Capung Senja

Capung Senja



Cukup lama sudah tak kukunjugi pegunungan sore ini, tempat aku melepas segala penat yang menyelubungi ruang hati. Penguhujung hari yang benar-benar menentramkan kegelisahan, paling tidak sekedar mencoba membenarkan segala kenyataan. Inilah salah satu tempat kulalui hari-hari yang selalu sendiri dan tetap sendiri. Disinilah perenunganku kubiarkan memasuki setiap celah sunyi kehidupan. Kadang kutemukan permata kata dari ujung rerumputan segar, kadang pula keriangan masa kecilku kembali mengalun dari hitam bebatuan. Meski masa yang tanpa noda itu sempurna kuhabiskan di kampung halaman yang jauh dari pegunungan seperti ini, namun suasana pegunungan Lancaran ini begitu syahdu dan wangi, persis seperti kesyahduan dan kewangian masa diniku itu.

Senja kemudian menyihir semesta dengan warna tembaga. Hampir waktunya pulang. Kuhirup udara terakhir dengan amat dalam, lalu mulai menyeret langkah. Tiba-tiba kulihat dua orang santri kecil, mereka sibuk mencari-cari sesuatu, yang satu memotong salah satu dahan kecil, satunya lagi memegang ranting bambu kecil, keduanya sama-sama panjang. Aku bertanya dalam hati, tapi segera terjawab. Dua bocah itu mengibas-ngibaskan pegangannya masing-masing ke udara yang diterbangi capung-capung. Tampak asyik sekali, tanpa beban sedikitpun. Terbukti tawa mereka meledak sesekali.

Satu capung tergeletak tak berdaya. Namun tiba-tiba terbang kembali ketika tangan mungil itu menghampirinya.

Kudesahkan senyum tipis. Ingin rasanya aku ikut serta bersama keriangan yang mereka nikmati, tapi segera kusadari bahwa usiaku sudah lewat cukup jauh untuk menemani mereka. Dulu, sewaktu usiaku masih pagi, aku juga sering melakukannya sendiri. Masih kuingat di salah satu sore itu, ketika musim hujan seperti sekarang ini, seekor capung mungil bersayap merah bening mampu kulumpuhkan. Kegirangankupun membuncah. Fikiran nakalku lalu menggelitik geli. Pesawat terbang! Kuraih sesobek kertas kecil dan kulubangi bagian tengahnya. Jadilah sayap sang capung semakin besar. Bahkan sayap merahnya nyaris terlihat berganti sayap kertas putih buatanku itu. Pelan-pelan kulepaskan, capung itu terbang dengan sayap anehnya. Seperti tanpa mengepakkan sayap. Lucu sekali.

Semakin keras mereka kibaskan ranting pepohonan itu, hingga kujumpai bunyi seperti tebasan pedang dengan penuh amarah dan gairah melukai. Daun-daun yang masih menyatu dengan ranting itupun terlepas dan gugur ke tanah.

Batinku terasa ganjil. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Kesenangan? Ataukah memang misi pembunuhan yang mereka ikatkan pada ujung ranting itu?

Tanpa kusadari langkahku telah jauh meninggalkan keriangan mereka berdua. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan pada capung-capung yang berhasil dijatuhkan itu. Seperti yang pernah kulakukan? Entahlah! Aku justeru hawatir lebih sadis, mengingat tragedi bunuh-membunuh sudah mulai biasa terjadi. Kesadaran akan kesatuan nafas yang satu dengan nafas yang lainnya, sepertinya sudah terseret gelombang waktu.

Langkahku mulai memasuki jalan tak beraspal, menyentuh tanah-tanah lembut yang harum oleh siraman bunga-bunga langit. Hujan. Kemudian kujumpai wajah-wajah kusam tak bercahaya. Seperti ada seberkas kegelisahan yang lebih memancarkan aura kekecewaan. Tak sempat kutelusuri mengapa atau kerena apakah itu terjadi. Yang pasti mereka tidak sedang menikmati kehangatan sore, juga ketentraman bias senja. Sore yang jernih, senja yang lembut.
O, rupanya mereka terluka karena mereka masing-masing. Mereka tak kuasa menerima dan berusaha menikmati kenyataan-kenyataan getir itu. Getir karena tidak sejalan dengan asa yang mereka bangun sendiri.

Aku jadi teringat satu capung dewasa yang terbang tanpa sayap buatanku, karena lubangnya terlalu lebar. Sangat kecewa. Padahal jika kubiarkan ia terbang dengan sayapnya sendiri dan kunikmati apa adanya, tentu lebih indah dan bermakna.
Tragedi sayap capung dan kekecewaan yang pernah kumiliki di sudut senja waktu itu …kini kembali mengalun dalam ingatan. Namun aku sanksi, mungkinkah apa yang baru saja kulewati persis seperti waktu itu?

Guluk-Guluk, 01 Maret 2010



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Warid, Published at 00.40 and have 0 komentar

Tidak ada komentar: