Kedamaian batin adalah anugerah yang tak ada duanya.
Kepandaian, kecerdasan, harta kekayaan, kesuksesan perjuangan, prestasi membanggakan, semuanya sia-sia tanpa sanggup menyejukkan jiwa.
Kebahagian batin ini membuat hidupku mengalir tenang dan sederhana, penuh penghayatan dan cinta kasih. Hidup tak lagi terasa membosankan, seperti yang pernah lama dan panjang menyelimpungku, yang selalu kuharapkan waktu berputar cepat mengitari hari-hari meninggalkan keburaman warna itu.
Hari ini kusaksikan bintang-bintang kecil di langit hatiku yang tengah purnama, menjamah permukaan-permukaan luar dengan kehangatan dan kelembutan. Kusambut setiap uluran tangan yang menjulur ke sisi waktuku dengan berbagai wajah, juga muncratan empedu pada garis-garis nafasku kupahami dan kumaklumi adanya sebagai suatu ketidaksengajaan atau hal lain yang jauh dari kesimpulan dangkal dan pendekku.
Kedamaian batin ini adalah malaikat yang Tuhan utuskan untukku, sebagai jawaban atas permohonan yang kualirkan dalam setiap sujud pasrahku, memohon penjagaan dan bimbingan terhadap setiap getar hatiku, mohon kelapangan jalan taubat serta keselamatan hari ini dan esok, dunia-akhirat. Sebab dalam tahap kesadaranku yang kesekian kalinya waktu itu aku paham bahwa hidupku telah terlalu jauh dari hadirat Tuhan sang pencipta, sujudku hanyalah batu yang cadas, tidak lebih dari sekedar rutinitas dahi menapaki bumi, tak pernah khusyuk memohon dan menyadari kehinaan diri dalam posisi kepala lebih rendah dari pantat yang penuh kotoran bau menjijikkan, juga lapisan permukaan tanah yang kian hari semakin tipis dan dekat pada waktu ia berlubang untuk tubuh.
Dulu hatiku sering bicara sendiri, mengumpat semaunya, nyaris pada setiap gerak tubuh orang lain. Dulu aku juga tak cukup perhatian pada hidupku sendiri, sibuk mengomentari nafas orang lain dalam dada. Aku tak sempat menikamti pengorbanan besar yang kulakukan. Aku tak pernah selesai dengan kegelisahan sia-sia yang kering. Bahkan pernah kusiratkan untuk bersedia mengorbankan nasib hidup keabadianku demi orang lain.
Pada satu pembicaraan santai tanpa topik tertentu di tengah hari bersama seorang teman yang kukenal begitu tenang hidupnya, aku sadar bahwa ternyata selama itu hatiku tengah digerogoti banyak penyakit, getarannya selalu berlebihan dari gerak yang sesungguhnya. Percakapan lebih lanjut kemudian mengilhamiku terapi penyembuhannya, yaitu dengan memantapkan keyakinan. Keyakinan yang teguh akan menyembuhkan penyakit yang mulai menyatu dengan inti nafas hidupku itu, begitulah kira-kira pemahaman yang kuperoleh. Lebih jauh lagi, aku harus segera ingat Tuhan ketika hati mulai keruh. Iblis datang merongrong. Langkah yang juga tak boleh berhenti adalah doa tanpa jeda pada sang pencipta, mohon petunjuk dan bimbingan hidup yang seluas-luasnya.
Perjuanga yang amat panjang dan penuh rintangan kerumitan, mesti tabah melangkah setapak demi setapak dengan sangat hati-hati. Setiap hari-hari yang dilalui dengan perbaikan diri itu nyaris tak terasa buahnya kecuali sedikit sekali, seperti helai angin di ujung dedaunan pagi. Namun sedikit demi sedikit helai keberhasilan itu berjejer, hingga kini bisa kunikmati sorga hidup seharian penuh. Begitu nikmat nafas berhembus, tak lagi terburu-buru, mengharapkan hari ini selesai dengan begitu cepat, seolah hendak memotong ketentuan jalan waktu.
Kedamaian batin bukan seperti rasa kesempatan kencan pertama, sebab ia adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam sendi-sendi jiwa.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, sekitar tiga hari berturut-turut, hari ini aku masih mampu bertahan dengan usaha belajar menjalani hidup dengan kesederhanaan.
Di ujung subuh yang mulai terang, duduk bersilaku baru selesai dengan bacaan Ratibul Haddad, biasanya di dalam kantor pensantren. Kuhirup pagi sedalam-dalamnya, kemudian menghampiri jejalan rumput-rumput liar yang tumbuh subur di halaman mushalla, nyaris selalu bersamaan dengan pendar mentari di puncak pengunungan sebelah timur. Dengan sebilah pisau khusus kupisahkan ia dengan hamparan tanah yang nyaris hilang warna sejatinya karena hijau rerumputan itu. Kunikmati aktivitas sederhana tersebut dengan penuh penghayatan, sungguh terasa bagai menggosok permukaan hati yang penuh debu, seperti mengikis kekerasan hati yang mulai berkarat. Sengaja tak kugaris waktu untuk mengakhirinya. Jika letih telah benar-benar membelenggu, kuakhiri saja dengan tenang dan lapang dada. Ruang waktu berikutnya kuisi dengan istirahat lepas beberapa titik waktu, secukupnya. Setelah itu, aku pergi memasak nasi jika kehendak menyertai. Puncaknya, kulepas kesadaran dunia dalam waktu yang cukup panjang.
Begitulah! Sangat sederhana, tapi syarat dengan kelembutan penghayatan. Itulah yang membuat dan menghadirkan kenikmatan dahsyat dalam jiwa. Sangat setuju bila dikatakan bahwa seperti apapun nafas hidup berhembus akan sangat berarti jika dihayati dan dinikmati dengan jujur dan tulus.
***
Malam datang bersama penat membingungkan. Dudukku gelisah dan tegakku kacau, bumi seperti terbalik kupijaki, tubuhku hampa terasa. Tak dapat kupastikan penyebabnya. Segalanya datang dan terjadi dengan serba tiba-tiba.
Kuputuskan menarik langkah begitu saja, menyisir jalanan sepi yang berlumur hitam kegelapan, seakan tanpa kepala. Kebelakang, kedepan dan memutar, kemudian beku terpaku dalam hiruk-pikuk sorak-sorai di bawah gemerlap cahaya lampu. Kegelapan musnah, kesenyapan pecah, kesunyian hancur. Kucoba duduk beralaskan sepasang sandal merah pudarku. Kupejamkan mata meski telinga perih, kulenturkan persendian di tengah hentakan suara-suara sumbang itu, kulepas senyum tanpa makna.
Ajaib! Hatiku mencair dan mengalir tenang kembali, menikmati suasana apa adanya, meresapi titik-titiknya dengan senyum dan kernyitan dahi sesekali.
Ada yang antusias sampai lompat-lompat dan teriak-teriak, ada yang malah duduk ngobrol seperti acuh tak acuh pada pertunjukan seni hadrah yang heboh itu. Ada juga yang hanya sibuk memelototi buku-buku yang terhampar murah di sekeliling ruangan megah itu, mungkin hendak dibeli, mungkin juga tidak. Semuanya kuperhatikan satu persatu dengan jujur dan tulus.
Rangkaian penampilan penuh daya saing untuk menjadi yang terbaik itu kemudian selesai dengan beragam rasa dan apresiasi. Santri-santri berhamburan keluar dari aula mewah, jalannya yang miring, disesaki santri-santri menuju pondok masing-masing, lumayan panjang, membuat pemandangan memuntahkan kata ‘wow!’ dari atas. Pikiran nakalku pun tiba-tiba terbayang untuk menggantung bahasa sederhana, “Mana Aku?” Pertanyaan yang menurutku cukup sukar untuk dijawab, sebab harus tahu siapa aku dan seperti apa aku, yang sebenarnya tak terlalu suka dikenal banyak orang. Selain itu, cahaya samar-samar yang lebih dekat dengan gelap itu akan semakin mempersulit untuk menemukan dan memastikan sesuatu, termasuk aku. Akhirnya aku hanya tersenyum geli menyadari pikiran aneh itu, sepertinya bodoh untuk melakukan sesuatu yang rumit untuk diselesaikan.
Malam sudah cukup tua dimakan kegelapan yang hitam. Kulambaikan langkah seirama dengan tarian sunyi angin malam diantara dedaunan dan ranting-ranting kaku, kembali kulewati ruas-ruas jalan yang pernah kutapaki dengan tanpa kepala itu. kali ini jauh berbeda, nyaris setiap langkah kusadari dan kuhayati dengan lembut dan tulus.
Kedamaian batin itu kembali kuraih. Kini aku sudah tiba di beranda kantor pesantren dan hampir menyelesaikan tulisan ini, sebentar lagi tidur.
Kedamaian batin adalah anugerah yang tak ada duanya.
Kepandaian, kecerdasan, harta, kesuksesan perjuangan, prestasi membanggakan, semuanya sia-sia tanpa sanggup menyejukkan jiwa.
Guluk-Guluk Ls, Juni 2010



Tidak ada komentar:
Posting Komentar