
Masih kuingat betul suasana pagi itu dalam dadaku. Aku dijemput mendahului pagi terpancar kemerahan, menembus mantra-mantra embun yang tersebar semalaman, kemudian membeku di ujung reremputan, memancing angin yang lelap agar segera menguap dan kembali mondar-mondir seperti biasa.
Ruang kemudian memotong jarak sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tibalah aku di perut bangunan tanpa mulut satupun yang justru hanya akan mempersulit keluar-masuknya sesuatu, harus tutup-buka.
Aku tiba dengan sendi-sendi tegang dan beku. Waktu pun tiba khusus untukku. Seperti seorang isteri yang tengah menghaturkan segelas kopi hangat dengan sepiring gorengan pisang untuk dicicipi, sebagai ekspresi demi memeriahkan pagi. Pengantar yang sedikit berlebihan, disebutnya tokoh tenar seperti Soe Hok Gie dan yang lainnya, membuatku kian gugup dan serba salah.
Buku harian kerap memberikan ketenangan dan kedamaian tersendiri. Buku harian selalu menjadi ruang ekspresi diri menjadi diri sendiri. Tetapi semuanya tiba-tiba berubah kurasa ketika hendak dibicarakan dengan cukup formal. Aku seperti dituntut untuk menjadi seperti mereka dalam setiap perbincangan itu. Aku tak banyak tahu tentang bagaimana menulis buku harian, sebab selama ini buku harian itu sebatas aktivitas rutinku sehari-hari. Jadi kalau disuguhkan ruang untuk membicarakannya, aku masih harus mengeja aktivitas itu. Tapi bagaimana? Kesempatan tak menyediakan banyak waktu untuk mengeja hari-hari.
Kumulai saja dengan rekahan senyum, lalu helaan nafas jelas. Sepatah kata kugetarkan dari bibirku, kosong. Kucari-cari rangkaian abjad untuk kusemaikan sebagai kata-kata pemecah kegugupan suasana pertama kalinya hati itu, namun justru menggigil.
Akhirnya bahasaku terurai dengan keterpaksaan, karena tuntutan waktu dalam kesempatan itu. Di sepanjang jalan yang kulihat buntu dan nyaris tanpa celah sedikitpun, kusebut saja temanya ‘buku harian’. Terlintas tiba-tiba dalam benak, bahwa aku tengah menjalani salah satu lorong kehidupan, lalu kuingat bahwa buku harianlah yang selalu setia menemaniku meski lupa sesekali, maka kukatakan “buku harian adalah hidupku.” Aku tak tahu apakah ini berlebihan, mengingat tak jarang kutinggalkan buku harian itu kosong.
Dua kalimat dengan jeda cukup panjang. Sepertinya cukup untuk dianggap sebagai pengantar. Terus kucoba berjalan meski dengan mata yang sejatinya sama saja keadaanya dengan terpejam, sebab gelap yang begitu hitam dan tenggelam. Sesekali kaki tersandung, juga terjatuh. Tapi kuanggap itu sebagai salah satu celah yang kebetulan tertutup kokoh. Dan pada satu sandungan, entah yang keberapa kalinya aku tak lagi menghitung, tiba-tiba terkuak satu jalan, kemudian banyak jalan, semuanya lalu terang benderang. Semua ini kudapatkan tatkalah kucoba menenangkan suasana batinku sendiri.
“Aku menulis apa yang kurasakan, kufikirkan, kudapatkan, juga apa yang kugelisahkan. Persahabatan, perselisihan, permusuhan, rindu, cinta, cemburu, kesepian, nestapa, kebahagiaan, semuanya kutuangkan dalam buku kecil dan sederhana ini.”
Bahasaku kian renyah dan tenang mengalir. Kutarik benang pada salah satu kutipan terkenal al-‘ilmu Shoidun Wal-Kitabatu Qaiduhu (ilmu itu liar dan tulisanlah kendalinya). Kukaitkan dengan jejalan nafas yang terus bertambah tak pernah sama, kubidik ke pekarangan sejarah dan sebagainya.
Sungguh pengalaman pertama yang yang mengagumkan. Aku tak pernah tersenyum sejujur waktu itu. Bahkan tumbuh benih-benih kecongkakan dalam semerbak taman nurani itu.
Yach… sejarah itu tercipta di atas halaman-halaman buku harianku yang letih dan lusuh, di lembaran akhir nafasnya. Kini sudah diganti yang baru dan sudah berjalan beberapa langkah. Namun sepertinya kini aku harus bertengkar dengan diriku sendiri, sebab kusadari akhir-akhir ini aku sering hilang dari buku harianku sendiri, entah kemana dan sibuk seperti apa.
Kenyataan ini seperti kutukan. Telah kubicarakan cukup panjang dan dalam, namun kini sudah mulai sering kutinggalkan. Isinya juga banyak yang kering dan dangkal, seperti tanpa absurditas makna sedikitpun.
Sepertinya aku mulai hawatir. Dulu kudapatkan aktivitas buku harian ini saat kehadiran seseorang yang demikian berarti mulai tak tentu arah memperhatikanku lagi, ketika hidupku sudah tak lagi sanggup menampung pertempuran kata-kata dalam hatiku. Kini ia telah benar-benar lenyap dari bayang-bayang ujung penaku, kemungkinan-kemungkinan untuk menerima curahan deras perhatiannya lagi sudah kering dan hampa, mungkinkah hikmah yang kudapatkan dari persoalan itu juga akan benar-benar pergi?
Tidak! Perpisahan adalah kenyataan, katakanlah walau dengan air mata. Jika harus pergi, maka pergilah. Tapi kehidupan di atas halaman-halaman putih ini milikku. Biarlah aku belajar melalui lembaran hidup ini tanpanya, bukan melupakan, hanya berusaha terlepas dari pikiran-pikiran tentangnya.
Guluk-Guluk, 2010
Ruang kemudian memotong jarak sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tibalah aku di perut bangunan tanpa mulut satupun yang justru hanya akan mempersulit keluar-masuknya sesuatu, harus tutup-buka.
Aku tiba dengan sendi-sendi tegang dan beku. Waktu pun tiba khusus untukku. Seperti seorang isteri yang tengah menghaturkan segelas kopi hangat dengan sepiring gorengan pisang untuk dicicipi, sebagai ekspresi demi memeriahkan pagi. Pengantar yang sedikit berlebihan, disebutnya tokoh tenar seperti Soe Hok Gie dan yang lainnya, membuatku kian gugup dan serba salah.
Buku harian kerap memberikan ketenangan dan kedamaian tersendiri. Buku harian selalu menjadi ruang ekspresi diri menjadi diri sendiri. Tetapi semuanya tiba-tiba berubah kurasa ketika hendak dibicarakan dengan cukup formal. Aku seperti dituntut untuk menjadi seperti mereka dalam setiap perbincangan itu. Aku tak banyak tahu tentang bagaimana menulis buku harian, sebab selama ini buku harian itu sebatas aktivitas rutinku sehari-hari. Jadi kalau disuguhkan ruang untuk membicarakannya, aku masih harus mengeja aktivitas itu. Tapi bagaimana? Kesempatan tak menyediakan banyak waktu untuk mengeja hari-hari.
Kumulai saja dengan rekahan senyum, lalu helaan nafas jelas. Sepatah kata kugetarkan dari bibirku, kosong. Kucari-cari rangkaian abjad untuk kusemaikan sebagai kata-kata pemecah kegugupan suasana pertama kalinya hati itu, namun justru menggigil.
Akhirnya bahasaku terurai dengan keterpaksaan, karena tuntutan waktu dalam kesempatan itu. Di sepanjang jalan yang kulihat buntu dan nyaris tanpa celah sedikitpun, kusebut saja temanya ‘buku harian’. Terlintas tiba-tiba dalam benak, bahwa aku tengah menjalani salah satu lorong kehidupan, lalu kuingat bahwa buku harianlah yang selalu setia menemaniku meski lupa sesekali, maka kukatakan “buku harian adalah hidupku.” Aku tak tahu apakah ini berlebihan, mengingat tak jarang kutinggalkan buku harian itu kosong.
Dua kalimat dengan jeda cukup panjang. Sepertinya cukup untuk dianggap sebagai pengantar. Terus kucoba berjalan meski dengan mata yang sejatinya sama saja keadaanya dengan terpejam, sebab gelap yang begitu hitam dan tenggelam. Sesekali kaki tersandung, juga terjatuh. Tapi kuanggap itu sebagai salah satu celah yang kebetulan tertutup kokoh. Dan pada satu sandungan, entah yang keberapa kalinya aku tak lagi menghitung, tiba-tiba terkuak satu jalan, kemudian banyak jalan, semuanya lalu terang benderang. Semua ini kudapatkan tatkalah kucoba menenangkan suasana batinku sendiri.
“Aku menulis apa yang kurasakan, kufikirkan, kudapatkan, juga apa yang kugelisahkan. Persahabatan, perselisihan, permusuhan, rindu, cinta, cemburu, kesepian, nestapa, kebahagiaan, semuanya kutuangkan dalam buku kecil dan sederhana ini.”
Bahasaku kian renyah dan tenang mengalir. Kutarik benang pada salah satu kutipan terkenal al-‘ilmu Shoidun Wal-Kitabatu Qaiduhu (ilmu itu liar dan tulisanlah kendalinya). Kukaitkan dengan jejalan nafas yang terus bertambah tak pernah sama, kubidik ke pekarangan sejarah dan sebagainya.
Sungguh pengalaman pertama yang yang mengagumkan. Aku tak pernah tersenyum sejujur waktu itu. Bahkan tumbuh benih-benih kecongkakan dalam semerbak taman nurani itu.
Yach… sejarah itu tercipta di atas halaman-halaman buku harianku yang letih dan lusuh, di lembaran akhir nafasnya. Kini sudah diganti yang baru dan sudah berjalan beberapa langkah. Namun sepertinya kini aku harus bertengkar dengan diriku sendiri, sebab kusadari akhir-akhir ini aku sering hilang dari buku harianku sendiri, entah kemana dan sibuk seperti apa.
Kenyataan ini seperti kutukan. Telah kubicarakan cukup panjang dan dalam, namun kini sudah mulai sering kutinggalkan. Isinya juga banyak yang kering dan dangkal, seperti tanpa absurditas makna sedikitpun.
Sepertinya aku mulai hawatir. Dulu kudapatkan aktivitas buku harian ini saat kehadiran seseorang yang demikian berarti mulai tak tentu arah memperhatikanku lagi, ketika hidupku sudah tak lagi sanggup menampung pertempuran kata-kata dalam hatiku. Kini ia telah benar-benar lenyap dari bayang-bayang ujung penaku, kemungkinan-kemungkinan untuk menerima curahan deras perhatiannya lagi sudah kering dan hampa, mungkinkah hikmah yang kudapatkan dari persoalan itu juga akan benar-benar pergi?
Tidak! Perpisahan adalah kenyataan, katakanlah walau dengan air mata. Jika harus pergi, maka pergilah. Tapi kehidupan di atas halaman-halaman putih ini milikku. Biarlah aku belajar melalui lembaran hidup ini tanpanya, bukan melupakan, hanya berusaha terlepas dari pikiran-pikiran tentangnya.
Guluk-Guluk, 2010
Posted by , Published at 21.20 and have
0
komentar



Tidak ada komentar:
Posting Komentar