kehamilan”
”Lantas untuk apa?”
”Saya ingin mengadakan selamatan karena kamu sudah masuk Islam”
Perempuan yang masih cukup elok parasnya itu terkejut. Ia ingat, dua kalimat syahadat ia ucapkan tanpa sepengetahuan siapapun, hanya Allah, dirinya dan Rasulullah yang tahu perihal keislamannya itu.
”Dari mana mas tahu?”
”Rasulullah yang memberitahuku. Aku bermimpi bertemu dengan seseorang yang yang sangat tampan dan penuh dengan cahaya kewibawaan, serta banyak yang mengiringi perjalanannya. Dia masuk ke rumah tetangga yang selalu mengadakan selamatan setiap tahun itu. Dia ….”
“Sama dengan yang kualami” batinnya.
“Tetangga yang satu itu kita undang pertama kali, ya mas? Ini merupakan letisan berkah dari selamatan yang rutin ia selenggarakan itu”
“Jika perlu, semua orang kita undang. Selamatan ini adalah wujud dari rasa bahagia kita atas anugerah yang Allah curahkan. Rasa cinta pada seseorang yang sangat mengagumkan ini merupakan nikmat yang sangat besar.
Air mataku menggenangi rasa haru dalam dada, dan kerinduan yang telah sekian lama membentang. Kutinggalkan mushalla meski pengajian itu belum selesai. Tiba-tiba ada bisikan dari balik dinding hati, bagaimana mesti kuwujudkan rasa syukurku ini? Peringatan-peringatan maulid nabi yang hampir semua orang melaksanakannya itu kini seperti hanya formalitas tradisi keislaman belaka.
Man ra'aa wajhaka yas'ad.
Kullu man filkauni hamu, wasytiyaquw wa haninu
Fi ma’anikal anamu, qad tabaddat hairina
Guluk-Guluk, Rabi’ul Awwal 1432 H.
Semua santri pasti sudah bisa menduga bahwa ceramah tersebut tentang maulid nabi, tidak terkecuali aku. Ceramah yang pasti menggugah jiwa. Jika tidak, tak mungkin sampai akan ditontonkan pada dua ratus lebih santri.
Acara nobar dimulai. Tampaknya video itu sudah dimodifikasi, ada sekelumit tayangan yang membawa nama Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lubangsa Selatan. Rupanya pengajian itu sangatlah sederhana, tampak seorang kiai duduk di atas sebuah kursi yang biasa dipasang di ruang-ruang tamu rumah, sementara jamaahnya duduk bersila di lantai yang dihampari karpet. Sepertinya di beranda rumah.
Kiai itu kulihat memegang kitab Barzanji yang biasa digunakan dalam acara-acara maulid. Dia menyebutkan bahwa dalam kita itu sebenarnya banyak ragam karangan yang disusun oleh pengarang yang berbeda. Barzanji, Attiba’ie, Burdah, …, dan sebagainya. Kiai itu kemudian mengutip salah satu isi kitab itu, satu kisah yang diharapkan dapat menggugah jiwa.
Abdul Wahid bin Ismil bercerita bahwa di Mesir ada satu orang yang selalu mengadakan peringatan maulid nabi Muhammad SAW., sedangkan di samping rumahnya terdapat satu tetangga yang beragama Yahudi.
"Mas, tetangga itu kok setiap tahun mengadakan selamatan, selamatan apa ya?” tanya sang istri yahudi ketika berada di atas tempat tidur.
“Dik, tetangga kita itu beragama Islam, dalam keyakinannya pada bulan ini nabinya lahir. Oleh sebab itu ia mengeluarkan sebagian hartanya untuk merayakan atau memperingati kelahiran tersebut” terang sang suami.
Sepasang suami-istri itu benar-benar sudah terlelap. sang istri tiba-tiba melihat dalam tidurnya, seorang yang sangat tampan dan penuh dengan cahaya kewibawaan, serta banyak yang mengiringi. Karena penasaran, sang istri yahudi tersebut terus mengikuti di belakang rombongan yang mengiringi kemana dia pergi. Ternyata orang itu masuk ke dalam rumah tetangga yang setiap tahun mengadakan selamatan itu.
“Siapa orang tampan di depan itu?” tanya sang istri yahudi pada salah seorang yang hadir di paling belakang.
“Itu nabi muhammad”
“Kok masuk ke rumah itu, kenapa?”
“Kamu tahu? Tetangga kamu itu setiap tahun mengadakan selamatan karena merasa bahagia dengan kelahiran nabi muhammad. Oleh sebab itu beliau datang untuk menghadiri selamatan kelahirannya” mulai tertanam rasa simpati dalam hati sang istri yahudi 'begitu perhatiannya dia pada umatnya'.
Man ra'aa wajhaka yas'ad.
”Mungkinkah ia akan menjawab jika saya sapa?”
”Pasti, kenapa tidak?”
Rasa penasaran yang semakin menggebu itu membuat sang istri yahudi maju ke depan, hingga tepat berada di hadapan nabi Muhammad, kemudian berkata
”Ya, Muhammad!”
”Iya, Bu, ada apa?”
Sang istri yahudi gemetar di depan pintu seorang muslim itu, tempat ia mencegat nabi Muhammad. Panggilan kasar yang ia lontarkan di tengah-tengah orang yang hadir dan para sahabat yang tengah mengagung-agungkannya, ternyata disambutnya dengan jawaban yang sangat sopan.
”Anda menjawab panggilan saya yang kasar dengan begitu sopan, padahal saya ini musuh anda,” dalam fikirannya ia menduga bahwa dia tidak akan menjawab.
”Iya, Bu, sebenarnya saya tidak akan menjawab kalau dipanggil anda, karena anda orang kafir. Tapi demi Allah, saya tahu bahwa hati anda telah biberi petunjuk oleh Allah dengan perantara melihat saya, hanya saja anda belum mengucapkan kalimat syahadat”
Sang istri yahudi semakin terpana. Orang setampan, sewibawa dan seperhatian itu ternyata juga mengetahui isi hatinya. Kepercayaan itu semakin teguh dalam dadanya.
”Anda benar-benar utusan yang diceritakan memiliki tatakrama yang mulia, saya percaya sekarang. Saksikanlah! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan anda adalah utusan Allah” sambil menunjuk nabi muhammad dengan jari telunjuknya, perempuan gemetar meneteskan air matanya dalam sujudnya. Nabi Muhammad tersenyum dan bersyukur kepada Allah atas hidayah yang baru saja Ia curahkan pada salah satu hambanya.
Sang istri yahudi pun bangun dari tidurnya. Petualangan yang baru saja ia lalui itu masih sangat jelas membekas dalam jiwanya, termasuk cahaya yang terpancar dari wajah seseorang yang baru saja menggetarkan jiwanya.
”Allah....” berulangkali ia ucapkan kalimat itu. Diam-diam terselit keinginan untuk mengadakan selamatan.
”Dik, saya ingin mengadakan selamata”
”Selamatan apa? Saya belum hamil, mas!”
”Bukan selamatan kehamilan”
”Lantas untuk apa?”
”Saya ingin mengadakan selamatan karena kamu sudah masuk Islam”
Perempuan yang masih cukup elok parasnya itu terkejut. Ia ingat, dua kalimat syahadat ia ucapkan tanpa sepengetahuan siapapun, hanya Allah, dirinya dan Rasulullah yang tahu perihal keislamannya itu.
”Dari mana mas tahu?”
”Rasulullah yang memberitahuku. Aku bermimpi bertemu dengan seseorang yang yang sangat tampan dan penuh dengan cahaya kewibawaan, serta banyak yang mengiringi perjalanannya. Dia masuk ke rumah tetangga yang selalu mengadakan selamatan setiap tahun itu. Dia ….”
“Sama dengan yang kualami” batinnya.
“Tetangga yang satu itu kita undang pertama kali, ya mas? Ini merupakan letisan berkah dari selamatan yang rutin ia selenggarakan itu”
“Jika perlu, semua orang kita undang. Selamatan ini adalah wujud dari rasa bahagia kita atas anugerah yang Allah curahkan. Rasa cinta pada seseorang yang sangat mengagumkan ini merupakan nikmat yang sangat besar.
Air mataku menggenangi rasa haru dalam dada, dan kerinduan yang telah sekian lama membentang. Kutinggalkan mushalla meski pengajian itu belum selesai. Tiba-tiba ada bisikan dari balik dinding hati, bagaimana mesti kuwujudkan rasa syukurku ini? Peringatan-peringatan maulid nabi yang hampir semua orang melaksanakannya itu kini seperti hanya formalitas tradisi keislaman belaka.
Man ra'aa wajhaka yas'ad.
Kullu man filkauni hamu, wasytiyaquw wa haninu
Fi ma’anikal anamu, qad tabaddat hairina
Guluk-Guluk, Rabi’ul Awwal 1432 H.
Posted by , Published at 05.59 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar