
Saat ini aku menulis, bertintakan cahaya remang Rembulan. Meski sebenarnya aku belum tahu apa yang akan kuuraikan, namun kubulatkan saja keputusan untuk memulai. Meski hanya sebatas keberanian hambar yang kumiliki, tapi aku benar-benar percaya dengan satu ungkapan yang pernah kudapatkan di salah satu sudut halaman media massa, “Jika kita melakukan apa yang kita bisa, maka Tuhan akan mengerjakan apa yang tidak bisa kita lakukan”.
Rembulan—entah tanggal berapa—ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan purnama, bundar dan bercahaya lembut. Namun entah mengapa hanya purnama yang selalu didamba. Selain purnama, tak ada yang sampai rela meninggalkan selimut dan bantal hangat di atas ranjang kamar, tak ada yang rela beratapkan langit telanjang sepanjang malam.
Mungkinkah hanya karena popularitas dan kharisma lebih yang diwariskan budaya secara turun-temurun melalui dongeng-dongeng ludah, tinta, angin dan lain sebagainya? Ataukah memang purnamalah yang merajai Rembulan segala malam? Ada yang bilang, purnama itu adalah jelmaan seorang dewi, benarkah? Sepertinya semua itu tidak akan pernah berhenti menjadi tanya bisu.
***
Sejak kecil aku sudah menyukai terang Rembulan, entah itu purnama atau bukan, aku tak tahu, karena memang waktu itu aku masih belum mengenalnya. Setiap malam—tepatnya satu malam—berbulan bundar dan terang, selalu saja kupinta Bunda tercinta untuk menemaniku tidur di bawah Rembulan hingga terlelap, dan setelah itu, mungkin karena kasih megahnya yang hawatir melihat tubuh kurusku demam tatkala fajar menyembul, aku digendong masuk rumah. Tak pernah kudengar kata ’tidak’ atau ’jangan’. Setiap kali kupinta, sambil menyungging senyum tenang Bunda lantas menghampar tikar lusuh di halaman rumah, lengkap dengan selimut sarung dan bantal kumal untukku, putera satu-satunya.
Ketika usiaku menginjak remaja, aku tak lagi tidur bersama Bunda, tapi dimana atau dengan siapapun aku mau. Mulailah kukenali purnama, bulan sabit, gerhana dan sebagainya, semua itu tanpa Bunda. Aku pun tahu bahwa bundaran putih yang selalu kutunggui bersama Bunda itu adalah purnama. Kadang di pinggir sungai, jalan setapak yang dihimpit sawah-sawah, halaman sekolah, kadang pula kunikmati dari celah dedaunan di atas dahan dan rerantingan. Terkadang bersama sejuta nestapa yang kumiliki, kadang pula seiring senyum yang bermekaran dalam hatiku. Kuterawang purnama dalam setiap kesendirian waktu, dan terkadang kurasakan bahwa purnama seperti hanya milikku. Jika masa kecilku hanya menikmati malam-malam purnama sebelum terlelap, nyaris tak pernah kulewatkan sejengkalpun malam-malam itu di usia remajaku. Walau tak pernah kudapatkan apa-apa selain torehan kata-kata, namun entah mengapa aku masih sanggup bertahan, mempertahankan kebiasaan yang pernah kubangun bersama Bunda tercinta.
Dulu pernah kutulis rangkaian kata di bawah salah satu malam kesempurnaan rembulan
”Sungguh bahagia rembulan malam ini. Untuk yang kesekian kalinya ia dapatkan satu perkenan kesempatan untuk tersenyum tulus, menjadi diri sendiri sebagai bagian dari salah satu mata rantai permata penghias malam, menjadi purnama utuh yang didamba selalu. Itulah rembulan, kehadirannya amat berarti dan kepergiannya selalu melahirkan rasa kehilangan yang dalam. Ah, sepertinya aku paham, semua itu ia dapatkan karena ia selalu mencoba dan terus berusha percaya untuk menjadi dirinya sendiri. Pantang baginya meninggalkan diri sendiri, apapun yang terjadi.”
Kini aku sudah dewasa, sudah cukup dalam menyelami hidup, sudah banyak mendapatkan pelajaran dari purnama, termasuk untuk selalu mengurai kehidupan ini dengan sedetail-detailnya. Kesempatan yang datang satu kali dalam sebulan itu memang kuputuskan sebulat-bulatnya untuk selalu menyertainya, untuk tetap menjaga satu kenangan indah yang pernah kudapatkan bersama Bunda tercinta.
Tapi pada purnama yang kesekian kalinya ini aku lalai. Tiba-tiba kusadari purnama telah usai. Sungguh begitu besar kecewaku pada diri sendiri, membiarkan kesempatan langka untuk bersama purnama berlalu begitu saja. Tapi kucoba menghibur diri, bahwa sejatinya nurani ini merasakan kehadiran purnama itu kemaren, hanya saja ketidak tahuan pasti itulah yang membuatku tidak menikmati purnama dengan sadar. Pada malam ketidak tahuanku akan kehadiran purnama itu, tiba-tiba aku termenung di hadapannya.
Namun walau bagaimanapun penyesalan ini tak bisa kuelakkan, karena seharusnya dapat kunikmati purnama itu dengan segala ruas jiwa dan ragaku.
***
Rembulan masih bundar kusaksikan, menaburkan cahaya terang dan lembut. Awan yang terkadang berarak menyelimutinya pun kini benar-benar tak ada sedikitpun. Seperti malam-malam kebersamaan lainnya, malam ini senyumku merekah lepas, seakan melepas segala beban kerumitan hidup untuk sesaat. Kupejamkan kesunyian tenang batinku, kemudian menuangkan semuanya di atas halaman-halaman yang cukup lama menunggu.
Tapi aneh, terselip sehelai kehambaran di tengah-tengah semua itu, pada salah satu sudut sunyi hatiku. Segala yang kudapatkan malam ini sama sekali berbeda ketika kulakukan itu di bawah purnama. Damai hatiku tak secerah ketika di bawah purnama. Rembulan ini terasa asing bagi hatiku.
Kurenungkan khusukku dalam sunyi, mencari satu titik merah yang mengaitkanku dengan purnama. Kebersamaan waktu dan kesadaranku seperti tak boleh terlepas dari purnama.
Tiba-tiba aku teringat Bunda di masa kecilku dulu.
“Mungkinkah purnama itu adalah Bunda dan kasih sayangnya?”
Guluk-Guluk, Oktober 2010



Tidak ada komentar:
Posting Komentar