Sarjana

Sarjana


Pagi datang terburu-buru mengusir sisa embun di jujug dedaunan. Pendar mentari membangunkan burung-burung dari tidur lelap sepanjang malam. Udara segar yang terasa tanpa kehadiran nyatanya memberikan banyak harapan pada hati-hati yang kering, untuk kembali mengukir kerangka senyum yang akan menebar semerbak wangi bunga setaman.


Kehidupan di bawah matahari dimulai, tentu berbeda dengan kehidupan di bawah rembulan. Kehidupan bersama matahari lebih keras dan rumit meski nyaris tak ada ruang gelap, sementara bersama rembulan terasa lebih akrab dan lembut walau terang yang diberikan tak sampai memperlihatkan lubang jarum. Ada yang bilang bahwa malam adalah kehidupan mimpi-mimpi, dan siang adalah kenyataannya. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa malam adalah tempat peristirahatan, sedangkan siang adalah tempat bekerja untuk menghidupi kehidupan.


Matahari naik perlahan, meninggalkan bumi kian jauh. Sinarnya pun terus bertambah sedikit demi sedikit, menghapus keraguan tantang kepergian malam yang penuh dengan kegelapan. Sementara itu, batinku semakin tegang dan gugup. Sebentar lagi kenyataan yang sebenarnya belum sanggup untuk kuhadapi itu akan segera kumiliki dan bertengger di belakang namaku. Kenyataan itu, akan merubah hidupku di mata orang-orang, terutama bagi mereka yang tidak terlalu paham tentang hal itu. Bagi mereka, perubahan status harus bisa merubah kehidupan dirinya dan orang lain, harus! Inilah yang mereka pahami sebagai guna dari perubahan status seseorang. Pemahaman yang tergelincir. Perbuatan merubah hidup bagi mereka adalah meningkatnya ekonomi; harus punya kerja yang bisa menghasilkan uang, minimal ngajar.


Di bawah matahari tanpa awan ini aku masih bingung bagaimana mesti menentukan perasaanku sendiri. Di satu sisi aku bahagia karena akhirnya aku bisa menyelesaikan masa study ini. Namun di sisi yang lain aku justru sedih, sebab hingga kini aku masih belum punya pekerjaan. Bagi orang-orang, sekolah setinggi ini sungguh sia-sia jika akhirnya tidak bisa mendapatkan penghasilan tetap. Orang-orang yang agak kasar pun kemudian akan mengatakan bahwa selama ini aku hanya bisa menghabiskan harta orang tua. Ketika sudah begitu, pastilah aku akan dibanding-bandingkan dengan orang-orang yang menurut mereka 'sukses' hanya karena setelah selesai kuliyah mereka memiliki penghasilan sendiri. Padahal jika direnungkan lebih dalam lagi, kesuksesan tidak hanya diukur dari materi. Ah! Aku tak mau menyalahkan mereka, sebab ini bukanlah semata-mata salah mereka. Mereka telah diracuni angin kapitalisme.


Dulu pernah kucoba merasakan gemuruh dalam hati mereka yang tengah berada di ambang pintu kenyataan seperti yang kutatap saat ini. Sepertinya mereka juga ragu-ragu untuk tersenyum. Jika ternyata nanti hanya menambah banyak jumlah pengangguran di desa, betapa pedas sindiran orang-orang. Jika ternyata nanti mereka hanya sama dengan mereka yang tidak sekolah sepertinya, sungguh kecut senyum orang-orang menjumpainya. Kini aku benar-benar merasakannya. Kufikir apa yang aku rasakan ini tidaklah jauh berbeda dengan praduga rasa itu. Aku benar-benar tahu betapa bingungnya berada dalam situasi seperti ini.


Orang-orang mulai berdatangan. Ada yang mengendarai mobil, ada yang naik motor, ada pula yang jalan kaki. Suasana kian sesak dan pengap. Halaman yang tak begitu luas itu pun seperti dilanda banjir manusia. Ketegangan dalam dadaku kian memuncak. Betapa besar pengharapan mereka padaku.


Aku dan orang-orang yang senasib mulai diarak menuju aula, semua orang berusaha melihat dimana orang yang membuat mereka datang ke tempat ini, sebab hanya saat itulah kesempatan mereka untuk melihat kami. Di dalam aula hanya dua orang anggota keluarga yang bisa duduk di kursi menyaksikan prosesi penaubatan sarjana hingga selesai. Selebihnya, mereka hanya bisa setia menunggu di luar sambil berbelanja apa saja yang diinginkan. Ya, momentum seperti ini memang selalu menjadi lahan empuk para pedagang kaki lima, bahkan tidak sedikit diantara mereka hanyalah pedagang dadakan.


“Selamat, ya!”


Entah berapa kali kudapatkan kalimat itu dari orang-orang aku tak lagi menghitung. Di tengah Sinar matahari yang tak lagi mengisyaratkan pagi, semua orang merayakan perubahan status itu. Namun entah mengapa hatiku masih terasa hambar. Dalam benakku terbayang hari esok yang masih sangat kuhawatirkan, tentang bagaimana orang-orang melihat dan menganggapku, mengharuskan aku seperti yang mereka persepsikan sekaligus mereka harapkan.


Pagi benar-benar telah hangus. Tiba-tiba aku teringat kakak sepupu di rumah yang kini sudah ngajar dan menjadi PNS, dia dapatkan semua itu setelah statusnya sudah menjadi seperti yang baru saja kuperoleh ini. Kemudian teringat pula tetangga jauh yang setelah lulus dulu ia hanya menjadi bayang-bayang masyarakat hingga saat ini.


“Bagaimana denganku?”


Lubsel; Guluk-Guluk, Februari 2011




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 06.13 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: