
Kira-kira sudah empat tahun usiaku kini, terhitung sejak aku terlahir sebagai seorang yang bernafaskan kata-kata. Banyak sekali rasa kucecap, mulai dari yang sangat nikmat hingga yang nyaris tak mampu kujelaskan betapa pahitnya. Kira-kira apa yang aku alami tidaklah jauh berbeda dari orang-orang yang juga berjalan di atas kertas melalui warna tinta, mulai dari hasrat yang membuncah-buncah sampai pada rasa putus semangat yang sepertinya memutus segalanya. Jika mereka bercerita pernah dilecehkan dengan sedemikian tajamnya, pernah berniat untuk benar-benar berhenti menulis, pernah juga memiliki rasa yang begitu istimewa melibihi segalanya.
Jika disuruh bercerita mengenai proses awal karakter kepenulisan, siapapun akan sangat tergugah untuk segera menguraikannya dengan berapi-api. Pengalaman menulis bagiku sama halnya dengan pengalaman jatuh cinta, begitu indah dan berkesan. Cerita awal percintaan sangatlah sulit dilupakan, ia melekat kuat dalam ingatan tanpa harus susah payah dihafal dan dihati. Siapapun akan dengan mudah menguasainya, nyaris sanggup dituangkan sempurna saat diceritakan.
Dulu aku begitu jauh dengan aktifitas menulis. Aku menulis hanya jika ada tuntutan tugas sekolah dan yang lainnya, sama sekali bukan karena kreatifitas. Barulah sejak seseorang yang sangat berarti dalam hidupku pergi, semilir angin kemudian menggiringku ke ruang kepenulisan, angin yang merubah hidupku nyaris sepenuhnya. Sebab sejak saat itu keperibadianku kian teguh dan kokoh.
Masih kuingat waktu itu aku didera kegelisahan yang nyaris tak bertepi, mengingat surat-suratku yang tak lagi dibalas. Jalinannya hanya sebatas sahabat atau saudara, tapi kedekatannya tidak kalah akrab dan mesra dari hubungan cinta. Begitu besar perhatian kudapatkan dari jalinan sederhana itu, hingga nyaris hidupku tak pernah luput dari perhatiannya sedikitpun. Namun perhatian itu pun musnah dari sisiku, mengakhiri segala kebahagiaan dalam hari-hariku. Perhatian itu pergi tatkala mulai tumbuh benih cahaya hijau dalam hatiku. Dari situlah hari-hari kurasakan begitu hampa dan suram, bahkan sesekali muncul perasaan sia-sia dalam kehidupan. Meski demikian, di satu sisi aku tak ingin musnah hanya karena nestapa yang mengakhiri cerita hidupku itu, aku ingin tetap hidup seperti yang aku inginkan. Dari sinilah sejarah hidup kepenulisanku dimulai, saat jejalan kebingungan memenuhi jiwaku, seseorang tiba-tiba menawarkan jalan untuk ketuangkan kegelisahan-kegelisahan itu. Tidak lagi menulis surat untuknya, melainkan menulis untuk sesuatu yang lebih berarti, yaitu karya tulis.
Awalnya aku berkarya hanya sebagai pelarian saja, menuangkan kegelisahan hatiku. Namun saat aku mulai terbiasa dengan aktifitas menulis itu, tiba-tiba muncul perasaan cinta. Ya, aku jatuh cinta lagi pada salah satu ruas kehidupan, menulis.
Menulis adalah salah satu jalan hidup yang juga memiliki arti dan misteri tersendiri. Begitu sulit memulainya. Namun kalau sudah berhasil masuk dalam kehidupan itu, dengan sendiri akan muncul perasaan cinta.
Ujung Jalan Sunyi, Maret 2011
Dulu aku begitu jauh dengan aktifitas menulis. Aku menulis hanya jika ada tuntutan tugas sekolah dan yang lainnya, sama sekali bukan karena kreatifitas. Barulah sejak seseorang yang sangat berarti dalam hidupku pergi, semilir angin kemudian menggiringku ke ruang kepenulisan, angin yang merubah hidupku nyaris sepenuhnya. Sebab sejak saat itu keperibadianku kian teguh dan kokoh.
Masih kuingat waktu itu aku didera kegelisahan yang nyaris tak bertepi, mengingat surat-suratku yang tak lagi dibalas. Jalinannya hanya sebatas sahabat atau saudara, tapi kedekatannya tidak kalah akrab dan mesra dari hubungan cinta. Begitu besar perhatian kudapatkan dari jalinan sederhana itu, hingga nyaris hidupku tak pernah luput dari perhatiannya sedikitpun. Namun perhatian itu pun musnah dari sisiku, mengakhiri segala kebahagiaan dalam hari-hariku. Perhatian itu pergi tatkala mulai tumbuh benih cahaya hijau dalam hatiku. Dari situlah hari-hari kurasakan begitu hampa dan suram, bahkan sesekali muncul perasaan sia-sia dalam kehidupan. Meski demikian, di satu sisi aku tak ingin musnah hanya karena nestapa yang mengakhiri cerita hidupku itu, aku ingin tetap hidup seperti yang aku inginkan. Dari sinilah sejarah hidup kepenulisanku dimulai, saat jejalan kebingungan memenuhi jiwaku, seseorang tiba-tiba menawarkan jalan untuk ketuangkan kegelisahan-kegelisahan itu. Tidak lagi menulis surat untuknya, melainkan menulis untuk sesuatu yang lebih berarti, yaitu karya tulis.
Awalnya aku berkarya hanya sebagai pelarian saja, menuangkan kegelisahan hatiku. Namun saat aku mulai terbiasa dengan aktifitas menulis itu, tiba-tiba muncul perasaan cinta. Ya, aku jatuh cinta lagi pada salah satu ruas kehidupan, menulis.
Menulis adalah salah satu jalan hidup yang juga memiliki arti dan misteri tersendiri. Begitu sulit memulainya. Namun kalau sudah berhasil masuk dalam kehidupan itu, dengan sendiri akan muncul perasaan cinta.
Ujung Jalan Sunyi, Maret 2011
Posted by , Published at 07.04 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar