
Pagi terbentang sempurna meski sudah tak lagi riuh dengan obrolan burung-burung seperti dulu, walau tanpa suasana sederhana keindahan. Rumah-rumah ditanam melampaui jejalan pepohonan ridang dan indah, suara-suara angkuh bertalu-talu mencemari kejernihan udara menyejukkan. Dunia kian asing dari keelokan parasnya sendiri.
Kulangkahkan kaki tanpa skema, menghampiri nafas masa terakhir perjalanan akademik yang cukup panjang dan letih kutunggui untuk selesai. Sangat terburu-buru kuselesaikan persiapannya, tapi masih sempat kutikam bagian tubuhku dengan tanganku sendiri. “Ah! Ternyata hanya tanda tangan.” Kenyataan yang kutemui ini tanpa terduga sebelumnya. Sebenarnya tak mudah kuterima begitu saja, namun kucoba segera menguasai diri, kutenangkan gejolak di atas satu-satunya kursi yang terdiam sepi. Tidak pantas menyesali diri atau bahkan menyalahkan orang lain hanya karena kelalaian diri untuk melakukannya, apalagi persoalannya hanya secoret tanda tangan yang sebenarnya sudah selesai dengan datang dan memintanya.
Tiba-tiba kudapati kesadaran tengah menikmati tubuh-tubuh tanggung berseragam cokelat, lengkap dengan aksesorisnya. Mereka berbaris gagah di belakang benang merah yang memanjang lurus dan kuat. Rapi dan sepi. Kutatap wajahnya satu persatu, sepertinya bingung antara riang dan bosan dengan seremonial formalitas yang serba harus. Kucoba menerka kata-kata yang mereka sembunyikan di balik dinding hati masing-masing, tapi segera kuurungkan. Terlalu banyak resiko yang membayang, juga perhitungan manfaat yang kudapatkan dari perbuatan mengada-ada itu—meski tidak menutup kemungkinan begitulah adanya.
Kuputuskan meninggalkan mereka dan masuk ke ruang perpustakaan di sebelah utara, meski tidak begitu jauh, tapi masih harus dilalui dengan berputar cukup panjang untuk meraih pintu. Aku tak tahu apa yang hendak kucari dan kubaca, hanya terbayang karangan panjang dan rumit itu, salah satu proses wajib akademik di bagian akhir. Suasananya nyaman, namun aku hanya membuka halaman demi halaman dengan cepat dan tanpa gairah. Entah sudah berapa buku yang kujamah, tapi tak satupun kunikmati kata-katanya.
Suasana kemudian berubah begitu saja, dibentur suara-suara yang tercipta dari luar ruangan. Diamku mulai kacau, kutarik tubuh menghampiri suara-suara itu, duduk tak begitu jauh, tampaknya jauh berbeda denga rasa sebelumnya yang kudapatkan. Kali ini lebih lepas meski tetap saja tidaklah bebas begitu saja. Nuraniku berbisik, ternyata salah satu sudut ruang belenggu itu juga menyisakan tempat untuk berkreasi menjadi diri sendiri dan bagain dari kelompok. Suasana itu cukup untuk membuat senyum tipisku merekah meski tak manis.
Kesendirian kemudian tampak lebih cerah dan bergairah, kuayun kaki selangkah lebih maju kedepan, perihal tuntutan akademik formal itu walau masih hambar terasa. Kulangkahkan kaki di tanah yang kulalui di awal pagi itu, masih tanpa kesadaran kecuali sedikit saja. Beberapa langkah lagi selesai. Seorang perempuan yang tak sanggup kukenali warna wajah dan pakaiannya tiba-tiba mengagetkanku, bertutur sapa seolah pernah begitu akrab denganku. Sontak sikapku kebingungan bagaimana mesti berujud. Ingin kupastikan keakraban tiba-tiba itu, sayang waktu dan ruang sama-sama dikikis laju langkah masing-masing.
Wajah dan namanya sama sekali asing dalam ingatanku, tapi mengapa ia tahu namaku dengan begitu akrab? Entahlah! Kini aku justeru penasaran perihal identitasnya. Siapa dia sebenarnya? Berkali-berkali kuputar ingatan-ingatan masa lalu hingga hari ini, namun tatap saja gelap.
Begitu mudahnnya ia kenali aku, hingga sepertinya sampai pada kebiasaan-kebiasaan sikapku yang sedikit tak sopan dalam setiap perjumpaan di tengah jalan. Haruskah kutanyakan langsung padanya? Siapa namanya dan pernahkah terjadi keakraban antara aku dengannya? Oh tidak! Ini hanya akan menyinggung perasaannya. Mungkin saja kita pernah saling kenal dan bertegur sapa dulu, hanya saja semua itu telah benar-benar hilang dari hidupku, atau barangkali ia telah lama mengenalku tanpa kuketahui.
Ah! Warna yang cukup menghibur. Karenanya ingatanku mulai berdiri meski tak jua tegak. Paling tidak itu sedikit membantu usahaku untuk terlepas dari belenggu keletihan yang mulai menjerat nurani ini.
***
Separuh perjalanan hari, tiba-tiba terlintas praduga, mungkin semua itu—ah! Bukan semua, tapi hanya patahnya gairah itu—karena perut lapar yang kurasakan begitu perih. Kuyakinkan akan segera menyelesaikannya. Harus pakai tungku. Kumulai menyalakan api, hujan tiba-tiba menghentak dengan begitu dahsyat. Api yang kutunggui tak jua membakar dengan sangar. Api dan air bukanlah kawan. Api membakar, sedang air memadamkan dan menghanyutkan. Keduanya begitu asing dalam kehidupan masing-masing.
Kutabahkan api sepanjang guyur hujan. Cukup tersiksa tapi apa boleh buat, hanya inilah yang mampu kulakukan. Detik-detik terakhir, hujan mulai reda, apiku kian bersemangat. Saat sempurna selesai, hujan benar-benar habis, maka selesai pulalah penderitaanku. Langit hatiku kembali bersinar di antara jejalan pohon-pohon imajinasi yang begitu beragam. Kunikmati sedalam-dalamnya. Ah! Tapi tetap saja orang yang tak kukenali itu masih menjadi pertanyaan dalam hatiku.
O, bagian dalam sedikit banyak dipengaruhi bagian luar, demikian sebaliknya.
Suasana hati banyak tergantung kondisi tubuh, demikian sebaliknya.
Hidup merupakan satu kesatuan yang saling terkait.
Guluk-Guluk ls, Mei 2010
Posted by , Published at 01.33 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar